BESTTANGSEL.COM, BSD TANGSEL– Miom dan kista merupakan dua kondisi kesehatan reproduksi yang sering dialami wanita. Meski umumnya jinak, keduanya dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesuburan jika tidak ditangani dengan tepat. dr. Budi Santoso, Sp.OG, FMAS, Dokter Spesialis Kandungan di Eka Hospital BSD, menjelaskan perbedaan, penyebab, serta dampak dari kedua kondisi ini.

Apa Bedanya Miom dan Kista?

Menurut dr. Budi, miom (fibroid rahim) adalah pertumbuhan jaringan otot di dinding rahim yang bersifat non-kanker. Sementara kista, yang sering terbentuk di ovarium (indung telur), adalah kantong berisi cairan. “Miom seperti tumor padat dari jaringan, sedangkan kista lebih menyerupai kantung berisi cairan,” jelas dr. Budi, pada Selasa, (27/1).

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti miom belum diketahui, namun diduga kuat dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron. Faktor risikonya meliputi obesitas, riwayat keluarga, menstruasi dini, dan ketidakseimbangan hormon.

Sementara itu, kista ovarium sering terbentuk secara alami selama siklus ovulasi. Penyebab lainnya adalah endometriosis, PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik), penyakit radang panggul, atau pembelahan sel abnormal.

Gejala yang Sering Diabaikan

Miom dan Kista keduanya bisa tanpa gejala, terutama jika ukurannya kecil. Gejala biasanya muncul saat ukurannya membesar.

Gejala miom: perdarahan di luar menstruasi, nyeri haid hebat, perut bawah buncit, sering buang air kecil, nyeri saat berhubungan intim, dan nyeri punggung.

Gejala kista: nyeri panggul atau punggung bawah, perut terasa penuh, menstruasi tidak teratur, dan nyeri saat berhubungan seks.

Dampak pada Kesehatan Reproduksi

dr. Budi menekankan bahwa meski seringkali tidak berbahaya, kedua kondisi ini dapat memengaruhi reproduksi. “Miom jarang menyebabkan infertilitas, tetapi dapat memicu komplikasi kehamilan seperti solusio plasenta, hambatan pertumbuhan janin, atau kelahiran prematur,” ujarnya.

Sementara kista, terutama yang terkait PCOS, dapat menurunkan peluang kehamilan karena mengganggu proses pematangan sel telur.

Pencegahan dan Kapan Harus ke Dokter

Karena penyebab pastinya tidak diketahui, pencegahan mutlak sulit dilakukan. Namun, menjaga berat badan ideal dan pemeriksaan panggul rutin dapat membantu mengurangi risiko dan mendeteksi dini.

Segera konsultasi ke dokter jika mengalami:

– Menstruasi tidak teratur, sangat banyak, atau sangat sakit.

– Perdarahan di luar siklus menstruasi.

– Nyeri perut atau panggul yang menetap.

– Perut membuncit tidak wajar.

– Nyeri saat berhubungan intim.

– Rencana hamil dengan riwayat miom atau kista.

“Penanganan tidak selalu berupa operasi. Pemantauan rutin dan pengobatan sesuai kondisi pasien seringkali cukup. Kunci utamanya adalah deteksi dini,” pungkas dr. Budi Santoso.

Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai kesehatan reproduksi, masyarakat dapat menghubungi dr. Budi Santoso, Sp.OG, FMAS di Eka Hospital BSD melalui Call Center 1500129 atau WhatsApp 08891500129 untuk menjadwalkan pemeriksaan. (red/*)

Leave a Reply