BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan – Sebagai kota suburban dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan telah membuka peluang usaha bagi para pelaku usaha untuk menggagas ide bisnis baru, tidak terkecuali bisnis di bidang kuliner. Namun begitu, diperlukan kreatifitas dan inovasi agar mampu bersaing dan memiliki pangsa pasar, sehingga usahanya dapat sustainable dan terus berkembang.

Peluang inilah yang dilihat  oleh Aisyah Hafiza atau yang kerap disapa Echa. Wanita yang masih berusia 24 tahun ini, bersama kelima temannya yaitu Fernald Albert Wiguna, Charles Tantiono, Deninda Fairuzahra, dan Andika Adidharma menggagas ide untuk membuat satu usaha kuliner yang unik.

“Berawal dari tugas akhir kampus sebagai syarat lulus untuk meraih gelar sarjana dari Universitas Prasetya Mulya di BSD, saya bersama kelima teman memilih usaha membuka sebuah restoran atau rumah makan yang saat ini dikenal dengan nama “Wakacao”. Dan kebetulan kami semua juga memiliki cita-cita yang sama yaitu setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, kami ingin berwiraswasta dan tidak ingin menjadi pekerja kantoran”, ungkap Aisyah Hafiza.

Menurut Echa, tidak mudah menggagas sebuah ide yang mampu diterima dan mendapat kepercayaan dari publik. “Butuh waktu  satu tahun untuk merancang dan menyiapkan konsep dari ide kami ini. Bahkan selama kurang lebih enam bulan, kami merumuskan resep dari makanan yang akan kami tawarkan kepada konsumen. Beberapa kali kami membuat dan mencoba serta merancang bagaimana cita rasa yang sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia.”

Sajian kuliner dengan cita rasa Nusantara menjadi modal perjuangan Echa dan kawan-kawan, ketika memutuskan untuk membuka gerai kuliner “Wakacao”. Kuatnya cita rasa inilah yang akhirnya menjadi salah satu kunci kesuksesan “Wakacao”. Sejak resmi dibuka 2016 hingga akhir 2017, Wakacao telah memiliki 16 cabang, dan direncanakan akan hadir 15 cabang baru Wakacao di 2018.

Gerai Wakacao di Pasar Modern BSD City Tangsel.

Namun dibalik kesuksesan Wakacao, tersimpan perjuangan yang tidak mudah bagi Echa dan teman-temannya. “Menentukan lokasi tentu menjadi point utama untuk memulai sebuah usaha. Usaha kuliner sangat rentan saat menentukan lokasi yang akan dipilih dalam memulai bisnis food and beverage. Awal mula, saya dan teman-teman memilih lokasi di kawasan Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Seperti banyak diketahui, wisata kuliner dikawasan tersebut sangat mudah mendapatkan pangsa pasar. Sayangnya, saat hendak memulai gerai Wakacao, kami  ditipu oleh pihak yang mengelola lapak dikawasan tersebut. Ternyata kawasan tersebut milik pemerintah dan akan dibangung stasiun MRT Jakarta. Padahal kami telah membayar lapak sebesar Rp 36 juta,” kenang Echa.

Mengalami ujian di awal usaha hamper saja membuat Echa dan dan kawan-kawannya menyerah,  namun berkat tekad dan niat yang masih kuat dipegang, mereka pun kembali bangkit dan bersemangat sampai akhirnya menemukan lokasi yang pas untuk memulai usaha baru mereka, yakni di Pasar Modern BSD City Tangerang Selatan.

Ibarat menembak, bidikan Echa dan teman-temannya untuk memulai usaha di Pasar Modern BSD City ternyata tepat mengenai sasaran. Dari sinilah Echa Wakacao berkembang hingga sukses seperti sekarang.

“Modal awal sebesar Rp50 juta, dan masing-masing orang memberikan modal sebanyak Rp 10 juta. Satu bulan pertama, Wakacao sama sekali tidak menghasilkan laba, karena hanya sedikit pengunjung yang datang. Rasa cemas dan pasrah akan hilangnya modal yang ditanamkan sudah semakin besar, tapi hati kecil terus berharap agar Wakacao harus tetap berjalan,” ucap Echa.

Lanjut Echa, “Bulan kedua, promosi dilakukan dari program buy one get one serta menyebar brosur kepada teman-teman kuliah pun dilakukan. Tak hanya itu, kami pun melakukan promosi dari mulut ke mulut agar publik mengetahui kehadiran Wakacao. Hingga akhirnya kami bersyukur Wakacao bisa menarik banyak pelanggan.”

Saat ini Wakacao telah tersebar di beberapa lokasi mulai Tangerang, Jakarta hingga Bandung. “Untuk setiap gerai Wakacao memberikan omset sebesar Rp 270 juta hingga Rp 280 juta per bulan atau Rp 8 juta hingga Rp 9 juta per hari.  Selain memiliki cita rasa yang sesuai dengan lidah orang Indonesia,  Wakacao memiliki harga yang sangat pas bagi kantong mahasiswa yaitu dari Rp 32.000 hingga Rp 35.000,” ujar Echa yang pada tahun 2017, mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 2,4 Miliar, dengan laba 30 persen.

Bagi Aisyah dan teman-temannya, Pasmod BSD memiliki peran dan sejarah terhadap kesuksesan yang telah dicapai saat ini, sehingga membuat Wakacao dikenal masyarakat luas.  Wakacao yang menyajikan beef pepper rice dengan hot plate, ternyata sangat disukai para pencinta kuliner khususnya pengunjung Pasar Modern BSD City Tangsel. Berkat kegigihan dan keuletan Echa dan teman-temannya,  kini Wakacao menjadi salah satu tujuan favorit para pengunjung Pasar Modern BSD City Tangsel.

Sukses yang diraih Wakacao tentu saja berdampak positif bagi Pasar Modern BSD City, karena secara otomatis akan menambah jumlah pengunjung, dengan tujuan berbelanja sekadar berwisata kuliner.

“Kerja keras dan pantang menyerah tidak akan pernah mengkhianati hasil akhir dari usaha yang dilakukan,” tutup Aisyah atau Echa di akhir ceritanya.

 

 

Asri

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.