BESTTANGSEL.COM, Tangsel – Di tengah gema takbir Iduladha 1447 Hijriah yang mengalun dari Masjid Al-I’tishom, Rabu, (27/5), suasana pagi di samping Gedung Pemerintah Kota Tangerang Selatan terasa sedikit berbeda. Sejumlah warga berkumpul menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban. Di antara mereka, berdiri Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan bersama keluarga tercinta.
Bukan sekadar menyerahkan hewan kurban, Pilar kembali turun langsung memegang pisau penyembelihan sapi limosin milik keluarganya. Tahun ini menjadi tahun keenam dirinya melakukan penyembelihan hewan kurban sendiri di lingkungan Pemkot Tangsel.
Dengan istri dan anak tercinta menyaksikan dari dekat, Pilar menjalani prosesi itu dengan khidmat. Bagi sebagian orang, momen tersebut mungkin tampak tidak biasa untuk seorang pejabat publik. Namun bagi Pilar, itu bukan soal keberanian, melainkan tentang niat yang dijaga dari tahun ke tahun.
“Di Pemkot ini tahun keenam. Saya pertama Iduladha di Pemkot juga sudah berniat memang untuk melakukan sembelih sendiri,” ujarnya usai penyembelihan.
Baginya, Iduladha selalu punya makna yang lebih dalam daripada sekadar ritual tahunan. Ia menyebut kurban sebagai bentuk syukur sekaligus pengingat tentang kepedulian sosial.
Menurut Pilar, ibadah kurban adalah ajakan untuk berbagi bagi mereka yang diberi kemampuan rezeki lebih. Karena itu, ia mengajak masyarakat Tangerang Selatan untuk tidak melewatkan kesempatan bersedekah melalui kurban.
“Kalau mampu, ayo sisihkan rezeki kita. Setiap tahun kita siapkan dalam rangka mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, lalu dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Namun di balik prosesi itu, tersimpan kisah yang lebih personal.
Pilar bercerita, kemampuannya menyembelih hewan kurban bukan didapat secara instan. Ia belajar sejak lama, dimulai dari menyembelih kambing sebelum akhirnya berani menangani sapi. Dari tahun ke tahun, proses itu menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya.
Tahun ini, tantangannya terasa lebih berat. Sapi limosin yang dikurbankan berukuran lebih besar dari tahun sebelumnya.

Wakil Walikota, Pilar Saga Ichsan bersama keluarga.
“Kalau yang ini memang agak beda, sapinya lebih besar daripada tahun kemarin. Tantangannya lebih berat saat penyembelihan. Tapi yang penting aturan syariatnya terpenuhi,” ucapnya sambil tersenyum.
Meski terlihat tenang, Pilar mengakui proses tersebut menguras tenaga. Namun baginya, ada kepuasan batin yang sulit dijelaskan ketika bisa menjalankannya sendiri.
Ia menyimpan keyakinan pribadi bahwa menyembelih hewan kurban dengan tangannya sendiri menjadi bagian dari doa yang ia panjatkan untuk keluarga.
“Setiap orang punya doa masing-masing. Kita niatkan juga untuk keluarga kita. Saya rasa lebih afdol kalau bisa melakukan sendiri,” tuturnya.
Di titik itulah kurban menjadi sesuatu yang sangat personal baginya.
Pilar mengaku punya ikatan emosional dengan hewan kurban yang dipersiapkan jauh-jauh hari. Hewan itu dirawat, diperhatikan, bahkan disayangi sebelum akhirnya dikurbankan. Melepaskannya, menurut dia, bukan perkara mudah. Justru di situlah makna keikhlasan diuji.
“Hewan ini kita sayangi. Perasaan itu kita lepas. Kita ucapkan terima kasih kepada Allah. Saya juga tadi mengucapkan terima kasih kepada hewan kurban kita. Mudah-mudahan sama-sama ketemu di surga Allah,” katanya pelan.
Di tengah hiruk pikuk pembagian daging kurban, kalimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan kedalaman rasa. Ada keikhlasan, ada doa, dan ada hubungan batin yang jarang terlihat di balik perayaan Iduladha.
Bagi Pilar, menyembelih sendiri bukan ukuran paling utama dalam berkurban. Ia menegaskan, siapa pun yang berkurban tetap sah dan bernilai ibadah meski tidak melakukannya sendiri. Yang terpenting adalah niat, keikhlasan, dan terpenuhinya syariat.
“Tapi kalau enggak motong sendiri juga enggak apa-apa. Sama-sama. Yang penting niat ibadahnya terpenuhi,” ujarnya.
Di Iduladha tahun ini, Pilar tidak hanya menyerahkan daging kurban kepada warga. Ia juga menghadirkan sebuah pesan tentang ketulusan memberi, keberanian melepaskan yang disayang, dan bagaimana ibadah kadang terasa paling dekat justru ketika dijalani dengan tangan sendiri.
Di bawah langit pagi Tangerang Selatan, di antara gema takbir dan aroma rumput basah, seekor sapi limosin dikurbankan. Bersamanya, ada doa-doa yang dilepas perlahan menuju langit. (red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.