BESTTANGSEL.COM, Jakarta – Upaya memperoleh keturunan membutuhkan pemahaman mengenai kondisi reproduksi kedua pasangan. Pemeriksaan kesuburan sejak dini dinilai penting agar masalah yang berpotensi menghambat kehamilan dapat diketahui lebih cepat dan ditangani sesuai kebutuhan medis.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan subspesialisasi fertilitas dan endokrinologi reproduksi RS Brawijaya Antasari, dr. Mohammad Haekal, Sp.OG, Subsp.FER, FICS, MIGS, mengingatkan bahwa infertilitas bukan semata-mata persoalan perempuan. Faktor laki-laki juga berkontribusi terhadap kesulitan memperoleh kehamilan sehingga pemeriksaan sebaiknya melibatkan kedua pasangan.

Menurutnya, evaluasi kesuburan diperlukan untuk mengetahui penyebab kesulitan hamil sekaligus menentukan metode penanganan yang paling sesuai, mulai dari upaya kehamilan alami, inseminasi, hingga program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah usia perempuan. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas sel telur dapat mengalami penurunan sehingga turut memengaruhi peluang keberhasilan program kehamilan.

“Kalau pasangan yang menjalani IVF di bawah 35 tahun, angkanya jauh lebih tinggi. Bisa mencapai 65 persen. Tapi kalau sudah mencapai 35 tahun, peluangnya bisa turun menjadi sekitar 30 persen,” jelas dr. Haekal, saat ditemui pada Rabu, (27/10).

Angka tersebut menggambarkan pentingnya mempertimbangkan usia dalam perencanaan kehamilan. Namun, peluang keberhasilan setiap pasien tetap bergantung pada kondisi medis, karakteristik pasangan, dan metode penanganan yang digunakan.

Dr. Haekal menyarankan pasangan suami istri untuk menjalani pemeriksaan apabila belum memperoleh kehamilan setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi.

Pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal apabila perempuan memiliki faktor risiko tertentu, seperti sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS), endometriosis, gangguan menstruasi, maupun riwayat masalah kesehatan reproduksi lainnya.

Pemeriksaan juga penting bagi laki-laki karena kualitas sperma dan kondisi kesehatan reproduksi turut memengaruhi kemungkinan terjadinya kehamilan.

Melalui evaluasi menyeluruh, dokter dapat menilai kondisi kedua pasangan sebelum merekomendasikan tindakan medis. Dengan demikian, penanganan tidak langsung berfokus pada teknologi reproduksi berbantu, tetapi disesuaikan dengan penyebab dan kebutuhan masing-masing pasien.

Secara umum, sekitar 85 hingga 90 persen pasangan dapat memperoleh kehamilan dalam 12 bulan. Angka tersebut dapat mencapai sekitar 95 persen dalam 24 bulan. Meski demikian, gambaran statistik ini tidak berarti pasangan dengan faktor risiko harus menunda pemeriksaan hingga dua tahun.

Bayi Tabung Menjadi Salah Satu Pilihan Penanganan

Perkembangan teknologi reproduksi berbantu memberikan alternatif bagi pasangan yang mengalami kesulitan memperoleh keturunan. Salah satunya melalui program IVF, yang memungkinkan proses pembuahan sel telur dan sperma dilakukan di laboratorium sebelum embrio dipindahkan ke rahim.

Di RS Brawijaya Antasari, layanan BNI IVF mulai beroperasi pada Oktober 2023. Berdasarkan data yang disampaikan dr. Haekal, layanan tersebut mencatat 45 siklus stimulasi IVF pada 2024 dan jumlah yang sama pada 2025. Hingga September 2026, jumlahnya meningkat menjadi 50 siklus.

Siklus stimulasi merupakan bagian dari proses IVF dan tidak dapat disamakan dengan jumlah pasien, jumlah embrio yang dipindahkan, maupun jumlah kelahiran hidup.

Rangkaian program diawali dengan stimulasi ovarium menggunakan obat untuk membantu pematangan sel telur. Selanjutnya, dokter melakukan pengambilan sel telur untuk diproses bersama sperma di laboratorium. Embrio yang terbentuk kemudian dapat dipindahkan ke rahim atau dibekukan untuk digunakan pada waktu berikutnya, sesuai kondisi pasien.

Durasi dan kebutuhan obat dalam program tersebut dapat berbeda pada setiap orang. Usia, cadangan sel telur, dan kondisi kesehatan reproduksi menjadi sejumlah pertimbangan dalam menyusun rencana perawatan.

Selain IVF, layanan fertilitas juga mencakup inseminasi, pembekuan embrio, pembekuan sel telur, pembekuan sperma, serta tindakan bedah minimal invasif seperti laparoskopi dan histeroskopi.

Keberhasilan Tidak Hanya Diukur dari Terjadinya Kehamilan

Dalam menjalani program fertilitas, pasangan juga perlu memahami bahwa angka keberhasilan dapat berbeda bergantung pada indikator yang digunakan. Keberhasilan berdasarkan siklus pengobatan, pemindahan embrio, atau kelahiran hidup merupakan ukuran yang tidak selalu menghasilkan angka sama.

Dr. Haekal menyebutkan bahwa angka keberhasilan IVF yang terakhir tercatat di layanan tersebut berada di kisaran 45 persen. Namun, angka itu perlu dipahami sesuai karakteristik pasien dan metode penghitungan yang digunakan.

Karena itu, pasangan disarankan berdiskusi dengan dokter mengenai peluang keberhasilan berdasarkan usia, kondisi kesuburan, serta pilihan tindakan yang tersedia.

Pemahaman tersebut juga penting ketika mempertimbangkan pemindahan embrio. Kehamilan kembar bukan tujuan utama program bayi tabung karena dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk kelahiran prematur dan masalah kesehatan pada ibu maupun bayi.

Penanganan fertilitas pada akhirnya perlu berorientasi pada kehamilan yang aman, dengan mempertimbangkan kesehatan ibu dan janin.

Melalui pemeriksaan sejak dini, keterlibatan kedua pasangan, serta pemilihan metode yang sesuai, upaya memperoleh keturunan dapat direncanakan secara lebih terarah. Konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah penting untuk memahami kondisi reproduksi dan menentukan pilihan penanganan berdasarkan kebutuhan masing-masing pasangan. (red/*)

Leave a Reply