BESTTANGSEL.COM, Jakarta – Guna memperkuat posisi sebagai lembaga yang memiliki wewenang penuh atas, klarifikasi masalah teknologi nuklir atau Clearing House Teknologi Nuklir (CHTN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menggelar pelatihan audit teknologi di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Kamis (15/03).

Pelatihan audit teknologi kali ini diikuti para pejabat eselon I dan II di lingkungan BATAN. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, para pejabat mempunyai persepsi yang sama terhadap kegiatan audit teknologi, khususnya teknologi nuklir.

“Hal ini sesuai dengan fungsi BATAN yakni,  sebagai Technology  provider (lembaga yang melakukan penelitian), Technical Suporting Organization (lembaga yang membantu pemerintah atau lembaga lain untuk melakukan penelitian dalam bidang teknologi), serta merupakan satu-satunya lembaga Clearing House Teknologi Nuklir (CHTN) di Indonesia. Untuk itu, BATAN perlu membuat pelatihan audit teknologi bagi para pejabatnya,” tutur Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto.

Lanjut Djarot, “Saat ini pemanfaatan teknologi nuklir telah banyak dirasakan masyarakat di berbagai aspek kehidupan,  diantaranya bidang kesehatan dan industri. Berbagai peralatan medis berbasis teknologi nuklir yang bermanfaat untuk mendiagnosa dan pengobatan penyakit telah banyak ditemui di beberapa rumah sakit di Indonesia, begitu juga dengan dunia industri.”

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Standarisasi dan Mutu Nuklir (PSMN), Budi Santoso mengatakan, audit teknologi merupakan salah satu bagian penting dari kegiatan yang harus dilakukan BATAN sebagai CHTN. “Sebagai CHTN banyak hal yang harus dikerjakan, salah satunya adalah melakukan audit teknologi,” kata Budi Santoso.

Pemanfaatan teknologi nuklir dalam kehidupan sehari-hari menurut Budi Santoso, mendapat perlakuan khusus, tidak seperti pemanfaatan teknologi lainnya. Hal ini dikarenakan dalam pemanfaatan teknologi nuklir harus mengutamakan faktor keselamatan bagi masyarakat penggunanya.

“Untuk memberikan perlindungan terkait keamanan, keselamatan, dan kesehatan kepada masyarakat dalam pemanfaatan teknologi nuklir baik dari dalam maupun luar negeri, pada tahun 2017, BATAN membentuk CHTN yang diwujudkan dengan dikeluarkannya Peraturan Kepala BATAN Nomor 11 Tahun 2017,” lanjut Budi.

Budi Santoso menjelaskan, CHTN merupakan organisasi yang bertugas melakukan kajian dan pemberian rekomendasi terhadap produk dan teknologi nuklir, pemberian sertifikasi personel, produk, proses dan sistem manajemen, penyediaan data/informasi keahlian, produk, dan teknologi nuklir. BATAN sebagai CHTN karena mempunyai kompetensi dalam penguasaan teknologi nuklir di Indonesia.

“CHTN dibentuk dengan fungsi sebagai pusat acuan dalam pemanfaatan produk, teknologi, proses dan sistem manajemen serta personel, serta sebagai penyedia layanan dalam pemberian rekomendasi dan/atau sertifikasi produk, teknologi, proses dan sistem manajemen serta personel,” pungkasnya.

 

Asri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.