BESTTANGSEL.COM, Jakarta– Gangguan irama jantung atau aritmia sering kali tidak disadari, namun dapat menimbulkan risiko kesehatan serius jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Salah satu jenis aritmia yang paling umum adalah Atrial Fibrilasi (AF), yang diketahui dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat.

Data global menunjukkan sekitar 59–60 juta orang di dunia mengalami Atrial Fibrilasi pada 2019, dan jumlahnya terus meningkat. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini tidak hanya memicu stroke, tetapi juga meningkatkan risiko gagal jantung hingga lima kali, serangan jantung dua kali, serta kematian jantung mendadak hingga 2,5 kali.

Berdasarkan data Siloam Hospitals TB Simatupang, selama periode 2024–2025 ditemukan bahwa 33 persen pasien stroke yang diperiksa menggunakan monitor ambulatori (Holter) ternyata memiliki aritmia. Menariknya, sekitar 37 persen pasien stroke tersebut berada pada usia produktif. Dalam periode yang sama, rumah sakit ini juga telah mendeteksi dan menangani sekitar 1.723 pasien aritmia.

Melihat tingginya risiko tersebut, Siloam Hospitals TB Simatupang bersama Kementerian Kesehatan RI meluncurkan kampanye edukatif “Let’s Check The Beat” pada Kamis, (5/3), yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang aritmia serta pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan EKG.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan bahwa penyakit jantung masih menjadi tantangan kesehatan besar baik secara global maupun nasional.

“Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia dan di Indonesia. Salah satu bentuk gangguan yang perlu mendapat perhatian serius adalah Atrial Fibrilasi, karena sekitar sepertiga pasien tidak menunjukkan gejala sehingga sering tidak terdeteksi hingga terjadi komplikasi seperti stroke,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah telah memperkuat berbagai program deteksi dini, termasuk program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta penyediaan alat EKG di puskesmas. Hingga Desember 2025, tercatat lebih dari 2,4 juta peserta usia di atas 40 tahun dengan hipertensi atau diabetes telah menjalani pemeriksaan EKG.

Sementara itu, Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) dr. Erika Maharani, Sp.JP(K) menilai peningkatan kasus aritmia perlu diimbangi dengan penguatan sistem pelayanan kesehatan.

Menurutnya, Indonesia masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, distribusi dokter subspesialis aritmia yang belum merata, serta akses terhadap terapi definitif seperti ablasi jantung dan perangkat implan.

Sebagai respons, InaHRS menyusun Cetak Biru Rencana Pengembangan Aritmia Nasional yang menitikberatkan pada penguatan deteksi dini, perluasan akses layanan, registri nasional berbasis data, serta kolaborasi lintas sektor.

Di sisi lain, Chief of Medical Officer Siloam International Hospitals dr. Grace Frelita, MM menegaskan komitmen Siloam dalam menghadirkan layanan jantung yang komprehensif.

“Siloam memiliki 14 pusat layanan jantung terpadu dengan lebih dari 250 dokter spesialis dan subspesialis jantung. Setiap tahun kami menangani lebih dari 2.100 operasi jantung serta lebih dari 15.800 prosedur cath lab,” ujarnya.

Menurut Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), FIHA, ahli aritmia dari Siloam Hospitals TB Simatupang, secara global hingga 40 persen stroke iskemik berkaitan dengan Atrial Fibrilasi.

Ia menjelaskan bahwa salah satu terapi efektif untuk menangani AF adalah ablasi kateter, yang terbukti lebih efektif dibandingkan obat-obatan dalam mengendalikan irama jantung.

“Melakukan ablasi dalam waktu kurang dari satu tahun sejak diagnosis dapat memperbaiki kualitas hidup, mencegah stroke, bahkan memperpanjang harapan hidup,” jelasnya.

Siloam Hospitals TB Simatupang juga telah menerapkan teknologi terbaru seperti Radio Frequency Ablation (RFA), Cryo Balloon Ablation (CBA), dan Pulse Field Ablation (PFA). Bahkan, rumah sakit ini telah mengembangkan prosedur non-fluoroscopic ablation, yaitu ablasi tanpa penggunaan sinar X sehingga mengurangi paparan radiasi bagi pasien.

Salah satu suara penting dalam kampanye ini datang dari Iwet Ramadhan, penyintas stroke yang kini menjadi Campaign Ambassador Let’s Check The Beat. Ia mengaku lebih berhati-hati menjaga kesehatan setelah mengalami stroke.

“Sebagai penyintas stroke, saya sangat berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Mengetahui bahwa aritmia bisa menyebabkan stroke berulang, saya memutuskan untuk melakukan deteksi dini,” ujar Iwet.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menganggap remeh gangguan irama jantung.

“Saya mengajak semua orang, baik yang memiliki risiko maupun tidak, untuk mencari informasi tentang aritmia dan melakukan deteksi dini. Manfaatkan layanan pemeriksaan EKG yang tersedia, karena langkah kecil ini bisa menyelamatkan hidup,” katanya.

CEO Siloam Hospitals TB Simatupang, Mada Shinta Dewi, menambahkan bahwa kampanye ini diharapkan dapat membantu menurunkan beban penyakit akibat aritmia.

“Kami ingin masyarakat lebih memahami bahwa aritmia bukan kondisi yang bisa dianggap sepele karena memiliki risiko tinggi terhadap stroke bahkan kematian mendadak,” ujarnya.

Melalui kampanye Let’s Check The Beat, masyarakat dapat mengikuti skrining EKG yang disediakan setiap Kamis dan Jumat pukul 10.00–12.00 WIB serta Sabtu pukul 09.00–11.00 WIB di Siloam Hospitals TB Simatupang.

Program ini dimulai pada Global Arrhythmia Awareness Week di bulan Maret dan akan berlangsung hingga September 2026, bertepatan dengan World Heart Day.

Selain pemeriksaan, kampanye ini juga menghadirkan berbagai kegiatan edukasi bagi masyarakat serta tenaga medis mengenai perkembangan terbaru dalam diagnosis dan penanganan aritmia. (red/*)

Leave a Reply