img_4918BESTTANGSEL.COM- Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) bekerjasama dengan BNPB, Batan, TNI, juga Polri menggelar simulasi antisipasi bahaya nuklir di Gedung G90, Batan, Serpong, Tangerang Selatan, (9/11/2016).

Simulasi tersebut melibatkan 1.500 orang dikawasan Nuklir Puspiptek dengan membuat suasana pagi di kawasan Puspiptek Serpong tampak mencekam. Bunyi sirine mobil pemadam dan ambulance terus bergema,  mobil-mobil tersebut hilir mudik untuk mengevakuasi korban ledakan nuklir.

“Kegiatan tersebut merupakan scenario antisipasi bahaya nuklir dengan tujuan meningkatkan kemampuan dan keterampilan personil tanggap darurat, menguji dan mengevaluasi kemampuan operasi Organisasi Tanggap Darurat Nuklir Nasional (OTDNN),” tutur kepala BAPETEN Jazi Eko Istianto.

Jazi mengatakan, pelatihan atau gladi penanggulangan darurat nuklir ini untuk tingkat nasional minimal harus dilakukan empat tahun sekali untuk mensiap siagakan personil.

“Gladi terakhir dilakukan pada tahun 2010 yang lalu, seharusnya gladi penanggulangan darurat nuklir tingkat nasional dilaksanakan pada 2014 namun baru terlaksana tahun 2016 ini,” ujarnya.

Jazi menambahkan, pihaknya akan mengikutsertakan masyarakat sekitar dari kawasan BATAN dan Puspiptek. Hasil pelatihan menunjukan bahwa secara tehnis BAPETEN siap untuk menanggulangi kedaruratan nuklir.

“Saat ini BATAN sedang mensosialisasikan kepada masyarakat tentang nuklir itu sendiri, untuk tahun berikutnya kami akan mengikutsertakan masyarakat dalam gladi penanggulangan nuklir ini,” tambahnya.

Komanda Zeni Nuklir, Biologi, Kimia (Nubika) Direktorat Zeni Angkatan Darat Kapten Angga Harinda mengatakan dalam gladi penanggulangan kedaruratan nuklir ini, TNI menugaskan satu pleton atau 34 personil.

“Personil bertugas untuk membersihkan dan menetralisir kendaraan beserta anggota TNI yang bertugas mengamankan bocornya nuklir, agar kendaraan dan personil tidak terdampak radiasi dari nuklir,” jelas Angga.

Untuk mencuci kendaraan, Angga juga mengatakan, ada beberapa tahapan yakni kendaraan disiram dengan air biasa, lalu kendaraan di cuci dengan sabun RDS 2000, kemudian disiram kembali menggunakan air panas dan terakhir kendaraan akan di cek kadar radiasinya.

“Sabun tersebut adalah sabun khusus untuk radiologi radiasi, jadi bukan sabun biasa. Air panas yang digunakan juga suhunya mencapai 180 sampai 200 derajat,” Pungkasnya.

 

Teks : Ashri

Foto : Ashri