Koordinator Fungsi IKM Makanan - Direktorat IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Kemenperin, Indra Akbar Dilana (kiri) berfoto bersama Direktur Rasa Prima Eko Pratama (kanan) dalam boncang-bincang Indonesia Food Innovation yang digelar di KristaInterfood 2026 di PIK 2, Tangerang Banten.
BESTTANGSEL.COM, Tangerang– Industri kecil menengah (IKM) pangan memiliki peluang besar untuk berkembang melalui kemitraan dengan industri berskala besar. Salah satu pelaku usaha yang berhasil memanfaatkan peluang tersebut adalah Rasa Prima, produsen bumbu masak yang mengawali bisnis dari skala rumahan hingga mampu memasok kebutuhan industri hotel, restoran, dan kafe (horeka) dengan kapasitas produksi mencapai 500 ton per bulan.
Keberhasilan Rasa Prima dalam mengembangkan produk dan memperluas pasar menjadi salah satu contoh bagaimana IKM pangan dapat meningkatkan daya saing melalui inovasi, standardisasi, serta kemitraan dengan industri besar.
Direktur Rasa Prima, Eko Pratama, mengungkapkan bahwa usaha yang dirintis pada 2014 tersebut berawal dari kecintaan terhadap makanan Indonesia. Pengalaman saat bepergian ke berbagai daerah maupun luar negeri menjadi salah satu inspirasi untuk menciptakan produk bumbu masak yang dapat menghadirkan cita rasa khas Indonesia secara praktis.
“Awal mula usaha ini berangkat dari kecintaan kami terhadap makanan Indonesia pada 2014. Terkadang, ketika sedang bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, kita merasakan bahwa cita rasa makanan yang tersedia tidak selalu sesuai dengan selera kita. Dari situ, akhirnya kami mencoba membuat produk sendiri,” kata Eko dalam bincang-bincang bertajuk *Kemitraan IKM dan Industri Besar Memperkuat Rantai Pasok Pangan* di Krista Interfood Expo 2026, NICE PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (4/11/2026).
Menurut Eko, perjalanan bisnis Rasa Prima dimulai dari produksi skala kecil di rumah hingga secara bertahap berkembang menjadi sebuah brand yang memproduksi beragam bumbu masak.
“Kami benar-benar memulai dari skala kecil, kemudian perlahan berkembang hingga akhirnya membangun sebuah brand,” ungkap Eko.
Produk yang dikembangkan Rasa Prima pada awalnya berfokus pada bumbu masak, mulai dari bumbu nasi goreng. Seiring perkembangan usaha, perusahaan tersebut juga memperluas lini produknya dengan menghadirkan berbagai sambal dan saus.
Pada tahap awal, Rasa Prima menyasar pasar modern atau retail. Produk dikembangkan agar masyarakat dapat menikmati masakan Indonesia dengan cita rasa yang sesuai selera, di mana pun berada, melalui cara penyajian yang lebih praktis dan mudah.
Namun, perkembangan bisnis kemudian mendorong Rasa Prima untuk memperluas pasar ke segmen horeka dan katering. Perubahan strategi tersebut justru memberikan peluang pertumbuhan yang signifikan, termasuk ketika pandemi COVID-19 melanda.
“Awalnya kami lebih fokus pada retail, tetapi kemudian mulai mengalihkan fokus ke segmen horeka dan katering. Justru pada masa pandemi COVID-19, bisnis kami mengalami pertumbuhan yang cukup baik di segmen horeka. Tanpa harus melakukan promosi secara berlebihan, bisnis kami justru berkembang melalui segmen tersebut. Dari situlah akhirnya kami memutuskan untuk terus mengembangkan ke bisnis horeka,” papar Eko.
Perkuat Rantai Pasok Industri Makanan
Peralihan ke segmen horeka membuat Rasa Prima semakin fokus memenuhi kebutuhan jaringan restoran dan perusahaan katering yang membutuhkan produk bumbu masak dalam jumlah besar dengan kualitas dan cita rasa yang konsisten.
Eko menjelaskan, Rasa Prima saat ini telah memasok produk kepada sejumlah perusahaan besar, di antaranya Ismaya dan Boga Group.
“Jadi, fokus utama kami adalah memasok kebutuhan jaringan restoran (restaurant chain) dan perusahaan katering. Salah satunya, Rasa Prima sudah memasok produk ke beberapa perusahaan, seperti Ismaya dan Boga Group. Kami juga memiliki beberapa produk yang digunakan untuk kebutuhan industri makanan Indonesia. Untuk Boga Group, misalnya, kami memasok produk berbahan dasar roa, seperti bumbu nasi goreng roa, sambal lingua roa, dan sebagainya,” tambah Eko.
Peningkatan permintaan dari segmen horeka turut mendorong pertumbuhan kapasitas produksi perusahaan. Jika sebelumnya Rasa Prima hanya mampu memproduksi sekitar 20 ton per bulan, kini kapasitas produksinya meningkat hingga 500 ton per bulan.
“Produksi produk bumbu, sambal, dan saus kami kini mencapai 500 ton per bulan,” ungkap Eko.
Ke depan, Rasa Prima terus menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah industri, termasuk perusahaan berskala besar. Salah satu target pengembangan bisnisnya adalah menjadi pemasok bagi industri makanan siap saji atau ready to eat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi IKM pangan dalam rantai pasok industri makanan nasional.
Program Indonesia Food Innovation Dorong Daya Saing IKM
Perkembangan Rasa Prima tidak terlepas dari dukungan program Indonesia Food Innovation (IFI) yang diluncurkan oleh Kementerian Perindustrian. Program ini dirancang untuk mendorong IKM pangan mengembangkan produk bernilai tambah, meningkatkan kualitas, serta mempersiapkan pelaku usaha agar mampu menembus pasar industri besar.
Rasa Prima menjadi salah satu peserta program IFI pada 2023 yang berhasil mengembangkan produk bumbu masak dan memperluas peluang bisnisnya.
Koordinator Fungsi IKM Makanan Direktorat IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan Kementerian Perindustrian, Indra Akbar Dilana, mengatakan program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mendukung pengembangan IKM pangan.
“IKM pangan ini sukses mengembangkan produk berupa bumbu,” kata Indra.
Eko mengakui, keikutsertaan dalam program IFI memberikan banyak manfaat bagi pengembangan bisnis Rasa Prima, terutama dalam meningkatkan kemampuan produksi, menjaga kualitas produk, serta memperluas pemasaran.
“Terutama kami mendapatkan pelatihan intensif kurang lebih satu bulan, kami benar-benar dibekali dari sisi standarisasi bagaimana cara mengolah produk agar kualitasnya terjaga dan produk bisa konsisten. Selain itu kami juga mendapatkan dukungan dan pembelajaran mengenai pemasaran. Bagaimana cara memasarkan produk semakin dikenal dan menarik minat konsumen untuk membeli,” ungkap Eko.
Melalui pelatihan tersebut, pelaku IKM mendapatkan pembekalan mengenai standardisasi proses produksi agar mampu menghasilkan produk dengan mutu yang terjaga dan konsisten. Aspek pemasaran juga menjadi perhatian untuk membantu produk IKM semakin dikenal dan memiliki daya tarik bagi konsumen maupun mitra industri.
Selain pelatihan, peserta IFI juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pameran untuk memperkenalkan produk dan membuka peluang kerja sama bisnis.
“Dalam beberapa kesempatan kami juga mendapatkan fasilitas stand dan booth secara gratis,” ujar Eko.
Dukungan lainnya diberikan melalui fasilitasi sertifikasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan memenuhi persyaratan industri. Rasa Prima, misalnya, mendapatkan dukungan dalam memperoleh sertifikasi HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) yang berkaitan dengan sistem pengendalian keamanan pangan.
Kemitraan Jadi Peluang IKM Naik Kelas
Pengalaman Rasa Prima menunjukkan bahwa pengembangan IKM pangan tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga kesiapan memenuhi standar industri, menjaga konsistensi kualitas, serta membangun kemitraan yang berkelanjutan.
Melalui program IFI, pemerintah mendorong IKM agar mampu mengembangkan produk antara (intermediate product) yang memiliki nilai tambah dan dapat menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.
Model kemitraan tersebut membuka peluang bagi IKM untuk memperluas pasar, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus memperoleh kepastian permintaan dari mitra industri.
Bagi Rasa Prima, perjalanan dari usaha rumahan hingga menjadi pemasok industri horeka menjadi bukti bahwa produk pangan lokal memiliki peluang untuk berkembang lebih luas apabila didukung inovasi, peningkatan kualitas, dan akses pasar yang tepat.
Dengan terus menjajaki kerja sama dengan industri besar, Rasa Prima berharap dapat memperluas kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan industri makanan nasional, termasuk sektor makanan siap saji yang terus berkembang. (red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.