BESTTANGSEL.COM, TANGERANG – Pagi itu, Kamis 1 Agustus 2019, suasana jalan Imam Bonjol Cibodas Kota Tangerang dikejutkan dengan kejadian memilukan. Telah terjadi kecelakaan maut antara truk pengangkut tanah dengan mobil pribadi berjenis Daihatsu Sigra. Keempat korban tersebut diketahui bernama Fatmawati atau Ifat (27), Wandi (22) dan Nanda (24) yang hendak berbelanja ke Pasar Tanah Abang dengan menggunakan jasa transportasi online yang dikemudikan Eddy (45).

Beruntung putri Ifat, bayi berusia 11 bulan bernama Aisyah berhasil tertolong nyawanya. Dihimpun dari berbagai sumber, ada seorang saksi yang melihat langsung sebelum tewas Ifat sempat berusaha mengeluarkan Aisyah dari kaca mobil yang dalam keadaan tertimpa badan truk tanah. padahal menurutnya, Ifat duduk di belakang sopir yang merupakan tempat tertimpa truk tanah paling parah.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ini yang dialami oleh Rico (36) suami dari Ifat, wanita yang menjadi korban kecelakaan maut tersebut. mendapat kabar bahwa istri tercintanya mengalami kecelakaan dan meninggal membuat Rico syok dan terpukul.

“Yang meninggal tidak hanya istri saya tetapi juga dua adik ipar yang sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Padahal malam sebelum kejadian kami sempat ngobrol bareng,” tutur Rico saat disambangi di tahlil pengajian malam ke-6 wafatnya Fatmawati, Nanda dan Wandi.

Rico dan Kayla.

“Luar biasa sedihnya, apalagi kalau lihat anak-anak (Kayla, 6 tahun dan Aisyah 11 bulan). Kayla tahu kalau mama nya meninggal, dia histeris ketika jenazah mama nya tiba di rumah. Mendengar tangisan Kayla memanggil-manggil mama nya, hati saya hancur. Belum lagi mendengar tangisan Aisyah, karena masih ASI sekarang dipaksakan susu formula. Betul-betul membuat saya bingung, saat ini masih banyak keluarga menemani kami, bagaimana besok kalau semua sudah pada pulang,” ucap Rico lirih.

Menurut Rico, malam sebelum kejadian tersebut, sang istri Ifat membuat makanan kesukaannya. “Malam itu, buatkan saya ketan kuah durian. Dia tahu ini adalah makanan kesukaan saya. Kebetulan sehari sebelumnya tepatnya tanggal 29 Juli saya berulang tahun. Sambil menyendokan saya ketan durian dia berkata maaf kepada saya, karena tidak bisa membelikan kado istimewa, tapi dia berjanji akan selalu menjadi istri soleha.”

“Ketika hendak tidur, di ranjang pun sambil memeluk saya, dia meminta maaf lagi kepada saya dan mengulang apa yang dikatakannya sore tadi. Akhirnya saya katakan kepadanya bahwa saya sangat berbahagia memiliki istri secantik dan sebaik dia, dan anak-anak adalah kado terindah bagi saya. Di hadapannya saya berjanji akan menjaga dan membesarkan anak-anak dengan baik. Saya nggak nyangka ini adalah obrolan terakhir saya dengan dia.”

“Subuh sebelum kejadian, kami bangun seperti biasa. Saya sholat di Masjid, Ifat di rumah. Usai sholat saya perhatikan  sibuk membuat sarapan, menyiapkan baju untuk saya dan Kayla. Saya tahu bahwa hari ini adalah jadwal dia dan dua adiknya untuk berbelanja barang dagangan. Kami memang punya usaha perniagaan, dia memiliki toko sendiri, toko busana, kebetulan dia sejak muda memang hobi berdagang.”

“Entah kenapa pagi itu hati saya serasa berat melepas dia berbelanja. Tapi saya tepis rasa itu. Biasanya kalau dia mau pergi saya tidak pernah mengantar sampai ke pintu pagar, tapi hari itu lain, saya antarkan dia hingga ke pintu, dan saya melihat dia berjalan hingga ke mobil, saya berharap dia menengok ke belakang untuk melihat saya, tetapi itu tidak terjadi.”

“Itu terakhir kali saya melihat dirinya. Dia pergi meninggalkan saya dan anak-anak, padahal tinggal beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke 7 tahun. Dan kami berdua sempat berencana untuk menunaikan ibadah haji,” kata Rico yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

“Ifat istri yang baik, anak yang baik, teman yang baik dan humoris. Dia selalu aktif di lingkungan maupun di pasar tempatnya berdagang. Banyak yang merasa kehilangan dia. Tapi kita semua tidak ada mendapat firasat kecuali ibunya di Padang. Menurut mertua saya, ibunya Fatimah, dia bermimpi ada dua mobil ambulance di rumahnya, dan sejak mimpi itu dia merasa tidak enak, seperti akan ada sesuatu yang terjadi katanya, tetapi dia tidak menyangka jika harus kehilangan tiga orang anak sekaligus, Fatimah adalah anak kedua, Wandi ketiga dan Nanda anak bungsunya.”

“Meski sedih kami harus ikhlas demi mereka di alam sana. Kami berharap tersangka bisa mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kelalaiannya. Dan pemerintah mau berlaku tegas dengan tata tertib lalu lintas, sehingga tidak akan ada lagi korban berikutnya.”

“Baru beberapa hari ditinggalkan Fatimah, saya sudah merasa berat, bagaimana menjaga anak-anak saya, membereskan rumah, masak dan semua urusan rumah tangga yang biasanya dikerjakan Ifat. Tapi Ifat telah mengamatkan anak-anak kepada saya, dia percaya saya bisa menjaga mereka, hingga akhir hayatnya dia ingin anak kami Aisyah selamat dan bisa hidup bersama saya,” tutup Rico dengan mata berkaca-kaca. (****)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.