BESTTANGSEL.COM, JAKARTA-Tanpa usaha sengaja, sungguh-sungguh dan konsisten untuk melakukan pembudayaan Pancasila dalam segala ranah pembangunan, bisa saja sekali waktu Pancasila tinggal pepesan kosong. Pernyataan tersebut tertulis dalam buku “Wawasan Pancasila” Karya Yudi Latief, anggota Dewan Pakar Aliansi Kebangsaan.

Lebih jauh tentang isi dari buku Wawasan Pancasila, Aliansi Kebangsaan secara khusus menggelar Bedah Buku Virtual terhadap buku tersebut, sekaligus sebagai momentum peringatan HUT RI Ke-75.

Dalam bedah buku kali ini, Aliansi Kebangsaan menghadirkan beberapa narasumber di antaranya; Henny Supolo Sitepu (Cahaya Guru), Dr. Riwanto Tirto Sudarmo, MA (Peneliti Sosial Independen), Chandra Setiawan (anggota Dewan Rohaniwan MATAKIN) dan Mayjen TNI (Purn) I Dewa Putu Rai (Aliansi Kebangsaan).

Bedah buku yang berlangsung selama 4 jam itu, menyimpulkan bahwa Pancasila sebagai modal sosial (social capital) yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia harus terus menerus dibudayakan secara sadar oleh seluruh bangsa Indonesia utamanya oleh pemegang otoritas kekuasaan.

Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo sangat mengapresiasi terbitnya buku Wawasan Pancasila karya Yudi Latief tersebut. Buku tersebut dinilai sebagai karya paripurna yang sangat fundamental dan komprehensif sebagai penuntun untuk pembudayaan Pancasila.

Dengan cakupan yang komprehensif, penjelasan yang mendalam serta argumentasi dan relevansi yang kuat, karya Yudi Latief tersebut jelas Pontjo, bisa menjadi sumber, baik untuk kepentingan studi Pancasila maupun panduan praktis pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.

Pontjo mengingatkan bahwa bangsa Indonesia lahir dari adanya kesadaran dan pengakuan atas perbedaan-perbedaan sebagai kondisi obyektif bangsa. Pluralitas atau kemajemukan ini baik dalam hal etnis, agama, budaya, bahasa, kepentingan politik, bahkan ideology telah dicarikan titik temunya oleh para pejuang pendahulu kita, yang berkehendak  untuk hidup bersama menjadi sebuah bangsa Indonesia.

Menurutnya,  Pancasila sebagai share values yang kita jadikan penuntun dalam membangun identitas bersama dan menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Upaya memelihara pluraslime sebagai konsensus moral bangsa Indonesia jelas Pontjo, harus terfasilitasi oleh negara dengan baik agar basis-basis ikatan sentimenprimordial bisa mengalami proses transformasi menjadi common domain yang efektif mengawal keutuhan bangsa yang majemuk.

“Kita patut bersyukur memiliki Pancasila yang bisa dipedomani sebagai rujukan untuk mendorong proses transformasi strukyur dan kultur demi terwujudnya common domain identitas keindonesiaan tanpa menegasikan identitas etnisitas dan identitas lainnya. Saya berkeyakinan bahwa dengan Pancasila yang dihayati, dipahami dan dilaksanakan secara jujur, benar dan bertanggungjawab, semua kecenderungan negative destruktif  yang dapat meruntuhkan bangunan bangsa dan negara dapat dicegah,” tutupnya. (**)

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.