BESTTANGSEL.COM, JAKARTA – Indi Genous (16), tampak bersemangat melakukan konsultasi dengan stand-stand informasi berbagai universitas di Belanda melalui event Holland Scholarship Day (HSD) 2019, yang dihadirkan Nuffic Neso Indonesia, di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, pada Sabtu (19/01/2019). Indi adalah salah satu dari seribu peminat pendidikan tinggi di Belanda yang hadir dalam HSD ke-6 tersebut.

Indi yang saat ini masih tercatat sebagai siswa kelas XII SMU Global Islamic School Condet ini, berharap bisa melanjutkan pendidikannya di Belanda.  “Kebetulan ayah saya pernah melakukan kunjungan ke Wageningen University di Belanda untuk melihat secara langsung proses pendidikan di sana. Dia mengatakan bahwa pendidikan di Belanda sangat bagus dan menyarankan saya untuk melanjutkan pendidikan di Belanda. Saat ini saya sudah mendaftar tinggal menunggu panggilan saja,” tutur Indi yang tertarik untuk mengambil bidang studi Hubungan Internasional.

Indi Genous, pelajar GIS yang tertarik dan sudah mendaftarkan diri pada salah satu universitas di Belanda.

Holland Scholarship Day (HSD) Merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia. Di perhelatan tahunan ke 6 ini, menandai 20 tahun sudah perjalanan program beasiswa StuNed dari Pemerintah Kerajaan Belanda untuk Republik Indonesia. Acara tersebut menyediakan informasi dan konsultasi langsung tentang berbagai opsi beasiswa studi ke Belanda.

(Kiri) Indy Hardono, Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, (kanan) Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl.

Dalam kegiatan tersebut, Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl, mengatakan Belanda memiliki nilai lebih sebagai negara tujuan studi bagi pelajar Indonesia, dikarenakan faktor sejarah, budaya, dan hubungan bilateral yang erat dan komprehensif.

“Hal ini memberikan suatu zona nyaman bagi pelajar-pelajar Indonesia,” ujarnya.
Kepala Bagian Politik Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia, Roel van der Veen, saat membuka kegiatan tersebut menekankan, hubungan erat antara Belanda-Indonesia di bidang pendidikan sudah dirintis sejak zaman pra kemerdekaan. Bahkan tidak sedikit para pemimpin nasional mengenyam pendidikan di Belanda, seperti Muhammad Hatta dan Ki Hajar Dewantara.

“Bahkan tokoh-tokoh penting pemerintah, seperti Menlu Retno Marsudi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, tercatat sebagai alumni Belanda,” terangnya.

Roel menitikberatkan pentingnya studi ke luar bukan hanya untuk mencari ilmu, terpenting adalah membuka wawasan dan merubah pola pikir. Ia juga mendorong semua pencari beasiswa supaya tidak mudah menyerah karena banyak sekali beasiswa yang ditawarkan dari berbagai pihak untuk sekolah di luar negeri.

Ia juga menyampaikan, seorang pelamar beasiswa perlu mendapatkan informasi yang lengkap, bukan hanya tentang persyaratan, tetapi lebih jauh lagi tentang latar belakang dan tujuan dari setiap beasiswa. Sehingga dapat membantu mempertajam motivasi.
“Hal ini yang biasanya kurang disadari oleh para pencari beasiswa yang biasanya hanya berfokus pada usaha memenuhi persyaratan semata,” katanya.

Hal senada diungkapkan Indy Hardono, Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, menjelaskan faktor-faktor penyebab kegagalan beasiswa, terutama ketidaksiapan dan kekurang seriusan. Hal ini biasanya terlihat dari tidak lengkapnya dokumen dan kualitas motivation statement.
Program beasiswa StuNed yang dibuka sejak tahun 2000, menerapkan skema full coverage. Bahkan menghasilkan 4.500 alumni dari berbagai disiplin ilmu. Para calon mahasiswa yang terpilih sebagai pemenang untuk mendapatkan beasiswa StuNed akan langsung memulai kuliahnya di Belanda pada September yang akan datang.

 

Asri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.