BESTTANGSEL.COM, JAKARTA-Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, ada 60 juta UMKM di Indonesia dengan kontribusi Rp 8.573,9 triliun terhadap PDB atau setara 57,8 %. Namun, akibat pandemi virus Corona (COVID-19), hampir 50% atau tepatnya 48,6% UMKM di Indonesia menutup sementara usahanya.

Survey ADB (Asian Development Bank) mengatakan bahwa hampir 50% dari total UMKM sudah menutup usahanya. Kemudian 30% mengalami gangguan permintaan domestik, hampir 20% mengalami gangguan produksi, dan 14,1% mengalami pembatalan kontrak.

Berdasarkan survey ADB, hal tersebut juga dapat dibuktikan dengan jumlah UMKM yang sudah mengajukan restrukturisasi kredit ke perbankan menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), karena tak mampu menyelesaikan kewajibannya akibat pandemi Corona.

Direktur Utama JamSyar, Gatot Suprabowo (tengah), dan Direktur Operasional JamSyar, Achmad Sonhadji (kiri), serta Direktur Keuangan, SDM dan Umum, Endang sri Winarni (kanan).

Lahir sebagai Bank Penjaminan syariah, PT Jamkrindo Syariah atau JamSyar di daulat pemerintah untuk ikut serta dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Tentu bukan tanpa alasan pemerintah menunjuk JamSyar untuk ikut mengatasi kemerosotan ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini.

“Meskipun dalam kondisi pandemi, kinerja JamSyar menunjukkan perusahaan masih tetap survive dan eksis. Per 31 Agustus 2020, total aset Jamsyar sebesar Rp1,25 triliun, sedangkan ekuitas Jamsyar sebesar Rp658,43 miliar. Volume penjaminan pun sepanjang 2020 yang ditarget di angka Rp33,5 triliun, naik dari pencapaian tahun 2019 sebesar Rp28,78 triliun. Sementara itu, realisasi penjaminan per Agustus 2020 telah mencapai Rp22,4 triliun. Ini menjadi alasan JamSyar ikut dalam program PEN,” tutur Direktur Utama JamSyar Gatot Suprabowo, saat menggelar press conference pencapaian kinerja JamSyar,  pada 10 September 2020 lalu.

Selain pencapaian target, faktor kehati-hatian JamSyar dalam memberikan penjaminan juga menjadi hal yang patut diperhitungkan.

“Saat ini sudah ada lebih dari 129.000 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menerima penjaminan dari JamSyar terhadap kredit modal kerja barunya di perbankan. Untuk hal tersebut, JamSyar sudah bekerja sama dengan 10 bank penyalur, dan telah menjamin 129.084 UMKM dengan total volume Rp591,38 miliar atau rata-rata pembiayaan per terjamin Rp4,5 juta. Tentu saja bank yang kami sinergikan adalah bank syariah dengan kriteria sehat,” ungkap Gatot.

“Sekadar informasi, 10 bank yang menjadi penyalur kredit UMKM yang bekerja sama dengan JamSyar, yakni BRI Syariah, Mandiri Syariah, BRI Syariah, BTN Syariah, Bank Jatim Syariah, BTPN Syariah, Maybank Syariah, Bank Jateng Syariah, Bank NTB Syariah, dan Bank Aceh Syariah,” imbuh Gatot.

Gatot juga menjelaskan bahwa untuk penjaminan tersebut, saat ini JamSyar telah menerima imbal jasa kafalah cash basis Rp280,22 miliar, dari target Rp378,1Miliar di 2020 ini. Sedangkan imbal jasa accrual basis juga diproyeksi naik dari Rp215,4 miliar ke target Rp244,7 miliar, dengan realisasi per Agustus 2020 mencapai Rp175,5 miliar.

“Ini menunjukkan kinerja positif JamSyar, dan peningkatan jumlah terjamin yang juga disumbang lewat program PEN, menunjukkan bahwa JamSyar sudah lama berperan dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional,” pungkas Gatot. (Asri)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.