BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan-
#membuka Al Qur’an # 1
Al Qur’an Mukzizat Nabi Muhammad
Saya percaya, bahwa setiap manusia adalah aktor utama dalam kehidupan itu sendiri. Tuhan, melalui caranya, melakukan hubungan khusus terhadap setiap hambanya, tanpa kecuali, untuk mengenali alam semesta, memahami Tuhan yang transenden, dan Tuhan yg sangat dekat, yang hadir dalam keseharian kita, dalam canda tawa, suka duka, ilmu pengetahuan, pengalaman supra natural, kasih sayang, dan dalam semua kenyataan dualisme kehidupan, yang kita sikapi dengan kehendak bebas setiap manusia, sampai dengan Tuhan memutuskan atas apa yang harus berlaku terhadap setiap hambanya.
Saya percaya, bahwa Adam adalah manusia pertama yang diturunkan ke bumi ini, beranak pinak, dan kita manusia adalah keturunan Adam dan istrinya Hawa. Bumi ini, dan alam semesta, tentunya diciptakan tidak dengan main-main, karena Adam dan anak keturunannya tidaklah sekedar hidup bebas melainkan memiliki misi dari Tuhannya, dari Penciptanya, yang selalu menghadirkan manusia-manusia pilihanNya sebagai pembawa risalahNya, yang hadir di tengah-tengah manusia, dalam setiap generasinya, untuk selalu mengingatkan manusia yang cenderung tenggelam pada urusan dunia, menuhankan patung-patung sebagai simbol-simbol fenomena alam, matahari, bulan, dan kekuasaan.
Al quran adalah risalahNya sebagai penutup pada akhir jaman, sebagai sequence petunjuk hidup manusia di dalam menjalankan misi hidupnya di bumi ini, sejak Adam sampai dengan saat ini, sampai dengan ruang dan waktu kolaps sehingga akal lepas dari hukum alam, dengan terbukanya tabir hari kemudian yang tidak bisa terbayangkan pada akal kita sekarang.
Membuka Al quran, tidak lepas dari kisah kehidupan Muhammad, sebagai Nabi dan rasul pilihanNya. Bagaimana lingkungan beliau, dan pada kondisi-kondisi tertentu wahyu turun dari langit. Mengutip pemikiran dari buku Martin Lings tentang Muhammad yg dia peroleh dari sumber-sumber klasik, dan buku sejarah Tuhan oleh Karen Armstrong, yg mempelajari manuskrip-manuskrip kuno, ajaran para filsuf dan faylasuf tentang bagaimana peradaban mempersepsikan Tuhan sejak 4000 tahun lalu, sampai dengan sekarang. Wallahu a’lam bish-shawab
#Membuka Al Qur’an# 2
Kisah Nabi Ibrahim Alaihisallam
Ibrahim telah berusia 85 tahun, dan Sarah istrinya berusia 76 tahun. Ibrahim selalu berdoa kpd Allah agar dikaruniai anak, karena selama itu belum satupun anak hadir dalam perkawinan mereka.
Suatu malam, Allah Subhanawata’ala menyuruhnya keluar dr tenda dan menatap langit. Allah berfirman, “Pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintanh di sana, bila engkau sanggup. Sebanyak itulah anak keturunanmu nanti”.
Sarah mengijinkan Ibrahim menikahi Hajar, budaknya asal mesir. Meskipun demikian, perasaan cemburu tumbuh juga di antara majikan dan budaknya, sehingga Hajar menjadi sasaran kemarahan Sarah. Hajar hanya mampu mengadukan segala deritanya kepada Tuhan. Maka, Tuhan mengutus malaikat untuk menyampaikan pesan kepadanya: “Aku akan memperbanyak keturunanmu yang tak terhitung jumlahnya.” Sang malaikat juga berkata: “Berbahagialah! Kamu akan dikaruniai seorang anak namailah lsma’il, karena Tuhan telah mendengar penderitaanmu. Hajar lalu menemui Ibrahim dan Sarah dan menceritakan apa yg dikatakan malaikat.
Ketika bayi yang didambakan lahir, Ibrahim memberinya nama Ismail, yg berarti Tuhan telah mendengar.
Ketika Ibrahim berusia seratus tahun, dan Sarah sembilan puluh tahun, Tuhan berfiman lagi kepada Ibrahim, menjanjikan bahwa Sarah pun akan melahirkan seorang anak yang harus diberi nama lshaq. Khawatir kalau-kalau Allah mengurangi kasih sayang-Nya terhadap
anaknya yang lebih tua, Ibrahim berdoa: “Smoga Ismail hidup dalam hidayahMu ya Allah” Dan Allah menjawab: “Aku mendengar doamu tentang Ismail. Aku akan merahmatinya dan menjadikan dia pemimpin bangsa yang besar.
Tetapi, kehendakKu tentang Ishaq tlah kutetapkan dan Sarah akan melahirkannya tahun depan.”
Sarah melahirkan lshaq dan dia sendiri yang menyusuinya. Setelah lshaq disapih, ia memohon kepada Ibrahim agar Hajar dan putranya segera pergi dari
rumah mereka. Karena sangat menyayangi lsmail, lbrahim amat sedih. Namun, Allah berfirman kepadanya agar permintaan Sarah dipenuhi, dan supaya tidak larut dalam kesedihan, Allah berjanji akan memberkahi lsmail.
Dengin demikian, keturunan Ibrahim bukan hanya satu bangsa, tetapi dua bangsa besar, dua bangsa besar yang menjadi sarana menjalankan “Kehendak Langit’ yang kepada mereka Allah bukan saja menjanjikan kemakmuran duniawi, namun juga keluhuran spiritual. Ibrahim menjadi pemimpin dua aliran spiritual besar, yang tidak mengalir bersama melainkan memiliki jalan masing-masing. Ibrahim yakin bahwa Hajar dan Ismail senantiasa dalam naungan rahmat Allah.
Dua aliran spiritual, dua agama, dua dunia bagi Tuhan; dua lingkaran, dan karena itu juga dua pusat. Itulah tempat yang disucikan bukan atas pilihan manusia, namun telah ditetapkan oleh Kerajaan Langit.
Ada dua pusat suci yang melingkupi Ibrahim: satu di daerahnya, dan satu lagi mungkin belum diketahui, dan mungkin ke sanalah Hajar dan lsma’il dituntun, ke suatu lembah tandus di Arabia, sekitar empat puluh hari perjalanan unta di sebelah selatan Kanaan. Lembah itu bernama Bakkah. Dilukiskan bahwa semua sisinya dikelilingi bukit kecuali tiga bagian: satu bagian di sebelah selatan, satu bagian di sisi utara, dan satu sisi yang terbentang ke Laut Merah, empat puluh mil ke arah barat.
Alkitab tidak menceritakan bagaimana Hajar dan lsmail menempuh perjalanan ke Bakkah. Barangkali keduanya ikut rombongan kafilah, karena lembah itu terletak di salah satu rute utama perjalanan, sebuah jalur yang
sering disebut dengan “rute minyak wangi” karena dilewati parfum, kemenyan, dan barang-barang lain yang dibawa dari Arabia Selatan ke daerah Mediterania. Mungkin saja, begitu tiba di tempat itu, Hajar dibimbing malaikat langit untuk meninggalkan kafilahnya.
Tak lama kemudian, sang ibu dan putranya merasa sangat kehausan, sampai-sampai Hajar sangat khawatir akan keselamatan Ismail.
Menurut riwayat, Ismail menangis di hadapan Tuhan dan tergeletak di atas pasir, sementara sang ibu berdiri di atas bebatuan sambil berjinjit memandang ke sekelilingnya, berharap mendapatkan pertolongan. Namun ia tdk melihat seorangpun. Hampir putus asa, Ia bolak balik melintas jalan yg sama sampai tujuh kali. Akhirnya ketika Ia duduk istirahat di dekat sebuah batu karena sangat lelah, datanglah malaikat menemuinya. Dalam Kitab Kejadian diriwayatkan:
“Dan Allah mendengar suara seorang bayi dan mengutus malaikat surga utk menemui Hajar dan berkata: “Apa yg membuatmu susah Hajar? Jangan takut, Tuhan tlah mendengar suara bayimu ditempat ia berbaring. Bangkit dan angkatlah bayimu dan gendonglah dgn tanganmu, Dia akan menjadikannya pemimpin bangsa besar”. Dan Tuhan membukakan matanya, dan Hajar menyaksikan mata air yang menakjubkan”.
Mata air itu memancar dari gundukan pasir yang disentuh tumit lsmail. Tak lama kemudian, daerah itu menjadi suatu perkampungan karena memiliki sumber
air yang sangat bagus dan menakjubkan. Mata air itu dikenal dengan nama Zamzam.
Kitab Kejadian diwahyukan kepada lshaq dan keturunannya, yang tidak lain dari garis keturunan Ibrahim. Tentang lsma’il, kitab itu menuturkan: “Dan Allah bersama sang bayi, dan ia tumbuh dan tinggal di dalam hutan belantara dan menjadi seorang pemburu (pemanah).'”
Setelah itu, nama lsmail hampir tak pernah disebutkan kecuali cerita bahwa lsma’il dan lshaq bersama-sama mengebumikan ayah mereka di Hebron, dan beberapa tahun kemudian Esau menikahi sepupunya, anak lsma’il. Namun, ada suatu pujian tak langsung kepada lsma’il dan ibunya dalam Mazmur yang menyatakan, “Betapa indahnya tempat ibadah mereka, suatu ‘Rumah Allah’. Juga ketika bercerita tentang keajaiban Zamzam yg membuat mereka senang melintasi perkampungan itu: “segala rahmat Allah bagi pemimpinnya, yg kekuatan jiwanya menjadi jalan orang-orang yang melakukan perjalanan ke Mekah dengan aman”.
Ketika Hajar dan lsmail telah sampai di tujuan, Ibrahim masih hidup 75 tahun lagi, dan beliau mengunjungi putranya di tanah suci tempat Hajar dituntun itu. Alquran menyatakan bahwa Allah menunjukkan kepada Ibrahim tempat yang jelas, di dekat sumur Zamzam, di mana ia dan lsma’il harus membangun rumah suci di atasnya. Bangunan itu disebut Ka’bah, “Kubus” sesuai dengan bentuknya; memiliki empat sudut yang menunjukkan empat arah mata angin. Namun, sebenamya benda yang paling suci di sana adalah sebongkah batu,
yang, menurut riwayat, dibawa Jibril kepada Ibrahim dr suatu tempat di dekat Abu Qubaysy “Batu ini, ketika turun dari surga, lebih putih ketimbang susu, namun dosa-dosa anak Adam telah membuatnya hitam”. Batu hitam tersebut kemudian diletakkan di salah satu sudut Ka’bah. Ketika rumah suci itu telah selesai dibangun, Allah berfirman kepada Ibrahim dan mengajarkan berbagai ritual menunaikan ibadah haji ke Bakkah-atau Mekah, seperti kemudian ia disebut:
“Aku sucikan rumahKu bagi orang-orang yang tawaf dan bagi yg sujud dan rukuk. Dan sampaikanlah kepada umat manusia untuk menjalankan haji, dan mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau dengan menunggang unta yg kurus, yang datang dari segala penjuru yang jauh”.
Hajar menceritakan kepada Ibrahim peristiwa yang dialaminya saat mencari pertolongan, dan Ibrahim kemudian menjadikannya sebagai bagian dari ritual ibadah haji, yaitu berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Kemudian Ibrahim berdoa di Kanaan, mendambakan padang pasir yang subur dan ditumbuhi dengan jagung dan gandum:
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yg tidak mempunyai tetumbuhan di dekat Rumah-Mu (Bait Allah) yg dihormati. Ya Allah itu agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia untuk cenderung kepada mereka dan limpahkanlah rejeki berupa buah-buahan, dan mudah2an mereka bersyukur”.
Tulisan dikirimkan oleh pengelola:
Sekolah Al Quran Serpong

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.