BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan – Sejak beberapa decade belakangan kita senantiasa berhadapan dengan perubahan yang luar biasa, terutama karena dipicu oleh kemajuan dan persebaran teknologi informasi dan komunikasi, termasuk dalam dunia kuliner. Singkatnya, kini kita dihadapkan dengan cara konsumsi baru, yang suka atau pun tidak, sedang mentransformasi kehidupan kita. Beranjak dari hal itu “Etnokopi” hadir untuk menyuguhkan kopi yang tidak hanya sekedar nikmat untuk diteguk, tetapi juga ditela’ah, dan ditelusuri darimana dan bagaimana kopi itu itu hadir.

“kisah kopi terentang panjang kebelakang, melampaui masa 500 tahun lebih. Kisah itu bermula dari sebuah desa perbukitan di Etiopia, bergerak ke Mocha, wilayah pesisir di Arabia, hingga pada akhirnya sampai di daerah katulistiwa: Java. “A Cup of Java”,demikian orang-orang Eropa pada awal abad 18 mulai menyebut kopinya. Kopi-kopi mereka memang sebagian besar diproduksi di Jawa, pulau yang menjadi salah satu surga bagi pertanaman kopi dunia, karena tidak saja produktivitasnya, akan tetapi juga kekayaan dan keunikan aroma dan rasanya. Robusta ataupun Arabika, ketika diproduksi di Jawa, akan selalu menunjukkan kekayaan aroma dan rasa. Namun sayangnya, tak banyak penikmat kopi yang mengetahui sejarahnya, untuk itulah Etnokopi ada,” tutur Hery Santoso, seorang antropologi sekaligus penggagas didirikannya Etnokopi di BSD City Tangerang Selatan.

Buka di deretan Ruko Paris Square yang berlokasi di Jalan Letnan Soetopo, BSD City Tangsel, Etnokopi akan menjadi tempat yang bisa membuka wawasan baru bagi penikmat kopi Nusantara.

“Ada suatu masa ketika kopi hanya dikonsumsi oleh kalangan elit, mereka yang tidak menjadi bagian dari budaya publik. Kopi dipandang sebagai minuman yang bisa membangkitkan aspirasi dan kesadaran kritis, dua hal yang dikhawatirkan bisa mengganggu hegemoni kekuasaan. Itulah mengapa pada awalnya produksi dan persebaran kopi cenderung dimonopoli oleh kalangan penguasa, seperti pemerintah kolonial yang pernah memonopoli produksi dan perdagangan kopi nusantara, tidak terkecuali di wilayah tiga gunung di bagian Barat (Gayo), Tengah (Temanggung), dan Timur (Papua). Kopi dan segala kisahnya dari tiga gunung itulah yang sengaja dipilih Etnokopi untuk menjadi debutan, tentu saja karena alasan keutuhan keindonesiaan dari Barat hingga keTimur,” ungkap Heri.

Tidak hanya menyajikan Kopi dengan segala literasinya, Etnokopi juga bisa mendatangkan inspirasi imajinasi lewat sajian puisi dan fotografi yang berbaris rapih di dinding, di semua ruang, di Etnokopi.

“Kami sengaja menata setiap ruang dengan artistik, dengan mengadopsi gaya kolonial tempo doeloe, serta dilengkapi dengan barang-barang antik. Kami berharap pengunjung Etnokopi khususnya para pencinta kopi bisa mendapatkan imajinasi, dan yang terpenting merasa nyaman sehingga bisa kembali ke Etnokopi. Di sini juga tersedia berbagai sajian kuliner yang pas untuk menemani sajian kopi,” tutur Camilla Jasmine Silvana, Direktur Etnokopi.

Mengawali debutnya, Etnokopi pun tak segan berbagi. Tidak hanya kepada para penikmat kopi, di awal pembukaanya, Minggu 25 Maret 2018, Etnokopi pun memberi 1.000 bibit kopi kepada para petani di desa Sarongge, Puncak Cipanas Jawa Barat. “Hal ini karena para pendiri Etnokopi menghargai sustainability, dengan menjaga lingkungan dan kearifan lokal,” ujar Abdurachman Direktur Utama Etnokopi.

Pemberian bibit kopi kepada petani sarongge diinisiasi oleh salah seorang pakar jurnalis yang juga pecinta lingkungan hidup dan pendiri Negeri Kopi Tangsel, Tosca Santoso.

“Nantinya bibit ini akan ditanam di kaki Gunung Gede Jawa Barat. Ini adalah bukti bahwa Etnokopi berkomitmen untuk kembali membangun kejayaan negeri melalui komoditas kopi,” pungkas Tosca , yang di apresiasi oleh budayawan Achmad Sobari.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.