BESTTANGSEL.COM, SERPONG-Pembaretan 103 personel baru Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tangerang Selatan menuai kecaman. Pasalnya, upacara pembaretan yang dilakukan Wakil Walikota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan kepada anggota baru Sat Pol PP bergaya militerisme.

Diketahui, saat upacara pembaretan, 103 personel baru Sat Pol PP menampilkan tarian-tarian dan yel-yel tak ubahnya yang dilakukan tentara. Bahkan aksi mereka itu juga menirukan Korps baret merah Komando Pasukan Khusus atau Kopassus dengan berteriak-teriak, menghentak hentakkan kaki, memukul mukul dada serta memasang wajah garang.

Indikasi Sat Pol PP Kota Tangsel mencitrakan dirinya seperti militer diperkuat dengan pelatihan yang diterima 103 personelnya melalui pendidikan Pelatihan Dasar, Mental dan Disiplin (Latsarmendis), yang keseluruhannya mengandalkan fisik, dan tak satupun dibekali pendidikan administratif.

Pengamat kebijakan publik Adib Mifhatul menyesalkan upacara pembaretan bergaya militer tersebut. Menurut Adib seharusnya upacara penerimaan personel baru itu dilakukan secara humanis dan sederhana.

“Saya kira tidak terlalu penting model-model gaya militer begitu. Sat Pol PP inikan bukan bagian militer, buat sih bergaya militer?,” ujarnya kepada Radar Banten, Selas (18/1).

Menurut Adib, harusnya anggota Pol PP yang baru itu lebih diajarkan untuk menghadapi dan melayani masyarakat secara humanis dan persuasif. “Harusnya Pol PP itu mengajarkan cara-cara yang humanis, menegakkan Perda secara humanis. Karena yang dihadapi itu masyarakat,” ujarnya.

Adib menyayangkan kebijakan Plt Kasat Pol PP Mursinah yang seolah mendukung gaya-gaya militer masuk kedalam pendidikan Sat Pol PP Kota Tangsel. “Dia gak paham bagaimana mengorganisir sebuah organisasi Pol PP, jangan kaget kalau dia tidak bisa mengawal Perda, ya ngajarinnya begitu. Dia gak tau personelnya mau diarahkan kemana,” jelasnya.

Sementara itu Plt Kasat Pol PP Musrinah belum bisa dimintai konfirmasi. Musrinah belum menjawab baik telepon maupun pesan singkat yang dikirim Radar Banten. “Ibu sedang diluar,” ujar petugas jaga Pol PP saat Radar Banten mencoba menemuinya dikantor.

Terpisah, Sekretaris Sat Pol PP Kota Tangsel Aplahunajat menerangkan maksud pembaretan yang dinilai bergaya militer tersebut. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk tujuan membentuk kedisiplinan tiap-tiap personel.

“Kita inikan tidak hanya menegakkan Perda. Tapi kita juga menegakkan disiplin masyarakat bahkan pegawai Pemkot Tangsel yang berkeliaran di pusat perbelanjaan juga kita tindak. Jadi penting kedisiplinan itu,” ujarnya kepada Radar Banten, Selasa (18/1).

Aplahunajat menbantah Latsarmendis hanya sebatas pelatihan fisik. “Ada juga latihan tentang pengenalan organisasi dan sejarah Tangsel. Jadi tidak latihan fisik saja,” jelasnya. Lebih lanjut Aplahunajat mengatakan 103 personel baru itu masuk kedalam tenaga honorer dan diberi gaji harian. “Gajinya harian, sehari Rp 115.000. Sabtu-Minggu tidak dihitung. Tapi kalau ada panggilan tugas, dihitung lembur,” ujarnya. (RED/SFL)

Leave a Reply