BESTTANGSEL.COM, Tangsel – Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai fase perbaikan kesehatan metabolik bagi penyandang diabetes. Dengan pendekatan medis yang tepat, puasa justru berpotensi membantu mengontrol gula darah, berat badan, hingga risiko komplikasi jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Prof. dr. Hari Hendarto, Sp.PD, Subsp.EMD (K), Ph.D, MARS, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes di Eka Hospital BSD, saat menggelar buka puasa bersama rekan media, pada Selasa, (3/3).
Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengatur ulang pola makan, hormon, dan metabolisme tubuh.
“Bagi penyandang diabetes tipe 2 yang terkontrol, puasa bisa menjadi momentum untuk memperbaiki sensitivitas insulin dan pola hidup. Namun tetap harus melalui evaluasi medis terlebih dahulu,” ujar Prof. Hari.
Puasa dan Risiko Gula Darah
Diabetes merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi akibat gangguan produksi atau kerja insulin. Saat berpuasa, perubahan jam makan dan konsumsi obat berpotensi memicu dua risiko utama, yakni hipoglikemia (gula darah di bawah 70 mg/dL) dan hiperglikemia (lonjakan gula darah berlebihan).
Hipoglikemia biasanya terjadi pada siang hari akibat keterlambatan makan atau dosis obat yang tidak disesuaikan. Sementara hiperglikemia kerap muncul setelah berbuka karena konsumsi makanan manis dan berlemak secara berlebihan.
Karena itu, Prof. Hari menekankan pentingnya persiapan 2–4 minggu sebelum Ramadan untuk menilai kondisi gula darah, fungsi ginjal, dan risiko komplikasi.
Siapa yang Boleh dan Tidak Boleh Berpuasa?
Secara umum, penyandang diabetes tipe 2 dengan gula darah stabil diperbolehkan berpuasa. Namun, pasien dengan risiko tinggi seperti diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol, penderita gagal ginjal, atau ibu hamil dengan diabetes, memerlukan pertimbangan khusus dari dokter.
“Setiap pasien memiliki kondisi unik. Tidak bisa disamaratakan,” tegasnya.
Dampak Positif Puasa pada Diabetesi
Jika dijalankan dengan disiplin, puasa dapat memberikan beberapa manfaat kesehatan, antara lain:
*Meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga sel tubuh lebih efektif menyerap glukosa.
*Menurunkan berat badan dan lemak visceral, faktor utama resistensi insulin.
*Membantu perbaikan HbA1c, yaitu rata-rata gula darah dalam tiga bulan terakhir.
*Menjaga kesehatan jantung, dengan perbaikan tekanan darah dan profil kolesterol.
Menurut Prof. Hari, perubahan pola makan selama Ramadan bisa menjadi titik awal transformasi gaya hidup yang lebih sehat jika dipertahankan setelah bulan puasa.
Strategi Aman Puasa bagi Diabetesi
Agar puasa berjalan aman, berikut beberapa strategi yang disarankan:
1. Pantau gula darah secara rutin pada pagi, siang, dan sore hari. Pemeriksaan gula darah tidak membatalkan puasa.
2. Cukupi kebutuhan cairan dengan pola 2-4-2 untuk mencegah dehidrasi.
3. Batalkan puasa jika gula darah di bawah 70 mg/dL atau di atas 300 mg/dL.
4. Jangan ubah dosis obat sendiri. Dokter biasanya akan menyesuaikan jadwal dan dosis obat sesuai ritme Ramadan.
Pola Makan Jadi Penentu
Keberhasilan puasa bagi diabetesi sangat ditentukan oleh asupan nutrisi.
Saat sahur, dianjurkan mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau gandum utuh, dikombinasikan dengan protein dan serat agar kenyang lebih lama.
Saat berbuka, sebaiknya dimulai dengan air putih dan 1–3 butir kurma, kemudian makan secara bertahap. Menghindari gorengan serta makanan tinggi gula dapat mencegah lonjakan gula darah mendadak.
Prof. Hari menegaskan, Ramadan dapat menjadi fase edukasi dan pengendalian diri, termasuk dalam pola makan. Dengan pendampingan medis yang tepat, penyandang diabetes tetap dapat menjalani ibadah puasa secara aman sekaligus meraih manfaat kesehatan jangka panjang. (red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.