BESTTANGSEL.COM, JAKARTA -Pariwisata menjadi sektor paling terpukul dengan terjadinya Pandemi Covid-19. Kebijakan pencegahan penularan Covid-19, mengharuskan ditutupnya tempat wisata di berbagai daerah di Indonesia. Tentu saja hal ini berimbas menurunnya pendapatan daerah.

Mencari ide baru sebagai solusi peningkatan ekonomi Indonesia melalui sektor pariwisata di masa pandemi, Aliansi Kebangsaan bersama dengan Forum Rektor Indonesia (FRI), dan bekerjasama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), kembali menyelenggarakan seri dari Rangkaian FGD dan Diskusi Publik “Mengukuhkan Kebangsaan yang Berperadaban: Menuju Cita-Cita Nasional Dengan Paradigma Pancasila.” FGD yang digelar secara daring, pada Jumat (18/12) membahas “Penguasaan dan Pengembangan Teknologi di Sektor Pariwisata”.

Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, saat membuka FGD menjelaskan. “Sejak Pandemi, Indonesia terus mengalami penurunan di sektor pariwisata hingga 80,9%. Indonesia telah kehilangan devisa sekitar 14-19 US Dolar, khususnya Bali yang mencatat kerugian mencapai 9,8 triliun per bulan.”

“Mengatasi masalah tersebut, pemerintahan mencoba membangkitkan kembali sektor pariwisata Indonesia dengan memberikan dana hibah serta menerbitkan SOP tata kelola pariwisata di era kebiasaan baru (new normal) saat ini. Namun demikian, patut kita sadari bahwa transformasi teknologi merupakan hal penting untuk menggerakkan kembali sektor pariwisata Indonesia,” imbuh Pontjo.

Pontjo berpendapat bahwa tanpa penguasaan teknologi, Indonesia tidak akan bisa mengejar ketertinggalannya, dan mustahil sektor pariwisata bisa bangkit.

“Bangsa ini tidak boleh hanya menonton, bangsa ini harus bisa bersaing dengan negara lain, untuk itu diperlukan penguasaan teknologi yang mumpuni. Untuk itu, melalui FGD ini diharapkan muncul ide segar untuk bisa mendongkrak pariwisata Indonesia,” ucap Pontjo.

Sementara itu, Ketua AIPI, Prof. Satryo Soemantri Brojonegoro mengungkapkan, bahwa pengembangan pariwisata sebagai kekuatan ekonomi nasional tidak lepas pengelolaan bagaimana kita menciptakan pariwisata yang berkelanjutan.

“Sebelum pandemi covid-19, pariwisata Bali sudah mengalami kejenuhan karena over exposure. Dulu di pantai Lovina Bali kita bisa melihat lumba-lumba berenang hingga ke tepi pantai, tetapi saat ini sudah tidak lagi, karena adanya pembangunan resort di sekitar pantai Lovina yang begitu masif, hingga mengganggu komunitas alam disana. Berbeda dengan Himalaya, pemerintahan Himalaya sangat membatasi wisatawan berkunjung ke Himalaya, sehingga Himalaya sangat terjaga keasliannya, dan untuk menuju ke Himalaya wisatawan membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ungkap Satryo

Lanjutnya, “Raja Ampat yang terkenal dengan terumbu karangnya, icon wisata di Indonesi Timur ini harusr dijaga dengan benar agar tidak bernasib serupa dengan Lovina Bali.”

Menurut Satryo, ada hikmah dibalik wabah Covid-19, yakni saat ini telah terjadi pembatasan wisatawan dalam berwisata, sehingga alam kembali dalam keasliannya.

“Di era new normal ini, semua destinasi pariwisata hendaknya mematuhi SOP Protokol Kesehatan yang telah ditentukan, dan terus meningkatkan penguasaan teknologi digital sebagai media mempromosikan sektor pariwisata di Indonesia,” tandas Satryo.

Kontribusi pemikiran tentang pentingnya penguasaan teknologi di sektor pariwisata juga disampaikan oleh para nara sumber dalam FGD tersebut, melalui moderator FGD Mayjen TNI (Purn) I Dewa Putu Rai (Pengurus Aliansi Kebangsaan), diantaranya; Prof. Arif Satria (Ketua Forum Rektor Indonesia), Prof. Mardani H. Maming (Ketua BPP HIPMI), Dr. Ir. Myra P. Gunawan, MT (Pakar AIPI), Rano Wiharta (Pengurus BPP HIPMI), Putu Satyawira M (Ketua PD FSP Par – Pelaku Pariwisata Bali), Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc., PhD. (Ketua Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana). (**)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.