BESTTANGSEL.COM, Tangerang- Industri teh Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing di pasar internasional. Namun, potensi tersebut perlu didukung peningkatan kualitas produk, penguatan branding, edukasi masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia yang mampu menghadirkan inovasi produk teh bernilai ekonomi tinggi. Semangat itulah yang melatarbelakangi peluncuran Krista Indonesia Tea Artisan Championship (KITA Championship), sebuah ajang kompetisi sekaligus wadah pengembangan talenta artisan teh Indonesia. Program ini merupakan kolaborasi Asosiasi Artisan Teh Indonesia (ARTI) dengan Krista Exhibitions. KITA diluncurkan diajang KRISTAInterFood 2026, yang digelar di NICE PIK 2 mulai 4-7 November 2026.

Founder Sila Artisan Teh sekaligus Ketua Umum ARTI, Redha Taufik Ardias, mengatakan KITA Championship tidak sekadar menjadi ajang kompetisi untuk menunjukkan keterampilan meracik minuman teh. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang sebagai sarana mempromosikan teh berkualitas tinggi asal Indonesia agar semakin dikenal masyarakat dan memiliki daya saing di pasar global.

Menurut Redha, gagasan menghadirkan kompetisi tersebut telah dirancang sebagai bagian dari upaya membangun apresiasi terhadap teh Indonesia, khususnya produk teh berkualitas tinggi atau yang memiliki standar setara grade ekspor.

Selama ini, kata dia, teh berkualitas terbaik Indonesia justru banyak dipasarkan ke luar negeri. Sementara ketika kembali dikenal masyarakat dalam bentuk produk bermerek, tidak sedikit yang menggunakan brand asing.

“Padahal, dengan kapasitas dan kapabilitas yang kita miliki sekarang, pasar dalam negeri juga bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan brand-brand baru khas Indonesia, dengan produk teh asli Indonesia. Kita tidak boleh kalah dengan teh dari luar negeri,” ujar Redha.

Ia menjelaskan, ARTI selama ini berperan meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap potensi teh Nusantara melalui berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, dan workshop.

Sejak pengembangan program melalui Sila Artisan Teh hingga terbentuknya asosiasi, lebih dari 100 workshop telah diselenggarakan. Setiap kegiatan diikuti sekitar 10 hingga 50 peserta, bahkan beberapa kegiatan mencapai 65 orang.

Melalui kegiatan tersebut, ARTI berupaya mengubah pandangan masyarakat yang selama ini menganggap teh Indonesia sebagai produk murah dan kurang memiliki nilai ekonomi.

Redha menilai, teh Indonesia sebenarnya dapat memiliki nilai jual lebih tinggi apabila dikembangkan melalui inovasi, pengalaman menikmati teh atau tea experience, serta strategi branding yang tepat.

“Jangan lagi melihat teh Indonesia sebagai produk yang harus selalu murah. Teh Indonesia seharusnya menjadi referensi bagi masyarakat yang ingin menikmati minuman teh berkualitas dan memiliki karakter khas,” katanya.

Meningkatkan Kesejahteraan Petani Teh

Lebih jauh, Redha menegaskan bahwa penguatan citra dan nilai ekonomi teh Indonesia bukan semata-mata untuk kepentingan pelaku usaha, tetapi juga berkaitan erat dengan kesejahteraan petani dan keberlangsungan perkebunan teh nasional.

Menurutnya, penurunan nilai ekonomi teh berdampak terhadap keberlanjutan perkebunan. Dalam sekitar dua dekade terakhir, lahan perkebunan teh Indonesia mengalami penyusutan akibat berbagai faktor, termasuk alih fungsi lahan.

Karena itu, peningkatan nilai jual teh harus menjadi perhatian bersama agar petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik dan tetap memiliki motivasi untuk mempertahankan perkebunannya.

“Fokus kami adalah meningkatkan kesejahteraan petani teh Indonesia. Dengan begitu, kebun-kebun teh dan alam Indonesia juga tetap terjaga,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, teh yang dijual dengan harga sangat murah, bahkan terkadang diberikan secara gratis di rumah makan, menimbulkan pertanyaan mengenai nilai sebenarnya dari komoditas tersebut, termasuk harga yang diterima petani.

Menurut Redha, persoalan tersebut perlu dijawab melalui peningkatan kualitas, pengolahan, dan penguatan identitas produk teh Indonesia.

Teh Indonesia Memiliki Banyak Karakter

Redha juga menjelaskan bahwa teh memiliki keragaman karakter yang jauh lebih luas dibandingkan pemahaman masyarakat selama ini.

Masyarakat umumnya hanya mengenal teh hitam dan teh hijau. Padahal, berdasarkan proses pengolahannya, teh memiliki berbagai jenis, antara lain teh putih, teh kuning, teh merah, teh hijau, dan teh hitam.

Menariknya, berbagai jenis teh tersebut dapat berasal dari daun tanaman yang sama, tetapi menghasilkan karakter berbeda karena teknik pengolahan yang digunakan.

Selain itu, Indonesia memiliki varietas teh seperti camellia sinensis var. assamica dan sinensis yang dapat menghasilkan cita rasa khas sesuai karakter tanaman dan daerah asalnya.

Dengan pendekatan tersebut, teh Indonesia juga berpeluang dikembangkan melalui konsep single origin, sebagaimana keberhasilan industri kopi dalam memperkenalkan karakter produk berdasarkan daerah asal.

“Kita berharap teh bisa mengikuti jejak kopi untuk menjadi minuman kebanggaan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

KITA Championship Jadi Panggung Talenta Artisan Teh

Redha menjelaskan, KITA Championship merupakan kelanjutan dari pengalaman ARTI mengembangkan program Artisan Tea Talent selama empat tahun terakhir.

Program tersebut menjadi ajang pencarian dan pembinaan talenta yang memiliki kemampuan dalam mengolah serta menyajikan minuman berbasis teh. Para peserta tidak hanya dilatih membuat minuman, tetapi juga didorong mengembangkan kreativitas dan keterampilan agar mampu tampil dalam berbagai kegiatan promosi dan edukasi teh.

Kolaborasi dengan Krista Exhibitions dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan program tersebut.

Ia menyebutkan, Krista telah memberikan dukungan sejak peluncuran program Artisan Tea Talent di Bandung pada 2022. Kini, kerja sama tersebut berlanjut melalui KITA Championship yang diharapkan berkembang menjadi kompetisi artisan teh berskala nasional.

Saat peluncuran, diperkenalkan tiga talenta sebagai bagian dari pengenalan awal program. Jumlah peserta kompetisi berikutnya akan dikembangkan melalui agenda yang disiapkan pada tahun mendatang.

Saat ini, ARTI memiliki sekitar 30 anggota aktif dari berbagai latar belakang, mulai dari pelaku UMKM, pengusaha, pemilik perkebunan teh swasta, hingga masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap industri teh.

Redha berharap peluncuran KITA Championship dapat memperluas jaringan organisasi sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk terlibat dalam pengembangan industri teh Indonesia.

“Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan siapa pun yang memiliki visi yang sama untuk memajukan teh Indonesia,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa istilah artisan tidak hanya merujuk pada seseorang yang terampil membuat minuman. Seorang artisan harus memiliki pengetahuan mendalam mengenai produk yang dihasilkan, menguasai keterampilan pengolahan, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Dikembangkan ke Berbagai Daerah

Hadir dalam peluncuran KITA Championship, Founder Krista Exhibitions, Christina Sudjie mengatakan bahwa kolaborasi KITA dengan Krista Exhibitions membuka peluang bagi KITA Championship untuk berkembang ke berbagai kota di Indonesia.

Dalam rencana pengembangannya, kompetisi ini akan dihadirkan dalam rangkaian pameran F&B Expo yang diselenggarakan Krista, antara lain di Yogyakarta, Bali, Surabaya, dan sejumlah daerah lainnya.

“Selain kompetisi, program ini juga akan diperkuat dengan kegiatan edukasi, pelatihan, serta publikasi melalui majalah Krista Interfood,” ujar Christina Sudjie.

“Promosi media tersebut diharapkan menjadi ruang bagi para talenta artisan teh untuk memperkenalkan kreativitas, berbagi resep, dan mengikuti perkembangan tren minuman berbasis teh,” tandasnya. (red/*)

Leave a Reply