BESTTANGSEL.COM, TANGERANG-Balita Tegar, warga desa Cileleus , Kab. Tangerang putra pasangan Yulia dan Rahman sudah mulai membaik. Sebelumnya, Tegar didiagnosis gizi buruk. Diusianya yang menginjak 2,5 tahun, beratnya hanya 8 kg. Idealnya, balita laki-laki usia 2 tahun memiliki berat badan 10 15 kg.

Selain faktor ekonomi keluarga, kurangnya pengetahuan orang tua terhadap kebutuhan gizi anak menjadi penyebab Tegar mengalami gizi buruk. Sebagai buruh serabutan, penghasilan Rahmah terbilang pas-pas an, terkadang jauh dari cukup. Sementara ibunya, tidak begitu paham makanan dan minuman yang boleh dan yang tidak boleh dikonsumsi anaknya diusia emas. Akibatnya, di usia dini, tegar sudah mengkonsumsi kental manis sebagai pengganti susu.

“Sekarang sudah nggak minum susu kental manis lagi, kata Puskesmas itu mah untuk bikin kue, kata Yulia. Di akui Yulia, kini Tegar rutin dikunjungi bidan dari Puskesmas Tigaraksa sebulan sekali. Dalam kunjungan tersebut, petugas Puskesmas memantau perkembangan Tegar, memberikan PMT berupa susu dan biskuit serta menjelaskan kepada Yulia tentang makanan bergizi tinggi protein yang mudah di dapat untuk keluarganya, seperti telur, tempe atau tahu.

Sebelumnya, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) juga telah mengunjungi sejumlah keluarga di desa Cileleus yang memiliki balita terdeteksi gizi buruk. Selain membawakan bantuan susu dan biskuit untuk anak, pegiat kesehatan anak dari YAICI turut memberikan penyuluhan tentang gizi anak dan keluarga serta pembiasaan perilaku hidup bersih sehat.

“Pengetahuan tentang gizi dan PHBS ini saling mendukung supaya anak tumbuh di lingkungan yang sehat. Apalagi hari ini, kita masih menghadapi ancaman Covid 19,” ujar Yuli mewakili YAICI.

Disampaikan Yuli, pengetahuan orang tua mengenai kebutuhan gizi anak yang masih rendah adalah penghalang pengentasan stunting di Indonesia. Karena itu, menggiatkan edukasi dan penyuluhan gizi ke masyarakat perlu terus di lakukan. Tidak sedikit ditemui, anak-anak dari keluarga mampu pun mengalami masalah gizi. Setelah di cek, ternyata orang tua kurang perhatian terhadap apa yang dikonsumsi anak. Orang tua beranggapan saat anak kenyang dan tidak rewel, masalah selesai. Mereka tidak menyadari, ketidak tahuan itu mengancam kesehatan anak-anak mereka dimasa mendatang, obesitas, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya, jelas Yuli.

Yuli yang telah lama aktif sebagai pegiat kesehatan ini menuturkan, saat melakukan penyuluhan dan edukasi di banyak wilayah di Indonesia, ia banyak dibantu oleh kader-kader kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat, seperti kader posyandu, maupun penyuluh kesehatan dari PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah, organisasi perempuan terbesar yang juga fokus pada kesehatan masyarakat.

Di Aceh, kami menemukan anak usia 2,5 tahun yang sangat menyukai susu kental manis. Dalam sehari bisa minum 3 4 kali. Padahal sebelumnya ia biasa mengkonsumsi susu UHT. Namun suatu hari ia mencicipi kental manis saat bermain bersama temannya, dan sejak itu minta kepada orang tua susu UHT nya diganti dengan susu kental manis. Orang tua karena ketidak pahaman, menuruti kemauan sang anak, cerita Yuli.

Dalam penyuluhan yang dilakukan pada 2019 yang lalu, YAICI bersama kader dari PP Aisyiyah wilayah Aceh turut memberikan pemahaman kepada orang tua. Arya, nama bocah pengkonsumsi kental manis saat itu sempat menangis dan memeluk kental manis kemasan pouch yang menjadi kesukaannya.
Sangat disayangkan, Arya terlalu dini berkenalan dengan minuman yang kandungan gulanya begitu tinggi. Padahal di usia 2 tahun tersebut yang dibutuhkan Arya adalah susu dengan kandungan gizi berupa protein dan vitamin yang lebih tinggi, jelas Yuli.

Sebagaimana diketahui, BPOM telah menyatakan bahwa kental manis dan turunannya bukanlah susu yang dapat dikonsumsi oleh anak. Sebab, kental manis memiliki kandungan gula yang tingga yang bila dikonsumsi oleh anak dapat mengganggu tumbuh kembangnya, bahkan dapat memicu anak mengalami gizi buruk. Aturan mengenai penggunaan kental manis tersebut tertuang dalam PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang label pangan olahan. (rlls/Ast)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.