BESTTANGSEL.COM, Depok – Angka keberhasilan ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif di Indonesia masih sangat rendah, yakni di bawah 50 persen. Padahal ASI sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama pada 1000 hari pertama kehidupan.

Hal tersebut dikatakan oleh Dr. Galih Linggar Astu, Sp. A (spesialis anak dan konsultan Laktasi) Rumah Sakit Ibu & Anak (RSIA) Brawijaya Bojongsari Depok.

Lebih jauh, Dr. Galih menjelaskan , “Tanpa ASI banyak sekali resiko penyakit yang dapat timbul pada anak, seperti diare, otitis media, infeksi saluran pernafasan pada anak. Menyusui juga bisa mengurangi risiko kanker payudara pada ibu. Jadi memang ASI ini sangat sangat penting bukan hanya untuk kesehatan bayi dan anak, juga untuk kesehatan ibu.”

Menurut Dr. Galih, pengetahuan tentang ASI sebaiknya diketahui oleh calon ibu sejak masa kehamilan. “Jangan tiba-tiba sesudah melahirkan panik karena ASI tidak keluar. Hal ini terjadi pada sebagian calon ibu, terutama yang baru pertama kali melahirkan.”

Dr. Galih menyarankan, agar semua calon ibu mengunjungi Poliklinik Laktasi untuk mengetahui informasi seputar ASI dan menyusui.

“Di Poli Laktasi, calon ibu akan diberikan pengetahuan mulai dari bagaimana ASI diproduksi, faktor apa yang mempengaruhi produksi ASI, kapan ASI mulai keluar, apa saja komposisi ASI, bagaimana cara menyusui yang benar, hingga masalah apa yang mungkin timbul selama menyusui dan bagaimana cara menanganinya,” sarannya.

“Edukasi di Poliklinik Laktasi tidak terbatas untuk calon ibu dan calon ayah saja, anggota keluarga lain yang terkait dengan pengasuhan bayi juga sebaiknya diikutsertakan supaya pemahamannya sama. Penting untuk diinformasikan kepada keluarga bahwa parameter untuk menilai ASI cukup atau tidak bukan hanya dari tangisannya. Ibu harus memperhatikan cara meyusui bayi, berapa kali frekuensinya, berapa lama menyusunya, bagaimana tidurnya, bagaimana buang air kecil atau pipis si bayi, banyak atau sedikit, warnanya apa, buang air besarnya bagaimana, hingga pengukuran berat badan si bayi, bertambah tidak berat badannya,” jelas dr. Galih.

“ASI eksklusif wajib diberikan sampai usia bayi 6 bulan, hanya ASI tidak ada asupan lain. Setelah itu, pemberian ASI masih terus berlanjut sambil didampingi pemberian makanan tambahan hingga usia anak 2 tahun. ASI pada hari-hari pertama yang berwarna bening, kekuningan, atau kecoklatan sangat bermanfaat bagi kekebalan tubuh anak, sehingga sangat dianjurkan diberikan kepada bayi yang baru lahir,” ungkap Dr. Galih.

Selain pengetahuan tentang ASI, di Poliklinik Laktasi ibu hamil juga akan diajarkan bagaimana memberikan ASI berkualitas pada buah hatinya.

“ASI sebaiknya diberikan langsung dari putting susu ibu, jika ibu tersebut tidak dapat memberikan ASI secara langsung karena bekerja misalnya, pemberian ASI perah boleh dengan menggunakan media lain, usahakan jangan menggunakan dot karena dapat mempengaruhi proses menyusu bayi, bayi bisa bingung puting. Selain itu, pemberian ASI perah dengan dot dapat berisiko terjadi penyapihan dini, infeksi, maloklusi serta caries gigi. Yang baik itu menggunakan gelaskecil, sendok, atau pipet. Untuk kasus ini sang ibu juga harus rajin memompa air susunya maksimal 3 jam sekali agar produksi ASI tetap lancar dan banyak,” jelas Dr. Galih.

“Ingat, rangsangan dari isapan bayi melalui serabut syaraf memicu kelenjar hipofisis bagian depan untuk mengeluarkan hormone eprolaktin kedalam peredaran darah yang menyebabkan sel kelenjar mengeluarkan ASI. Semakin sering bayi menghisap, semakin banyak hormone prolaktin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis. Akibatnya makin banyak ASI diproduksi oleh sel kelenjar. Sebaliknya berkurangnya isapan bayi menyebabkan produksi ASI berkurang, mekanisme ini disebut supply and demand,” ujar Dr. Galih.

“Dengan demikian sering menyusui baik dan penting untuk pengosongan payudara agar tidak terjadi pembengkakan payudara, tetapi sebaliknya memperlancar pengeluaran ASI. Oksitosin juga merangsang otot rahim berkontraksi  sehingga mempercepat terlepasnya plasenta dari dinding rahim dan mengurangi perdarahan setelahpersalinan. Pengeluaran ASI dipengaruhi oleh emosi ibu, rasa khawatir, kelelahan, rasa sakit dan kurang percaya diri,” pungkasnya.

 

Asri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.