BESTTANGSEL.COM, Balikpapan – Dampak pandemi Covid 19 ini memang luar biasa dan dialami oleh semua kalangan mulai dari anak-anak, orangtua, bahkan sampai lansia sekalipun. Tidak sedikit keluhan datang dari orangtua murid yang mengkhawatirkan perkembangan anaknya karena banyak beraktivitas dirumah. Tapi, para orang tua tak perlu khawatir selama orang tua menerapkan pengasuhan/pendekatan yang tepat pada anak permasalahan-permasalahan psikologis yang terjadi pada anak dapat diatasi dengan baik.

Psikolog klinis, Patria Rahmawaty, S.Psi, M.MPd, Psi, yang juga berprofesi sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi dan PNS membenarkan adanya perubahan psikologis anak dalam persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah nantinya.

“Mengingat anak-anak sudah lebih dari setahun melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring, dengan mengandalkan sambungan internet,” tutur Rahma, psikolog klinis dari Siloam Hospitals Balikpapan Kamis (01/07/2021) melalui edukasi webinar awam di Balikpapan.

Psikolog klinis, Patria Rahmawaty, S.Psi, M.MPd, Psi.

Menurut Psikolog Rahma, pada tahap ini anak cenderung bersikap egosentris hingga ada kecenderungan untuk membandingkan dirinya, dengan orang lain seperti saat ia melihat temannya melakukan sesuatu yang tidak dilakukan, maka akan muncul perasaan rendah diri oleh karena itu anak diajak untuk peka pada keadaan sekitarnya salah satunya saat nanti mulai pembelajaran tatap muka anak harus dapat beradaptasi dengan situasi yang ada saat ini seperti taat prokes, menjaga kesehatan dan tetap fokus untuk belajar. Anak diajak untuk dapat bersikap mandiri saat di sekolah.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei China serta melibatkan 2.330 anak sekolah, yang membuktikan bahwa anak-anak usia sekolah yang mengalami karantina proses belajar akibat Covid-19 menunjukkan beberapa tanda-tanda tekanan emosional.

“Karena selama ini biasanya dilayani dirumah, jadi pada saat sekolah maunya dilayani juga, kemudian merasa dirinya lebih dibandingkan anak lain,” papar Rahma.

Bahkan, penelitian lanjutan dari observasi tersebut menunjukkan 22,6% dari anak-anak yang di observasi mengalami gejala depresi dan 18,9% mengalami kecemasan. Hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu 72% anak-anak Jepang merasakan stress akibat Covid-19.

Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat, investigasi yang dilakukan oleh Centre for Disease Control (CDC) menunjukkan 7,1% anak-anak dalam kelompok usia 3 sampai 17 tahun telah didiagnosis dengan kecemasan, dan sekitar 3,2% pada kelompok usia yang sama menderita depresi.

Terangkan Kondisi yang Sesungguhnya, Ubah Ritme Aktifitas

Di Indonesia, Implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah ini tentunya berdampak signifikan pada kesehatan mental siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi. Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 (BNPB,2020) menunjukkan bahwa 47% anak Indonesia merasa bosan dirumah, 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15% anak merasa tidak aman, 20% anak merindukan teman-temannya dan 10% anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga.

Untuk itu Rahma menyarankan sebaiknya 2 minggu sebelum kegiatan PTM dilaksanakan, maka biasakan anak mulai dengan bangun pagi setiap hari dan tidur malam tidak lewat dari jam 21.00 mengerjakan tugas sendiri, mempersiapkan dan membereskan barang dan alat untuk belajar. Karena yang sering terjadi sekarang anak terbiasa dengan tidur hingga larut malam dan sering berinteraksi dengan gadget atau bermain games untuk mengusir kejenuhan mereka.

“Sampaikan kepada anak untuk bersikap peka dan peduli dengan orang disekitarnya, koordinasi dan komunikasikan yang baik bersama pihak sekolah, jangan percaya berita hoaks, sebaiknya cari informasi berita dari sumber yang dipercaya,” pungkas Rahma.

Adapun untuk para orangtua, siapkan adaptasi anak menghadapi PTM dengan membantu anak mengelola kondisi stress mereka, pantau kesehatan, terapkan prokes secara konsisten, jangan takuti anak dengan kondisi yang ada saat ini.

Dan untuk para anak atau siswa agar bisa memahami situasi yang saat ini terjadi, bicarakan dan bersikap terbuka pada orangtua tentang perasaan yang dialami selama PTM, tetap berkomitmen untuk menerapkan prokes selama disekolah, jangan menstigmatisasi teman atau orang sekitarnya yang sedang sakit.

Sedangkan pihak sekolah dan guru Bimbingan Kesiswaan (BK) pastikan untuk mendengarkan kekhawatiran siswa dan menjawab pertanyaan mereka, memotivasi siswa untuk tetap fokus belajar dan dengan keterbatasan waktu dikelas, mengubah metode belajar yang tidak menimbulkan kecemasan pada siswa, memasukkan pendidikan kesehatan yang relevan ke dalam materi pelajaran lain guna menambahkan pengetahuan dasar siswa siswi.

Penting dalam keluarga untuk selalu menciptakan suasana yang mengalirkan energi positif seperti menciptakan suasana bahagia dan tenang disituasi seperti ini karena hati yang gembira adalah obat, rasa bahagia yg ditumbulkan tersebut akan menjadi salah satu peningkat imun kita agar anak pun merasa bahagia dan termotivasi belajar meskipun disituasi pandemi. (Red/**)

Leave a Reply