BESTTANGSEL.COM, JAKARTA – Penyakit jantung tidak selalu berkaitan dengan penyempitan pembuluh darah koroner atau serangan jantung. Gangguan pada irama jantung juga perlu mendapat perhatian karena dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala yang khas.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Kardiovaskular BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo, Dr. dr. Simon Salim, SpPD-KKV, M.Kes., AIFO, FINASIM, FACP, FICA, FACC, FHRS, menjelaskan salah satu gangguan irama jantung yang cukup sering ditemukan adalah fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF).

Dr. dr. Simon Salim, SpPD-KKV, M.Kes., AIFO, FINASIM, FACP, FICA, FACC, FHRS, (tengah).
Fibrilasi atrium merupakan kondisi ketika irama jantung menjadi tidak teratur. Kondisi tersebut dapat dialami siapa saja, namun risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.
“Studi Framingham menunjukkan bahwa setelah usia 50 tahun, risiko mengalami fibrilasi atrium dapat meningkat sekitar dua kali lipat setiap pertambahan 10 tahun usia. Bahkan, hampir 10 persen orang yang mencapai usia 80 tahun diperkirakan dapat mengalami fibrilasi atrium,” jelas Simon.
Menurutnya, usia bukan satu-satunya faktor yang meningkatkan risiko. Tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, gagal jantung, penyakit jantung struktural, gangguan tidur seperti sleep apnea, serta konsumsi alkohol juga dapat berkontribusi terhadap munculnya fibrilasi atrium.
Bisa Terjadi Tanpa Gejala
Salah satu hal yang membuat fibrilasi atrium perlu diwaspadai adalah kondisi ini tidak selalu menimbulkan keluhan.
Sebagian pasien dapat mengalami jantung berdebar, denyut jantung tidak teratur, mudah lelah, sesak napas, hingga penurunan kemampuan beraktivitas. Namun, sebagian lainnya tidak merasakan gejala apa pun dan baru mengetahui adanya fibrilasi atrium ketika menjalani pemeriksaan jantung untuk keperluan lain.
Meski tidak menimbulkan keluhan, fibrilasi atrium tetap perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko stroke.
Irama jantung yang tidak teratur dapat membuat aliran darah di dalam jantung kurang lancar sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah. Jika bekuan tersebut terlepas dan terbawa menuju pembuluh darah otak, aliran darah dapat tersumbat dan menyebabkan stroke.
Karena itu, pada pasien dengan fibrilasi atrium, pencegahan stroke menjadi salah satu bagian penting dalam penanganannya.
Gaya Hidup Berperan dalam Menjaga Irama Jantung
Simon mengatakan tidak semua kasus fibrilasi atrium dapat dicegah. Namun, sejumlah faktor risiko dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup.
Pedoman European Society of Cardiology (ESC) 2024 juga menempatkan pengelolaan faktor risiko dan penyakit penyerta sebagai bagian penting dalam penanganan fibrilasi atrium.
Menurut Simon, menjaga kesehatan jantung tidak hanya bertujuan mencegah penyakit pembuluh darah, tetapi juga membantu menjaga irama jantung dan mengurangi risiko kekambuhan pada pasien yang telah mengalami fibrilasi atrium.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Pertama, menerapkan pola makan sehat. Konsumsi lebih banyak sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein sehat seperti ikan. Sebaliknya, konsumsi garam, gula tambahan, lemak jenuh, makanan olahan, minuman manis, dan alkohol perlu dibatasi.
Kedua, meningkatkan aktivitas fisik. Aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kebugaran dan kesehatan jantung. Orang dewasa dianjurkan melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas intensitas berat setiap minggu, ditambah latihan kekuatan setidaknya dua kali dalam seminggu.
Aktivitas tersebut tidak harus selalu berupa olahraga berat. Berjalan kaki, mengurangi waktu duduk terlalu lama, dan meningkatkan aktivitas secara bertahap juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif.
Ketiga, berhenti merokok. Rokok dan produk nikotin dapat meningkatkan tekanan darah serta denyut jantung dan turut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, berhenti merokok menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Keempat, menjaga tidur yang cukup dan berkualitas. Orang dewasa dianjurkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Selain durasi, kualitas tidur juga perlu diperhatikan.
Gangguan tidur seperti sleep apnea juga perlu diwaspadai, terutama jika seseorang mengalami dengkuran keras, sering terbangun saat tidur, atau mengantuk berlebihan pada siang hari.
Kelima, menjaga berat badan. Kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium. Pada pasien fibrilasi atrium yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, pedoman ESC 2024 merekomendasikan penurunan berat badan setidaknya 10 persen sebagai bagian dari pengelolaan faktor risiko.
Keenam, mengendalikan kadar kolesterol. Konsumsi makanan sehat, aktivitas fisik, serta pembatasan lemak jenuh dan makanan yang sangat diproses dapat membantu menjaga kadar kolesterol. Jika kadar kolesterol tetap tinggi, pengobatan dapat diperlukan sesuai anjuran dokter.
Ketujuh, mengendalikan gula darah. Pengelolaan gula darah penting untuk menjaga kesehatan jantung. Pola makan sehat, aktivitas fisik, menjaga berat badan, dan tidak merokok dapat membantu. Bagi penderita diabetes, pemantauan gula darah dan konsumsi obat sesuai anjuran dokter juga penting.
Kedelapan, mengendalikan tekanan darah. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penting fibrilasi atrium. Pemeriksaan tekanan darah secara berkala perlu dilakukan, disertai penerapan pola makan sehat, aktivitas fisik, menjaga berat badan, tidur cukup, membatasi alkohol, dan menghindari rokok.
Jika diperlukan, obat tekanan darah juga harus dikonsumsi secara teratur sesuai anjuran dokter.
Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Simon menekankan, perubahan gaya hidup tidak harus dilakukan sekaligus. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang.
Masyarakat juga tidak perlu menunggu munculnya keluhan atau diagnosis penyakit jantung untuk mulai memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, berat badan, tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.
Menjaga kesehatan jantung, termasuk menjaga irama jantung, pada akhirnya merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari. Dengan mengenali faktor risiko dan melakukan perubahan gaya hidup sedini mungkin, berbagai risiko yang berkaitan dengan fibrilasi atrium dapat dikelola dengan lebih baik. (Red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.