BESTTANGSEL.COM, Jakarta – Pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia dinilai harus semakin ditingkankan guna memberi dampak ekonomi yang optimal. Tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) masih belum baik serta dominasi produk impor membuat Indonesia berpotensi hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar kendaraan listrik global.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pengembangan industri kendaraan listrik nasional belum sepenuhnya terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ia menilai hilirisasi mineral yang selama ini dilakukan juga harus kembali dirdorong agar menciptakan ekosistem industri kendaraan listrik secara menyeluruh.
“Selama ini hilirisasi yang dilakukan sebenarnya lebih tepat disebut smelterisasi. Produk turunan pertama dan kedua masih diekspor, sehingga belum mendorong terbentuknya ekosistem industri kendaraan listrik di dalam negeri,” ujar Fahmy, Minggu (30/3).
Fahmi menjelaskan hilirisasi mampu menghasilkan nilai tambah sekaligus membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari pengolahan mineral hingga produksi kendaraan listrik.
Namun, kebijakan impor kendaraan listrik secara utuh (completely built up/CBU) justru dinilai tidak sejalan dengan tujuan tersebut.
Menurutnya, kendaraan listrik yang masuk ke Indonesia sebagian besar masih dalam bentuk impor utuh tanpa konten lokal. Kondisi ini membuat Indonesia berpotensi hanya menjadi pasar bagi produsen dari China, Korea, dan Jepang.
“Kebijakan waktu itu disyaratkan harus pabriknya ada di Indonesia, kemudian harus ada konten lokal yang bertahap dari 40 sampai 80 persen itu. Nah, kemudian kebijakan itu diubah sehingga tidak mendukung untuk membentuk ekosistem industrialisasi,” imbuhnya.
Fahmy menekankan rendahnya TKDN membuat multiplier effect industri kendaraan listrik belum optimal, baik terhadap industri pendukung, penyerapan tenaga kerja, maupun peningkatan nilai tambah mineral dalam negeri.
“TKDN sangat penting. Jadi mestinya kita tidak hanya jadi pasar, tapi kita harus ikut memproduksi secara mandiri,” tegas Fahmy.
Menurut dia, penguatan TKDN dapat dilakukan melalui kerja sama dengan investor asing yang disertai alih teknologi. Sehingga, Indonesia dapat membangun industri kendaraan listrik secara mandiri dalam jangka panjang.
“Barangkali di lima tahun pertama itu bekerja sama dengan beberapa perusahaan dari China, Korea, dan Jepang untuk melakukan alih teknologi. Nah kemudian lima sampai sepuluh tahun berikutnya Indonesia bisa menghasilkan sendiri beberapa komponen dan juga mobil listrik,” tutup Fahmy. (Red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.