BESTTANGSEL.COM, TANGSEL- Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Selatan, Maria Teresa Suhardja, kembali membagikan buku tulis kepada para pelajar di sejumlah lembaga pendidikan di Kota Tangerang Selatan.
Dalam sepekan terakhir, sebanyak 5.000 buku tulis telah dibagikan kepada siswa mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga santri di sejumlah pondok pesantren di wilayah Tangerang Selatan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian Maria Teresa terhadap pendidikan sekaligus upaya sederhana untuk mendorong penguatan budaya literasi di kalangan anak dan generasi muda Tangsel.
Menurut Maria Teresa, kebutuhan seperti buku dan alat tulis kerap dianggap sederhana. Namun, bagi keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi sulit, kebutuhan tersebut tetap dapat menjadi beban.
Hal ini menjadi semakin relevan dengan pemberitaan disalah satu online nasional mengenai seorang anak SD yang disebut tidak mampu membeli buku dan pena, dengan nilai kebutuhan yang bahkan kurang dari Rp10.000. Bagi Maria Teresa, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa akses terhadap kebutuhan dasar pendidikan tidak boleh dipandang sebelah mata.
“Buku tulis mungkin sederhana, tetapi bagi seorang anak, buku adalah bagian dari proses mereka belajar, menulis, berpikir, dan mengembangkan cita-cita. Kita tidak boleh menganggap kebutuhan pendidikan sebagai sesuatu yang tidak penting,” ujar Maria Teresa.
Ia menegaskan, pembagian 5.000 buku tulis tersebut bukan dimaksudkan sebagai solusi atas seluruh persoalan pendidikan dan literasi di Tangsel. Namun, langkah tersebut merupakan bentuk nyata untuk mengambil bagian dari kebutuhan anak-anak di lapangan.
“Ini adalah langkah kecil. Tetapi saya percaya perubahan juga bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten,” katanya.
Maria Teresa juga menilai penguatan literasi harus menjangkau seluruh jenjang pendidikan. Karena itu, pembagian buku tidak hanya dilakukan di sekolah dasar dan menengah, tetapi juga menyasar pondok pesantren.
“Anak-anak kita, baik yang belajar di SD, SMP maupun di pondok pesantren, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan belajar dan berkembang. Kita ingin budaya membaca dan menulis tumbuh di semua lingkungan pendidikan,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak pihak yang ikut mengambil peran dalam mendukung pendidikan dan literasi di Kota Tangerang Selatan.
“Jangan sampai seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar hanya karena tidak memiliki buku untuk menulis. Kalau kita mampu membantu, mari kita bantu. Karena dari sebuah buku tulis, bisa lahir sebuah gagasan, cita-cita, dan masa depan,” pungkas Maria Teresa. (Red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.