BESTTANGSEL.COM, BSD City— Bukan sekadar seremoni kelulusan, Wisuda ke-30 Universitas Multimedia Nusantara (UMN), yang digelar pada hari ini, Sabtu, (25/4) di ICE BSD City, terasa seperti gerbang keberangkatan menuju medan baru, yakni dunia kerja yang dipenuhi algoritma, tuntutan keberlanjutan, dan perubahan yang berlari lebih cepat dari kurikulum. Sebanyak 678 lulusan dilepas dengan satu pesan utama ‘jangan hanya siap kerja, tapi siap menyelesaikan masalah nyata’.
Ketua Senat UMN, Dr. Ir. Y. Budi Susanto, M.M., menekankan bahwa lanskap karier hari ini menuntut lebih dari sekadar ijazah dan kemampuan teknis. Dunia profesional, menurutnya, kini mencari sosok yang mampu menjembatani teknologi dengan kebutuhan manusia.
“Penguasaan AI itu penting, tapi tidak cukup. Lulusan harus mampu menggunakannya untuk menciptakan solusi, bukan sekadar mengikuti tren,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus transformasi digital, UMN justru menyoroti sisi lain yang tak kalah krusial: keberlanjutan. Dunia industri kini tidak hanya berbicara soal efisiensi dan profit, tetapi juga dampak lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Budi menyebut, kebutuhan akan talenta dengan “green skills” terus meningkat. Artinya, lulusan tidak hanya dituntut cerdas secara digital, tetapi juga peka terhadap isu lingkungan dan mampu mengintegrasikannya dalam pekerjaan.
Namun, di atas semua itu, ada satu “senjata” yang tidak bisa digantikan mesin, yaitu human skills.
Kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berempati, hingga kreativitas menjadi pembeda utama di tengah dominasi teknologi. “Ini yang kami sebut kemampuan beyond AI,” tambahnya.
Pesan tersebut seperti menemukan bentuk nyatanya dalam sosok pembicara utama, Angelika Saraswati. Alumni Jurnalistik UMN ini bukan hanya membangun karier, tapi juga menciptakan gerakan.
Berawal dari keresahan kecil saat pandemi, Angelika mengubah media sosial menjadi ruang edukasi tentang pengelolaan limbah. Dari konten sederhana, ia kemudian merancang berbagai inisiatif berkelanjutan melalui Asarasa Studio dan keterlibatannya di EwasteRJ Indonesia.
“Hal kecil itu bukan sepele. Justru dari situ semuanya mulai bergerak,” katanya.
Karyanya berkembang dari edukasi digital menjadi produk nyata, seperti mengolah limbah plastik menjadi aksesori. Ia juga aktif menggelar workshop hingga berkolaborasi dengan berbagai pihak, menunjukkan bahwa kreativitas bisa berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan.
Bagi Angelika, masa depan bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling adaptif dan mau terus bergerak.
Wisuda kali ini juga tetap membawa sentuhan budaya, dengan tema Bali yang mewarnai prosesi. Sebuah pengingat bahwa di tengah modernitas dan kecanggihan teknologi, akar budaya tetap menjadi identitas yang tidak boleh terlepas.
Di akhir acara, satu benang merah terasa kuat bahwa dunia tidak menunggu lulusan yang sempurna, tetapi membutuhkan mereka yang terus belajar.
Wisuda, dalam konteks ini, bukan garis akhir. Ia lebih mirip titik koma, jeda singkat sebelum kalimat panjang bernama kehidupan profesional benar-benar dimulai. (red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.