Selain menjadi ajang unjuk keterampilan dan kreativitas dalam mengolah makanan, La Cuisine Competition 2026 juga diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi baru chef profesional yang memiliki kemampuan, kepercayaan diri, serta daya saing di industri kuliner.

Ditemui di arena lomba, pada Kamis (5/11), La Cuisine Competition 2026, salah seorang Juri, Mili Hendratno, mengatakan jumlah peserta yang cukup besar menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat, khususnya kalangan anak muda, untuk mengembangkan kemampuan di bidang kuliner.

“Pesertanya lumayan banyak dan kita banyak juga kelasnya, dari tingkat anak muda sampai yang lebih profesional. Kategorinya juga banyak,” ujar Mili saat ditemui di sela-sela kompetisi.

Menurutnya, kompetisi ini tidak sekadar menjadi ajang untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga sarana pembelajaran bagi peserta dalam memperkuat kemampuan dasar memasak sekaligus mengembangkan kreativitas.

“Kita berharap acara ini bisa memotivasi para anak muda untuk terus berkarya dan terus semangat. Ini juga melengkapi basic mereka, memperkuat mereka, dan ke depannya semoga ada regenerasi yang lebih bagus lagi,” katanya.

Sejumlah kategori yang dipertandingkan antara lain jajanan pasar, cooking chicken, Asian main course, beef Asian main course, ayam bakar, sate-satean, serta pastry. Ragam kategori tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan dalam mengolah berbagai jenis hidangan, baik tradisional maupun internasional.

Penilaian Libatkan Juri Nasional dan Internasional

Dalam pelaksanaannya, kompetisi La Cuisine 2026 melibatkan juri dari Indonesia maupun sejumlah negara lain, di antaranya Thailand, Singapura, Malaysia, dan Australia.

Mili menjelaskan, setiap kelas kompetisi umumnya dinilai oleh empat hingga lima juri yang dipimpin seorang juri senior. Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan proses penilaian berlangsung secara objektif dan menyeluruh.

Adapun kriteria penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir makanan, tetapi juga mencakup proses dan teknik pengolahan.

“Kriteria penjurian banyak. Pertama dari persiapan. Kedua, sekuens dari produknya itu sendiri, cara handling-nya, terus ada waktunya juga,” jelasnya.

Aspek lain yang turut diperhitungkan meliputi kebersihan dan sanitasi, pengelolaan limbah atau waste, teknik memasak, hingga presentasi hidangan.

Namun, cita rasa tetap menjadi salah satu komponen penting dalam penilaian.

“Yang paling besar ada nilainya poinnya adalah rasa dengan presentasi juga ada 10 poin untuk rasa,” ungkap Mili.

Ia berharap peserta mampu menghasilkan hidangan yang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki tampilan menarik, komposisi dan porsi yang tepat, serta menggunakan teknik pengolahan yang baik.

Menurutnya, perpaduan antara rasa, penampilan, dan keterampilan teknis menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi seorang chef profesional.

Kompetisi Menjadi Sarana Melatih Mental dan Kepercayaan Diri

Syauqillah, mahasiswi semester III Politeknik Sahid Pondok Cabe, salah seorang peserta La Cuisine Culinary Competition 2026, kategori Jajanan Pasar.

Mili juga menyoroti pentingnya keterlibatan anak muda dalam kompetisi kuliner sebagai bagian dari proses regenerasi tenaga profesional di industri makanan dan minuman.

Ia menegaskan, keberhasilan peserta tidak semata-mata diukur dari kemenangan atau kekalahan. Keberanian untuk tampil dan menyelesaikan tantangan kompetisi juga merupakan pencapaian tersendiri.

“Ini bukan menang atau kalah. Saya selalu mengarahkan untuk anak-anak ini, kalian harus apresiasi sama diri kalian sendiri. Bahwa kalian bisa percaya diri buat datang ke sini, dan kalian bisa menyelesaikan waktunya, menurut saya sudah prestasi. Tinggal kalian next-nya apa? Belajar lagi,” tuturnya.

Lebih jauh, ia menilai suasana kompetisi yang penuh tekanan dapat menjadi bekal berharga ketika peserta memasuki dunia kerja.

Menurutnya, kemampuan bekerja secara teliti dalam situasi penuh tekanan merupakan keterampilan yang perlu terus diasah oleh calon chef.

“Pertandingan itu kan pressure juga. Itu mereka bisa bawa juga pas di dunia pekerjaan. Ketika pressure itu ada, mereka akan bekerja dengan detail. Mereka kadang-kadang kena pressure, kita kerja jadi nggak bisa detail. Tapi ketika itu dilatih terus, itu kan menjadi satu kesempurnaan buat mereka juga dalam pekerjaan,” paparnya.

Mili mengakui kemampuan peserta dalam kompetisi tentu beragam. Ada yang tampil sangat baik, berada di tingkat menengah, maupun masih membutuhkan banyak pembelajaran.

Namun, kondisi tersebut dinilai sebagai bagian normal dari sebuah kompetisi. Ia justru mengapresiasi keberanian peserta yang berasal dari sekolah kejuruan maupun perguruan tinggi untuk mencoba pengalaman baru di tingkat internasional.

“Kita sebagai juri tidak mau menjatuhkan mereka. Tapi bagaimana caranya kita memotivasi mereka, untuk mereka terus berkarya dan terus berjuang, berjuang dan berjuang,” tegasnya.

Ia juga menilai kemampuan chef Indonesia semakin berkembang dan mampu bersaing dengan peserta dari negara lain. Antusiasme masyarakat yang menyaksikan kompetisi kuliner menjadi salah satu indikasi meningkatnya perhatian terhadap industri kuliner nasional.

Peserta Mendapat Pengalaman dan Peluang Membangun Jejaring

Selain keterampilan teknis, kompetisi La Cuisine 2026 juga memberikan manfaat lain bagi peserta, mulai dari pengalaman bertanding, peningkatan kepercayaan diri, hingga kesempatan membangun jejaring dengan sesama pelaku industri kuliner.

“Yang pasti sekarang benefit satu, ini adalah satu experience buat mereka. Di mana mereka juga secara nggak langsung butuh upgrade juga. Benefitnya apa? Satu experience, confidence-nya juga,” kata Mili.

Ia menambahkan, pertemuan dengan peserta dan praktisi dari berbagai latar belakang juga membuka ruang untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

“Akhirnya mereka juga punya benefit ketemu link sesama industri untuk berkumpul. Untuk bercerita, untuk sharing each other. Jadi semuanya sharing is caring,” tambahnya.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Syauqillah, mahasiswi semester III Politeknik Sahid Pondok Cabe, yang untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi La Cuisine pada kategori jajanan pasar.

Dalam kompetisi tersebut, Syauqillah menghadirkan sejumlah kreasi jajanan tradisional dengan sentuhan inovasi, yakni pisang ijo tartlet, cantik manis terakota, putu mayang, talam ubi, dan klepon.

Ia menjelaskan, peserta dituntut tidak hanya mampu membuat makanan sesuai resep, tetapi juga menghadirkan kreativitas dan inovasi dalam penyajiannya.

“Saya ikut kelas jajanan pasar. Saya bikin pisang ijo tartlet, cantik manis terakota, putu mayang, talam ubi dan klepon. Harus inovasi, misal pisang ijonya dibuat jadi tartlet,” ungkap Syauqillah.

Bagi Syauqillah, keikutsertaannya dalam kompetisi berskala internasional tersebut menjadi pengalaman berharga, terlebih karena ini merupakan kali pertama dirinya mengikuti perlombaan kuliner.

“Jadi sebuah pengalaman bagi saya yang baru perdana ikut lomba, tetapi sudah internasional di acara ini. Jadi bisa jadi portofolio buat saya,” katanya.

Apresiasi Penyelenggaraan dan Fasilitas Kompetisi

Di sisi lain, Mili turut mengapresiasi Krista Exhibitions sebagai penyelenggara yang telah menghadirkan kompetisi kuliner berskala besar dengan fasilitas dan kenyamanan venue yang mendukung.

Menurutnya, penggunaan venue baru untuk penyelenggaraan KristaInterfood menjadi salah satu perkembangan positif, terutama dari sisi fasilitas, kebersihan, kenyamanan, dan pendingin ruangan yang menunjang aktivitas peserta maupun juri.

“Jujurnya saya really appreciate sama Krista untuk ngadain event sebesar ini. Dan tidak mudah juga bikin event sebesar ini,” ujarnya.

Ia menilai fasilitas yang tersedia mampu mendukung penyelenggaraan pameran dan kompetisi berskala internasional.

“Menurut saya juga nggak kalah sama exhibition yang ada di Singapura. Kita masih bisa bersaing,” katanya.

Mili berharap penyelenggaraan KristaInterfood di lokasi tersebut dapat terus berlanjut dan ditingkatkan, baik dari segi kenyamanan, kedisiplinan, maupun kerapian penyelenggaraan.

Dengan jumlah peserta yang mencapai sekitar 1000 orang lebih serta keterlibatan juri nasional dan internasional, La Cuisine Culinary Competition 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan talenta kuliner Indonesia.

Melalui pengalaman bertanding dan kesempatan berinteraksi dengan para profesional, generasi muda diharapkan semakin siap mengembangkan potensi serta mengambil peran dalam regenerasi chef Indonesia di masa mendatang. (red/*)

Leave a Reply