BESTTANGSEL.COM, DEPOK- Meski tidak mempengaruhi kesuburan, sunat ternyata membawa banyak manfaat bagi kesehatan, di antaranya perlindungan dari penyakit menular seksual dan infeksi saluran kemih.

Berbicara tentang sunat, saat ini memang telah tersedia berbagai metode sunat, namun metode klasik ternyata masih menjadi pilihan utama para orang tua. Sebab metode sunat klasik (memotong kulup) memiliki banyak kelebihan dibanding dengan metode modern seperti laser atau klem. Bahkan uniknya dengan metode klasik, pasien sunat atau orang tua yang anaknya ingin disunat bisa merekontruksi bentuk Mr. P (penis). Namun sayangnya tidak banyak rumah sakit yang menggunakan metode klasik ini. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Brawijaya (Brawijaya Hospital) Sawangan Depok, adalah salah satu Rumah Sakit yang menggunakan metode klasik pada sunat.

“Ada beberapa kelebihan dari metode sunat klasik, di antaranya luka lebih cepat kering dan pasien hanya mengalami nyeri beberapa saat saja sebelum proses pemotongan, setelah selesai pasien tidak akan merasakan nyeri lagi dan sudah bisa langsung berjalan. Berbeda dengan metode modern seperti klem atau laser, dimana pasien sunat harus merasakan nyeri selama 10 hari, luka pun lebih lama kering,” tutur dr. Bambang Budiarto Sp. B, dokter spesialis bedah Brawijaya Hospital Sawangan Depok.

Selain lebih cepat sembuh, pada metode klasik, pasien sunat atau orang tua yang ingin anak laki-lakinya disunat, bisa merekontruksi penis atau bentuk sunat yang diinginkan. “Ya ini yang sudah bisa kami lakukan, pasien atau orang tua bisa meminta jenis sunat yang akan dilakukan, seperti memperbesar diameter kepala penis, atau ingin potongan kulup lebih ke bawah,” papar dr. Bambang.

Menurut dr. Bambang, metode klasik adalah cara yang paling aman untuk sunat. Karena sebelum sunat dilakukan biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih dulu pada pasien. Pada pasien anak biasanya akan dicek apakah anak tersebut hemophilia (keluar darah secara terus menerus), atau pada pasien dewasa apakah ada riwayat penyakit diabetes, jika ada maka kami akan menyiapkan perawatan maksimal, agar pasien lebih cepat sembuh dan merasa nyaman,” ujar dr. Bambang.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman menangani pasien, menurut dr. Bambang, ada metode sunat yang sangat tidak disarankan bagi pasien. “Metode tradsionil dengan menggunakan bilah sembilu dan daun-daunan sebagai antiseptik, selain nyeri yang bisa dirasakan pasien, metode tradisionil yang hanya menggunakan daun-daunan untuk alat antiseptik sangatlah tidak aman. Kami pernah menangani kasus infeksi pada pasien sunat yang memilih metode tersebut, ada juga kasus kepala penis yang ikut terpotong, kalau sudah seperti ini akan berdampak tidak baik bagi mental pasien,” imbuhnya.

Untuk itu, saran dr. Bambang, baiknya Sunat dilakukan di rumah sakit, dengan metode klasik yang jauh lebih aman. “Khusus di Brawijaya Hospital kami juga menawarkan pelayanan yang cepat, dan memberi suplemen atau kelengkapan sunat seperti sarung dan lain sebagainya, sehingga pasien tidak usah repot memikirkan perlengkapan pasca sunat. Bagi pasien atau orang tua, cukup menyiapkan mental agar siap untuk disunat,” pungkas dr. Bambang.

 

Asri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.