BESTTANGSEL.COM, TANGERANG- Guna mempersiapkan mahasiswa Strategic Communications (SC) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk terjun ke dalam industri yang terus berkembang, Fakultas Ilmu Komunikasi UMN (FIKOM UMN) mengadakan kuliah tamu bertajuk “Media Relations Practice in Government & Media Monitoring in Digital Society.” Kuliah tamu ini diadakan secara on-site di kampus UMN pada Rabu (09/11/22).

Kuliah tamu ini mengundang dua tamu spesial yang ahli dibidangnya, Husain Abdullah yang pernah berpengalaman menjadi Juru Bicara Wakil Presiden RI 10 dan 12, juga Imelda Valentina Rajagukguk, seorang Senior Media Analyst.

Silvanus Alvin, Dosen Koordinator Media Relations, berpesan bahwa dengan hadirnya Husain Abdullah, pengalaman di level nasional ini dibutuhkan oleh para mahasiswa UMN, terutama mahasiswa Strategic Communications yang tertarik dengan dunia Public Relations. Selain itu, kehadiran Imelda Valentina Rajagukguk menambah wawasan para mahasiswa terkait dengan penggunaan Big Data untuk media monitoring. Mengikuti perkembangan teknologi sejalan dengan semangat UMN untuk menelurkan civitas academic yang IT Literate.

“Acara kuliah tamu ini merupakan bentuk komitmen nyata dari UMN untuk memberikan standar tinggi dalam hal transfer knowledge dan experience. Teknik serta strategi menghadapi media ini diperlukan sebelum terjun ke dunia industri yang penuh persaingan,” ucap Silvanus.

Membuka sesi pemaparan, Husain bercerita dan berbagi mengenai fenomena kekinian dan pengalamannya sebagai Juru Bicara di lembaga pemerintahan Republik Indonesia (Government Relations). Ia menekankan tiga hal dalam pemaparannya: menjalin hubungan yang baik dengan media, menjadi sejiwa dengan siapa yang diwakili, dan memperhatikan jejak digital.

Husain menyinggung buku yang dibacanya saat ia masih berkuliah, “The Third Wave” oleh Alvin Toffler. Pada buku tersebut, Alvin, seseorang yang futuristik, memprediksi bahwa akan terjadi gelombang revolusi komunikasi yang dahsyat– seperti yang terjadi saat ini.

Di era digital ini, dengan arus informasi yang dahsyat, informasi dari pemerintah tidak dapat lagi diandalkan. “PR (Public Relations) secanggih apapun tidak dapat melawan arus publik, kecuali dia berpegang teguh kepada kebenaran dan fakta-fakta yang bisa dia andalkan. Karena banjir informasi itu membuat sesuatu tidak bisa ditutupi lagi,” jelas Husain.

Husain memberi satu contoh, bayangkan jika semua informasi harus menunggu pemerintah. Jika sang pejabat sedang tidur atau memiliki kesibukan, media massa yang didesak tenggat waktu tidak akan bisa menunggu. Di saat yang bersamaan, informasi di internet pasti sudah meluas.

“Itu saya kita membuat peran seorang Government Relations semakin ketat, harus luwes. Kalaupun informasi yang dibutuhkan media tidak disampaikan langsung oleh pejabatnya, bisa dilakukan oleh juru bicaranya. Di sinilah juru bicara menjadi memiliki peran yang sangat strategis,” jelas Husain.

Husain diketahui merupakan mantan Juru Bicara Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Terakhir menjabat pada 2019, Husain mengatakan bahwa ia masih berhubungan dan disebut sebagai Juru Bicara hingga saat ini. Dari hal ini, Husain tekankan pentingnya seorang Juru Bicara untuk dekat dan sehati dengan siapa yang mereka wakili.

“Tidak pernah saya dipecat oleh Pak JK (Jusuf Kalla), sudah melekat karena sejiwa dengan saya. Kapan pun bahkan tengah malam hingga pagi saya bisa dicari, bahkan dia memanggil saya dengan nama kecil saya karena sudah nyatu. Kalau Anda sudah di tahap ini, itu sudah luar biasa,” cerita Husain.

Kenapa penting bagi seorang Juru Bicara untuk dekat dan sehati dengan siapa yang mereka wakili? Ini karena seorang Juru Bicara, Government Relations, harus mampu menjelaskan, memberi tafsir yang benar atas informasi yang disampaikan pemerintah atau siapa yang diwakilinya. Harus secara meyakinkan memberi fakta-fakta yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan.

Jika seorang Juru Bicara terlihat tidak meyakinkan, Husain mengatakan bahwa kita bisa membayangkan judul-judul berita yang ditulis oleh para reporter mengenai sang Juru Bicara atau orang yang sedang diwakili. Inilah kenapa selain mampu memberi tafsir, seorang Juru Bicara juga harus berhubungan baik dengan para reporter dan media. Tapi ia menekankan untuk tidak mencoba membayar jurnalis untuk tidak menyebarkan informasi atau keperluan lainnya.

Menjadi seorang Juru Bicara terutama bagi pejabat atau tokoh besar seperti Jusuf Kalla telah berdampak kehidupan Husain secara pribadi. Ia bercerita bahwa karena ia dikenal merepresentasi Jusuf Kalla, ia tidak bisa dengan sembarang berpendapat di media sosial.

“Saya juga tidak pernah menyerang seseorang atau berkata aneh-aneh yang sensitif karena saya memiliki keterikatan (dengan Jusuf Kalla). Nanti orang ngomong, oh ini jangan-jangan Bapak Jusuf Kalla yang menyuruh saya untuk berbicara seperti ini,” jelas Husain.

Ia mengatakan bahwa seperti orang lain, ia terkadang tergoda untuk memberikan pendapatnya. Tapi inilah tanggung jawab dan resiko menjadi seorang Juru Bicara. Perilaku seorang Juru Bicara harus mencerminkan orang yang mereka wakili, saat mereka bekerja juga di luar pekerjaan.

Pemanfaatan Big Data pada Analisis Media di Era Digital– Data is The New Gold!

Pemaparan materi kedua dilakukan oleh Imelda Valentina Rajagukguk. Dalam pemaparannya, Imelda membagikan pengalamannya bekerja sebagai Media Analyst. Imelda juga menunjukkan berbagai data yang ia dapatkan mengenai keadaan media di Indonesia, dan contoh-contoh analisis isu yang ia lakukan.

“Hidup ini sudah menjadi semakin mudah karena adanya era digital,” ucap Imelda. Ia memperlihatkan sebuah data bahwa sumber berita masyarakat Indonesia itu paling banyak dari media online dan disusul dengan media sosial, TV, dan media cetak.

Menariknya, media sosial TikTok terlihat memiliki peningkatan dalam satu tahun terakhir ini menjadi sumber pencarian informasi atau berita bagi masyarakat Indonesia. Aplikasi TikTok tidak lagi hanya menjadi platform hiburan tapi juga tempat masyarakat untuk mencari dan memberikan informasi.

“Media online dan media sosial akhirnya menjadi yang pegang peranan penting di dalam memberikan informasi dan mengubah persepsi publik,” ucap Imelda. Ia juga menyinggung Pemilihan Presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2024 nanti, dimana informasi dan diskusi mengenai Pemilu akan meledak di ranah digital.

Bagi teman-teman mahasiswa UMN yang ingin menjadi media analis, Imelda mengatakan bahwa penting untuk dengan cepat mengikuti apa yang terjadi di media sosial agar pekerjaan tidak semakin sulit. Disarankan untuk memahami keadaan semua mau itu media sosial, media online, TV, dan media cetak.

Bagaimana seorang media analis bisa mengikuti dan menganalisis semua informasi dan media yang ada di era dimana informasi membludak? Imelda mengatakan bahwa di Twitter saja, per 60 detik, terdapat 347 ribu data.

“Kita perlu melakukan analisis dengan lebih smart menggunakan big data. Karena datanya besar dan cepat, kita juga harus bekerja dengan cepat. Kita juga tidak bisa menganalisis menggunakan database biasa, harus menggunakan database yang lebih canggih lagi,” jelas Imelda.

Imelda mengatakan bahwa kita tidak perlu menganalisis semua data. Dari data yang ada, kita bisa menganalisis sebuah tren atau isu. Seperti apa isunya? Bagaimana perkembangan isunya? Ia memberi sebuah contoh, tim humas dapat melihat efektivitas press release yang disebarkan ke media. Hasil analisis data dapat memperlihatkan apakah informasi yang diberikan ke media berbanding lurus atau tidak.

Imelda membagikan temuan menarik lain, saat menganalisis isu-isu yang ramai diangkat oleh media, disimpulkan bahwa berita yang negatif mendominasi. “Berita Indonesia sukanya yang negatif. Jadi kalau kalian jdi humas atau menganalisis media, kerjaannya akan berat karena mengurus yang negatif semua,” ucap Imelda.

Ia juga menekankan bahwa analisis harus dilakukan secara mendalam. Tidak hanya mencari tahu apa isu yang sedang tren tapi juga saat isu naik atau turun, apa alasan isu tersebut naik atau turun? Bagaimana jika isu yang sama atau mirip dibandingkan dengan keadaan tahun-tahun sebelumnya? Memiliki data yang lengkap dapat membantu seseorang atau sebuah perusahaan dalam pengambilan keputusan.

Menutup pemaparannya, Imelda mengungkapkan bahwa pekerjaan Data Analyst menjadi pekerjaan dengan lowongan paling banyak untuk 2025. Banyak pula pekerjaan yang akan hilang. Saat ini, industri membutuhkan talenta yang mampu menganalisis informasi dan data. Data is the new gold.

Kuliah tamu ini ditutup dengan sesi tanya jawab dari berbagai mahasiswa. Diharapkan bahwa materi dan pengalaman yang dibagi oleh Husain Abdullah dan Imelda Valentina Rajagukguk di kuliah tamu ini bermanfaat bagi mahasiswa-mahasiswa yang hadir. (RED/rlls)

Leave a Reply