BESTTANGSEL.COM, BSD City — Indonesia kini menempati posisi kelima dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia. Fakta ini diungkapkan oleh dr. Jimmy Tandradynata, Sp.PD, MSc, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam Eka Hospital BSD, dalam sebuah sesi edukasi kesehatan. Namun, menurutnya, peringkat tinggi tersebut bukanlah prestasi yang membanggakan, melainkan alarm serius bagi masyarakat dan tenaga kesehatan.

“Angka rankingnya tinggi, tapi tidak bagus rankingnya,” ujar dr. Jimmy, menjelang peringatan Hari Diabetes Sedunia, pada Kamis, (6/11).

“Lebih dari 70 persen pasien diabetes di Indonesia belum terdiagnosis karena rendahnya kesadaran masyarakat.”

Menurut dr. Jimmy, banyak orang tidak mengetahui bahwa mereka sudah menderita diabetes karena minimnya kesadaran (awareness) terhadap pemeriksaan rutin kadar gula darah. Sebagian besar masyarakat baru melakukan pemeriksaan ketika gejala sudah muncul atau komplikasi terjadi. Padahal, diabetes dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala apa pun.

“Jangan menunggu komplikasi baru periksa gula darah,” tegasnya. “Kunci utamanya adalah screening, screening, dan screening.”

Selain mengingatkan pentingnya deteksi dini, dr. Jimmy juga menyoroti perawatan kaki pada pasien diabetes, yang sering terabaikan namun sangat krusial. Ia menekankan bahwa pencegahan kaki diabetes jauh lebih penting daripada pengobatannya.

Dalam sesi tersebut, dr. Jimmy memperkenalkan istilah “SaKaRi” — periksa kaki sendiri, terinspirasi dari istilah “SaDaRi” (periksa payudara sendiri) pada kampanye deteksi kanker payudara. Ia menganjurkan agar penderita diabetes memeriksa kondisi kaki setiap hari, terutama setelah beraktivitas atau mandi.

“Kaki itu organ yang sering dilupakan, padahal sangat berjasa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

“Coba lihat apakah ada luka, lecet, kebiruan, kemerahan, kulit kering, atau nanah. Kalau ada perubahan sedikit saja, segera konsultasi ke dokter.”

Dr. Jimmy juga menyinggung tentang kapalan (penebalan kulit) yang sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal masalah serius.

“Kapalan bisa terjadi karena saraf yang sudah tidak berasa. Di balik kapalan yang tampak baik-baik saja, bisa ada luka di jaringan dalam yang lunak,” jelasnya.

“Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan infeksi serius. Jadi, kapalan harus rutin ditipiskan dan jangan diabaikan.”

Melalui pesan edukatifnya, dr. Jimmy berharap masyarakat lebih sadar akan pentingnya pemeriksaan gula darah secara rutin dan merawat kesehatan kaki, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, dan riwayat keluarga diabetes. (red/*)

Leave a Reply