BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan – PT. TAM dan Klinik Terapi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Bintaro Kids Care berkolaborasi menggelar workshop, dan pelatihan untuk meningkatkan empati serta kepedulian masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan spektrum autisme. Acara berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu (13–14/9), di Ruko Bintaro Prime Residence No.5, Jalan Jombang Raya, Ciputat, Tangerang Selatan.
Workshop ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari guru, tenaga kesehatan, hingga orang tua. Kegiatan didukung oleh PT Toyomas Artha Mitratama perusahaan yang bergerak di Pest Control, Landscaping, Pemeliharaan beberapa fasilitas negara dan EO.
Direktur Utama, PT Toyomas, Diyah Ayu Rumaningsih, S.S menyampaikan alasan perusahaannya mendukung acara ini. Menurutnya, kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus masih sangat minim, padahal biaya penanganan autisme kerap menjadi kendala bagi banyak keluarga pra sejahtera.

(kiri ke kanan) : Direktur Utama, PT Toyomas, Diyah Ayu Rumaningsih, S.S, dan Founder Bintaro Kids Care, Rito Saputra.
“Selama ini perusahaan banyak menyalurkan dana sosiallnya untuk anak yatim piatu atau keluarga prasejahtera. Namun, masih jarang yang menaruh perhatian pada anak-anak autis. Padahal mereka juga sangat membutuhkan dukungan. Melalui workshop ini, kami ingin mendorong agar lebih banyak pihak ikut peduli tidak hanya untuk yatim piatu tapi juga untuk anak – anak berkebutuhan khusus dari keluarga prasejahtera,” ujar Diyah.
Ia menambahkan, ke depan PT Toyomas berencana menggandeng perusahaan lain dan berbagai pihak untuk mengadakan lebih banyak pelatihan terkait penanganan ABK dengan biaya terjangkau, agar kepedulian tidak berhenti hanya di lingkup kecil.
Sementara itu, Founder Bintaro Kids Care, Rito Saputra, menegaskan pentingnya pelatihan tata laksana bagi para stakeholder yang bersentuhan langsung dengan anak-anak, seperti guru dan tenaga medis.

Peserta workshop dan pelatihan untuk ABK.
“Kalau hanya orang tua yang diberi pengetahuan, gaungnya terbatas. Tapi kalau guru, dokter, dan stakeholder lain ikut terlibat, dampaknya bisa lebih luas. Harapan kami, informasi ini menyebar ke berbagai wilayah sehingga angka kasus autisme yang tidak tertangani bisa ditekan,” jelas Rito.
Dalam workshop, peserta mendapatkan materi mengenai sejarah autisme, tata laksana deteksi dan diagnosis, hingga alur rujukan medis dan psikologis yang tepat. Rito menekankan pentingnya pendekatan ilmiah agar penanganan anak autis tidak terjebak pada biaya tinggi tanpa hasil yang jelas.
Acara ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi antara praktisi, dunia usaha, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi anak berkebutuhan khusus. (red/*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.