BESTTANGSEL.COM, SERPONG – Memperingati Hari Bidan Nasional ke-73, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Tangerang Selatan bersama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI)  menggelar edukasi pencegahan salah konsumsi kental manis. Kegiatan yang dihadiri oleh bidan dan ibu dengan balita ini juga didukung oleh Pemerintahan Kota Tangerang Selatan.

Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie yang hadir dalam kegiatan tersebut meminta masyarakat terutama ibu-ibu muda memperhatikan asupan susu yang diberikan untuk anak. “Saya berharap kepada masyarakat terutama ibu-ibu muda pastikan anak mendapat ASI dan juga jangan sampai ada yang memberikan kental manis untuk anak ataupun sebagai pengganti ASI. Karena kental manis bukan susu untuk anak, gulanya sangat tinggi bisa mencapai 50%, karena itu tidak baik untuk kesehatan anak,” jelas Benyamin Davnie.

Persoalan kesalahan konsumsi kental manis hingga saat ini masih menjadi sorotan berbagai pihak. Sebab, masih banyak ditemukan pemberian kental manis untuk anak, baik karena alasan ekonomi keluarga maupun faktor ketidaktahuan ibu.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan edukasi kental manis perlu dilakukan secara berkelanjutan. “Pemerintah melalui BPOM telah mengeluarkan ketentuan penggunaan dan promosi kental manis sejak 2018 yang lalu, namun edukasi untuk masyarakat perlu terus dilakukan mengingat selalu ada orang tua baru, kelahiran baru serta bayi dan balita yang baru lahir. Para orang tua baru inilah yang berpotensi memberikan kental manis untuk anak bila tidak mendapat edukasi gizi yang tepat,” jelas Arif Hidayat.

Anggota DPRD Tangerang Selatan Putri Ayu di hadapan para bidan menyampaikan harapannya agar bidan dapat mengambil peran penting dalam meneruskan edukasi mengenai bahaya penggunaan kental manis bukan untuk dikonsumsi sebagai minuman susu anak. “Ibu-ibu yang kesulitan memberikan ASI, jika tidak diedukasi akan beralih ke kental manis yang harganya lebih ekonomis,” jelas Putri Ayu.

“Sekarang itu era digital, informasi sangat masif. Kecenderungan masyarakat adalah memilih informasi yang disukai, lalu mencari pembenaran. Jika ibu tidak dibekali dengan pengetahuan gizi, maka kita tidak akan bisa menyelesaikan kesalahan konsumsi kental manis ini,” beber Putri.

Oleh karena itu, bidan sebagai tenaga kesehatan yang dekat dengan masyarakat memiliki peran penting untuk memutus mata rantai kesalahan konsumsi susu ini. “Bidan harus bisa mengikuti transformasi digital, memanfaatkan berbagai platform untuk memberikan edukasi gizi untuk ibu,” pungkasnya.

Ketua IBI Tangsel, Eni Rohaeni menegaskan IBI bersama Pemkot Tangsel terus mengedukasi masyarakat tentang pemberian ASI ekslusif. “Kami harap selanjutnya bidan anggota IBI dapat terus menularkan edukasi gizi, dan juga turut serta mensosialisasikan ke masyarakat untuk tidak memberikan kental manis sebagai minuman susu anak,” papar Eni Rohaeni. (red/*)

Leave a Reply