BESTTANGSEL.COM, JAKARTA – Transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi terus dilakukan Brawijaya Hospital Group melalui pengembangan berbagai layanan unggulan, mulai dari operasi jantung minim invasif, terapi ablasi untuk penanganan gangguan irama jantung (aritmia), hingga layanan fertilitas modern melalui Benih IVF Center. Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan edukasi kesehatan bertajuk Saving Time, Saving Organ, Saving Future yang digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026), dan dihadiri lebih dari 50 perwakilan perusahaan asuransi serta mitra bisnis.
Dalam kegiatan tersebut, Brawijaya Hospital menghadirkan sejumlah dokter spesialis, yakni Dr. dr. Ismail Dilawar, MARS, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), dr. Simon Salim, Sp.PD-KKV, M.Kes., AIFO, FINASIM, FICA, FHRS, FACC, dr. Niken P. Pangastuti, Sp.OG, Subsp.FER, serta dr. Med. Firman Santoso, Sp.OG, yang memaparkan perkembangan layanan kesehatan jantung, kesehatan ibu dan kandungan, hingga teknologi reproduksi berbantu.
Chief Commercial Officer Brawijaya Hospital Group, drg. Hestiningsih, S.E., M.A.R.S., mengatakan pihaknya terus meningkatkan mutu pelayanan melalui pemanfaatan teknologi medis sekaligus memperluas jaringan rumah sakit di berbagai wilayah.
“Brawijaya Hospital senantiasa meningkatkan mutu dan pelayanan dengan meluncurkan inovasi-inovasi terbaru di bidang kesehatan. Selain itu, kami juga akan terus berekspansi dengan berencana membuka beberapa rumah sakit di beberapa tempat,” ujarnya.
Operasi Jantung dengan Sayatan Kecil
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Brawijaya Hospital Taman Mini, Dr. dr. Ismail Dilawar, menjelaskan rumah sakit kini mengembangkan layanan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS), yaitu teknik operasi jantung menggunakan sayatan kecil tanpa perlu membelah tulang dada.
Menurutnya, metode tersebut memberikan sejumlah keuntungan bagi pasien, seperti rasa nyeri yang lebih ringan, masa perawatan yang lebih singkat, serta proses pemulihan yang lebih cepat sehingga pasien dapat segera kembali beraktivitas.
“Pasien tidak lagi harus dibelah tulang dadanya. Kami hanya menggunakan sayatan kecil di sisi kanan dada, bahkan di bawah ketiak, dengan bantuan kamera. Operasi menjadi lebih kecil, pemulihan lebih cepat, pasien lebih cepat pulang dan kembali bekerja,” jelasnya.
Teknik MICS kini dapat diterapkan pada berbagai kasus, mulai dari penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung hingga penyakit jantung bawaan seperti jantung bocor. Namun, menurut Ismail, operasi konvensional tetap menjadi pilihan yang efektif, terutama bagi pasien dengan keterbatasan biaya.
Ia juga mengungkapkan tren meningkatnya kasus penyakit jantung koroner pada kelompok usia produktif.
“Dulu pasien operasi bypass umumnya usia 60 tahun ke atas. Sekarang usia 33, 34 bahkan 38 tahun sudah ada yang menjalani operasi bypass. Salah satu penyebabnya adalah perubahan gaya hidup yang semakin kurang bergerak,” katanya.
Ismail mengingatkan bahwa pemasangan ring maupun operasi bypass bukan berarti pasien bebas dari risiko penyakit jantung. Karena itu, menjaga pola hidup sehat, rutin mengonsumsi obat, melakukan kontrol berkala, dan berhenti merokok tetap menjadi langkah penting untuk mencegah kekambuhan.
Ablasi Menjadi Terapi Utama Aritmia
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Brawijaya Hospital Saharjo, dr. Simon Salim, menjelaskan aritmia merupakan gangguan irama jantung yang dapat menimbulkan gejala ringan hingga menyebabkan henti jantung mendadak.
Ia mengatakan Brawijaya Hospital Saharjo telah memiliki fasilitas penanganan aritmia dengan teknologi mutakhir yang setara dengan rumah sakit di kawasan ASEAN.
Menurut Simon, terapi obat hanya berfungsi mengendalikan gejala, sedangkan tindakan ablasi menjadi terapi utama untuk menghilangkan sumber gangguan irama jantung.
“Kalau targetnya adalah sembuh atau cure, maka golden standard-nya adalah ablasi. Obat hanya menekan, tetapi tidak menghilangkan sumber gangguannya,” ujarnya.
Simon juga mendorong masyarakat memanfaatkan perangkat seperti smartwatch sebagai alat skrining awal aritmia, meskipun diagnosis tetap harus dipastikan melalui pemeriksaan elektrokardiografi (EKG).
Ia juga menegaskan bahwa olahraga yang dilakukan dengan benar justru membantu menurunkan risiko berbagai penyakit, termasuk aritmia.
“Belum ada bukti bahwa olahraga yang dilakukan dengan benar meningkatkan risiko aritmia. Sebaliknya, olahraga membantu menurunkan risiko diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner hingga aritmia,” katanya.
Pentingnya Mengendalikan Diabetes Saat Hamil
Dalam sesi kesehatan ibu, dr. Med. Firman Santoso menjelaskan Brawijaya Hospital menyediakan layanan komprehensif untuk berbagai penyakit ginekologi, seperti miom, kista ovarium, adenomiosis hingga kanker organ reproduksi.
Ia juga mengingatkan ibu hamil agar tetap aktif bergerak serta menghindari konsumsi daging mentah yang berisiko membawa bakteri maupun parasit seperti Salmonella dan Toxoplasma.
Firman menyoroti meningkatnya kasus diabetes gestasional yang dapat meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada janin.
“Diabetes yang tidak terkontrol pada ibu hamil meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Selain itu bayi bisa lahir dengan berat badan berlebih dan mengalami hipoglikemia sesaat setelah lahir,” jelasnya.
Karena itu, pemeriksaan kadar gula darah secara berkala sejak trimester pertama hingga ketiga menjadi bagian penting dalam pemantauan kehamilan.
Benih IVF Center Tawarkan Teknologi Fertilitas Modern
Dalam kesempatan yang sama, Brawijaya Hospital juga memperkenalkan Benih IVF Center sebagai pusat layanan fertilitas yang memadukan teknologi bayi tabung (IVF), pendekatan perawatan yang dipersonalisasi, serta pendampingan dokter spesialis fertilitas.
Menurut dr. Niken P. Pangastuti, Benih IVF Center mencatat tingkat keberhasilan mencapai 66,7 persen pada pasien berusia 41 hingga 42 tahun melalui prosedur Frozen Embryo Transfer (FET) sejak 2024 hingga saat ini.
“Keberhasilan program bayi tabung menjadi fokus utama kami. Capaian ini menunjukkan komitmen kami dalam menghadirkan hasil terbaik bahkan untuk kelompok usia yang menantang,” ujarnya.
Selain program bayi tabung, Benih IVF Center juga menyediakan layanan egg freezing atau pembekuan sel telur sebagai solusi bagi perempuan yang ingin mempertahankan kualitas sel telur untuk kehamilan di masa mendatang.
“Egg freezing adalah proses mengambil, membekukan, dan menyimpan sel telur wanita pada suhu sangat rendah agar dapat digunakan untuk kehamilan di masa depan. Saat ini sudah semakin banyak perempuan modern yang memanfaatkan metode ini, termasuk di Brawijaya Hospital,” tutup dr. Niken. (Red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.