BESTTANGSEL.COM, SERPONG – Kunjungan Peraih Nobel Kimia 2025 Prof. Susumu Kitagawa ke Indonesia tak sekadar menjadi agenda diplomasi sains, tetapi juga momentum refleksi tentang arti penting riset dasar bagi masa depan teknologi nasional. Melalui Kuliah Umum Internasional bertajuk “The Usefulness of Useless: Fundamental Curiosity, Enduring Impact” yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 4 Februari 2026, di Graha Widya Bhakti, KST B.J. Habibie, Serpong, pesan yang diangkat begitu jelas, yakni inovasi besar sering lahir dari rasa ingin tahu yang paling mendasar.

Prof. Kitagawa, ilmuwan dari Kyoto University, dikenal sebagai perintis pengembangan porous coordination polymers (PCPs) atau metal–organic frameworks (MOFs), material berpori dengan luas permukaan sangat tinggi dan struktur yang dapat dirancang secara presisi pada tingkat molekuler. Awalnya, riset mengenai material ini lebih banyak digerakkan oleh keingintahuan ilmiah. Namun kini, MOFs telah menjadi fondasi bagi berbagai aplikasi strategis, mulai dari penyimpanan dan pemisahan gas, katalisis, penangkapan karbon, hingga teknologi energi bersih dan kesehatan.

Kepala BRIN, Arif Satria, menilai kehadiran Prof. Kitagawa menjadi pengingat bahwa investasi pada riset fundamental adalah langkah jangka panjang yang menentukan daya saing bangsa. “Kemajuan teknologi tidak lahir secara instan. Ia dibangun dari fondasi ilmu pengetahuan yang kuat. Itulah sebabnya penguatan riset dasar harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi, menyebut interaksi langsung dengan ilmuwan peraih Nobel dapat mendorong lahirnya budaya scientific excellence di kalangan periset muda Indonesia. Menurutnya, paparan pengalaman riset fundamental yang kemudian berdampak global menjadi inspirasi konkret bahwa kontribusi ilmiah dari laboratorium dapat menjelma solusi nyata bagi dunia.

Lebih jauh, kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi kolaborasi jangka panjang di bidang material maju. Salah satu inisiatif yang tengah dijajaki adalah pembentukan Asosiasi MOF Indonesia sebagai platform kolaboratif antara BRIN, perguruan tinggi, dan industri. Langkah ini diharapkan mampu menyinergikan riset, mempercepat hilirisasi, serta mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan biodiversitas Indonesia dalam pengembangan material berpori.

Selain itu, penjajakan pembentukan Sister Laboratory (SISTER LAB) dengan institusi di Jepang membuka peluang transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas laboratorium nasional. Prof. Kitagawa juga dijadwalkan meninjau langsung fasilitas riset di KST B.J. Habibie untuk melihat kapabilitas infrastruktur sains Indonesia.

Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, menegaskan bahwa tema kuliah umum ini menekankan satu pesan penting: riset dasar bukanlah sesuatu yang “tidak berguna”, melainkan investasi intelektual yang hasilnya mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian. “Dari rasa ingin tahu yang tampak sederhana, lahir inovasi yang mengubah cara kita memproduksi energi, memurnikan gas, hingga merancang material fungsional,” ujarnya.

Dengan menghadirkan ilmuwan kelas dunia sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi internasional, BRIN menempatkan riset dasar sebagai pilar utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. Di tengah tantangan transisi energi dan kebutuhan material berkelanjutan, pesan yang dibawa Prof. Kitagawa menjadi relevan: masa depan teknologi dimulai dari keberanian untuk bertanya dan mengeksplorasi hal-hal yang belum tentu langsung terlihat manfaatnya. (red/*)

Leave a Reply