BESTTANGSEL.COM, DEPOK- Laparoskopi menjadi alternative pembedahan minimal invansif. Metode bedah yang sering disebut dengan operasi lubang kunci ini, hanya membutuhkan sayatan kecil pada perut sekitar 3-4 sayatan kecil. Secara estetik, metode Laparoskopi tidak menimbulkan guratan yang berarti pada perut pasien. Tak heran jika metode Laparoskopi kini menjadi trend operasi, bagi mereka ingin tetap memiliki tampilan perut yang cantik dengan minimal resiko kejadian keloid.
“Laporoskopi itu berasal dari kata Laparo (Abdomen/perut) dan Oskopi (Melihat melalui scope kamera). Operasi Laporoskopi dilakukan hanya dengan membuat sayatan kecil pada bagian perut, sekitar 0,5-1 cm berbeda dengan operasi bedah konvensional dimana sayatannya cukup besar pada perut hingga sepanjang belasan sentimeter. Melalui sayatan kecil ini akan dimasukan alat berupa tabung yang nanti nya diproyeksikan pada monitor video untuk melihat seluruh rongga dalam bagian perut pasien, mulai dari panggul, rahim, hingga bagian atas rongga perut. Melalui monitor, dokter akan melakukan proses tindakan pengobatan ataupun diagnosis pasien. Karena sayatannya kecil, maka resiko yang ditimbulkannya juga sangat kecil, untuk itu metode ini juga sering dikatakan dengan istilah, minimal invansif,” tutur dr. Indra Gazali Sp.OG. FMAS. DMAS. F.ART. FICRS, dokter spesialis Obgyn Brawijaya Hospital Depok, pada Rabu (29/06).
Menurut dr. Indra, Ada banyak keuntungan bagi pasien yang mengambil tindakan Laparoskopi, kenapa? “Karena dilakukan dengan sayatan kecil maka resiko infeksi menjadi lebih kecil, yang biasanya diakibatkan oleh terpaparnya organ dalam perut dengan lingkungan luar berupa bakteri dari luar ke dalam perut yang terbuka. Disamping itu sayatan yang kecil mengurangi resiko pendarahan, sehingga angka kejadian anemia dan kebutuhan transfusi darah selama dan sesudah pembedahan pun berkurang. Dan dengan sayatan kecil tersebut, rasa nyeri setelah operasi cukup minimal dan tidak lama, sehingga lebih sedikit analgesia (obat penahan sakit) yang diperlukan.
Berbeda dengan proses Laparotomi atau operasi bedah konvensional, proses pemulihan pada pasien tindakan Laparoskopi lebih cepat. “Tidak terlalu lama dan pasien sudah bisa mobilisasi sekitar 2-6 jam setelah tindakan. Untuk proses perawatannya pun sangat cepat, umumnya 2-3 hari pasien sudah bisa beraktifitas seperti biasanya,” jelas dokter obgyn yang sangat cekatan dan ramah kepada semua pasiennya.
Meski saat ini sudah ada alat Laparoskopi 3D, namun menurut dr. Indra, alat tersebut tidak berpengaruh pada pasien. “Mau 2D atau 3D alat Laparoskopi tidak berpengaruh pada pasien, pasien tetap mendapatkan perawatan dan waktu kesembuhan yang sama, alat hanya untuk mempermudah kerja dokter saja,” jelas dr. Indra.
Menurut dr. Indra tindakan yang bisa dilakukan dengan Laparoskopi sangat banyak terutama pada bagian ginekologi di antaranya adalah, diagnosis infertilitas (sulit hamil), pengangkatan kista, miom, tubektomi (sterilisasi/kontrasepsi mantap), penyakit radang panggul, kehamilan diluar kandungan (kehamilan ektopik). hingga pengangkatan rahim.
“Tehnik Laparoskopi saat ini bisa dilakukan di Brawijaya Hospital Depok. Brawijaya Hospital Depok terus berupaya meningkatkan layanan bagi masyarakat, termasuk layanan Obgyn,” ucap drg. Hestiningsih, MARS, Direktur Brawijaya Hospital Depok. (Red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.