BESTTANGSEL.COM, Tangerang- Program business matching menjadi salah satu agenda penting dalam gelaran Krista Interfood 2026 yang berlangsung di NICE PIK 2, 4-7 November 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) pangan dengan industri besar untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional.
Talkshow yang menghadirkan Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman dan Rakhmat Yulianto dari Kementerian Investasi tersebut membahas peluang pengembangan industri pangan nasional melalui kemitraan antara IKM dan industri besar.
Dalam diskusi tersebut, business matching dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan pelaku IKM, sekaligus mendorong peningkatan kualitas dan daya saing produk pangan Indonesia.
Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menyoroti besarnya potensi industri makanan dan minuman Indonesia yang didukung oleh pertumbuhan penduduk, kekayaan sumber daya alam, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.
Menurutnya, perkembangan industri pangan juga dipengaruhi oleh perubahan preferensi konsumen, terutama generasi muda yang semakin tertarik mencoba berbagai produk baru.
Tren makanan dan minuman yang berkembang melalui media sosial turut membuka peluang bagi pelaku industri untuk menghadirkan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kondisi tersebut menjadi kesempatan bagi IKM pangan untuk mengembangkan produk yang memiliki nilai tambah sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
Di tengah peluang tersebut, penguatan kolaborasi antara IKM dan industri besar menjadi penting agar pelaku usaha kecil dapat berperan lebih besar dalam rantai pasok industri makanan dan minuman nasional.
Business Matching Buka Akses Pasar IKM
Rakhmat Yulianto dari Kementerian Investasi menyoroti pentingnya mempertemukan pelaku IKM dengan calon mitra yang tepat agar peluang kerja sama dapat berkembang menjadi kemitraan bisnis berkelanjutan.
Business matching tidak sekadar mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi sarana untuk mengidentifikasi kebutuhan industri, menyesuaikan spesifikasi produk, serta membangun komunikasi antara calon mitra usaha.
Dalam proses tersebut, pelaku IKM perlu mempersiapkan produk sesuai kebutuhan calon pembeli, mulai dari kualitas, konsistensi rasa, kemasan, harga, hingga kapasitas produksi.
Kemitraan dengan industri besar juga membutuhkan proses evaluasi dan penyesuaian. Karena itu, kesepakatan bisnis tidak selalu dapat tercapai dalam waktu singkat.
Melalui business matching, pelaku IKM diharapkan memperoleh akses komunikasi yang lebih luas dengan industri besar, sementara calon mitra dapat menemukan pemasok yang sesuai dengan kebutuhan produksinya.
Produk Intermediate Jadi Peluang Pengembangan IKM Pangan
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan pelaku IKM pangan adalah produk intermediate atau produk setengah jadi yang digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman lainnya.
Produk intermediate dinilai memiliki potensi untuk memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Beberapa produk yang dapat dikembangkan antara lain tepung pisang, pasta cabai, ikan lumat beku, tepung kelapa atau desiccated coconut, hingga tepung, minyak, dan produk alpukat beku.
Pengolahan bahan baku menjadi produk intermediate juga dapat membantu menjaga ketersediaan bahan baku sepanjang tahun, mengurangi ketergantungan terhadap musim panen, serta meningkatkan efisiensi produksi.
Selain itu, pengembangan produk intermediate membuka peluang bagi IKM untuk menjadi pemasok bahan baku bagi industri besar, termasuk sektor hotel, restoran, dan katering (Horeca). (red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.