BESTTANGSEL.COM, SERPONG- Sejak dipercaya menjadi Koordinator Pengembangan Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah meluncurkan beberapa produk terkait kesehatan. Di antaranya, Samarium (Sm) 153 ETDMP, sebagai obat terapi paliatif atau penghilang rasa sakit pada penderita kanker selama 1-2 bulan, kit radiofarmaka MIBI yang digunakan untuk mendeteksi fungsi jantung, kit radiofarmaka MDP yang difungsikan untuk mengetahui adanya kanker tulang primer maupun metastase tulang, kit radiofarmaka DTPA untuk mengetahui fungsi ginjal dan MIBG bertanda I-131 untuk terapi kanker neuroendokrin. Dan yang terbaru diluncurkan adalah Teknisium-99m (Tc-99m) sebagai alat deteksi sel kanker. Sayangnya, produk hasil temuan BATAN tersebut masih belum bisa diserap oleh masyarakat luas.

Selain belum banyaknya Sekolah Tinggi Nuklir di Indonesia, faktor ijin edar juga menjadi kendala dalam menghilirisasi produk temuan BATAN di bidang kesehatan tersebut. Terkait hal itu, Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan menjelaskan, “Izin edar ini akan bergantung banyak hal, karena izin edar yang mendaftarkan bukan Batan. Batan hanya menghasilkan prototype yang akan ditransfer ke pihak BUMN atau yang lainnya. Memang begitu aturannya, Batan sebagai lembaga litbang tidak akan berbisnis,” terang Anhar dalam media briefing di Serpong, Oktober 2020 lalu.

Namun demikian menurut Anhar, BATAN telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan farmasi, antara lain PT. Kimia Farma, PT. Kalbe Farma dan PT. Industri Nuklir Indonesia (PT. INUKI) untuk menghilirisasikan produk radiofarmaka ke masyarakat yang membutuhkan.

Adapun manfaat kegunaan produk tersebut dijelaskan Kepala Bidang Teknologi Produksi Radioisotop, PTRR BATAN, Rohadi Awaludin, dalam pertemuan para penyitas kanker beberapa waktu lalu, menjelaskan sebagai berikut:

Yang pertama adalah Kit MIBI, berfungsi untuk mendiagnosis fungsi jantung dan mengevaluasi fungsi otot jantung. Jika teknik pencitraan medis biasa hanya dapat melihat perubahan anatomi atau massa jantung, maka hasil pencitraan menggunakan MIBI memberikan informasi yang lebih akurat mengenai fungsi jantung.

“Jadi yang dilihat adalah fungsinya. Walapun bentuk jantung tidak berubah, dengan MIBI, kita bisa mengetahui bagian atau otot jantung mana yang tidak berfungsi, sehingga menjadi gambaran bagi dokter tindakan selanjutnya apa yang akan dilakukan dengan kondisi jantung tersebut,” jelasnya.

Yang kedua adalah Kit MDP, yang berfungsi mendiagnosis sejauh mana penyebaran kanker di dalam tulang, yang digunakan dalam penentuan stadium penyakit kanker, sehingga menjadi gambaran bagi dokter untuk langkah pengobatan selanjutnya. Menurut Rohadi, ketersediaan Kit MDP paling banyak dibutuhkan oleh rumah sakit dibandingkan 4 produk radiofarmaka lainnya.

Produk ketiga yaitu DTPA, yang dapat mendiagnosis fungsi ginjal untuk memberikan informasi yang lebih akurat tentang kondisi ginjal pasien yang sangat berguna dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Keempat, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP atau samarium, yang digunakan untuk terapi paliatif atau mengurangi rasa nyeri kepada penderita kanker, terutama sel kanker yang sudah menyebar ke organ tubuh lain (metastasis). “Penggunaannya dapat mengurangi rasa nyeri akibat kanker hingga satu bulan”, terang Rohadi.

Kelima yaitu Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG, digunakan untuk mendiagnosis kanker neuroblastoma atau sistem saraf pada anak-anak. Sedangkan Teknisium penggunaannya akan dimasukkan ke dalam tubuh bersama dengan obat untuk melakukan diagnosis.

“Teknisium ini sebagai penanda karena dia mengeluarkan radiasi yang bisa p oleh detektor. Dari detektor itu bisa diolah hingga keluar gambar tiga dimensi sehingga bisa diketahui misalnya ukuran sel kanker dan bentuknya sepeti apa. Jika sel kanker sudah ketahui bentuk dan ukurannya, fisikawan medis bisa menghitung berapa dosis dan arah saat melakukan penyinaran radiasi. Jika dosisnya berlebihan, tak hanya sel kanker saja, sel sehat juga bisa terkena radiasi,” ujar Anhar menambahkan.

Anhar juga menjelaskan, “Produk Tc-99m ini dihasilkan melalui proses iradiasi uranium menggunakan metode reaksi fisi (pembelahan). Bahan dasarnya uranium yang kita masukkan ke dalam reaktor untuk diiradiasi. Karena uranium ini berinteraksi dengan neutron maka ada reaksi fisi. Salah satu produksi fisi adalah Molibdenum-99 (Mo-99) yang kemudian meluruh menjadi Teknisium,” tuturnya.

Menurut Anhar, teknologi baru pembuatan Tc-99m yang sedang dikembangkan Batan tidak menggunakan uranium maupun fisi, tetapi menggunakan aktivasi Mo dari alam yang bukan radioaktif. Saat dimasukkan dalam reaktor dan diiradiasi dengan neutron, Mo tersebut akan menjadi Mo-99 radioaktif yang kemudian meluruh menjadi Tc-99m.
Perbedaanya, dengan aktivasi Mo alam tidak ada produk fisi dan tidak menggunakan uranium. Jika menggunakan uranium, selain Mo akan menghasilkan produk fisi berupa radioaktif lain yang harus diurus secara hati-hati.

“Kalau dengan Mo alam tadi tidak ada produk fisinya, kalau ada pengotornya akan segera hilang. Jika dengan produk fisi akan menjadi limbah, sementara Mo alam limbahnya hampir nol, kalaupun jadi radioaktif umurnya pendek,” papar Anhar.

“Intinya, BATAN akan terus berkontribusi dalam pemanfaatan nuklir bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tutup Anhar.

(Ashri)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.