BESTTANGSEL.COM, Nusa Tenggara Timur – Pemerintah dinilai berkewajiban terlibat dalam persoalan susu kental manis yang sempat menjadi polemik beberapa waktu lalu. Bukan hanya karena Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang bertanggung jawab dalam hal ingredients (isi), namun selama bertahun-tahun, masyarakat terlanjur beranggapan bahwa susu kental manis adalah minuman bergizi yang dapat diberikan kepada anak.

Kekhawatiran tersebut bukanlah tanpa alasan. Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Eni Gustina, memaparkan di Nusa Tenggara Timur sudah menjadi kebiasaan ibu memberi susu kental manis untuk anak selepas ASI. Harga yang terjangkau dan anggapan masyarakat yang salah terhadap susu kental manis menjadi penyebabnya, Kamis, (18/10/2018).

Jika merujuk pada data pemberian ASI, NTT merupakan daerah dengan ASI ekslusif tinggi, mencapai 60%. Namun, disisi lain NTT juga menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi, yaitu 40%.

“Setelah 6 bulan anaknya dilepas karena mereka sudah yakin ada susu lain yang bisa menggantikan. Persepsi masyarakat jadi salah, karena di iklan membandingkan antara susu yang benar-benar susu dengan susu kental manis,” pungkas Eni.

Persoalan susu kental manis seharusnya tidak akan menjadi polemik berkepanjangan bila produsen mematuhi Surat Edaran SE BPOM tersebut bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 tentang “Label dan Iklan pada Produk Susu kental dan Analognya. (Kategori Pangan 01.3)”.

Dalam SE yang diterbitkan pada 22 Mei tersebut, BPOM menegaskan sejumlah larangan terhadap produsen yaitu menampilkan anak-anak berusia di bawah lima tahun dalam bentuk apapun dalam label dan iklan, menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi, menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman serta larangan penayangan iklan pada jam acara anak-anak.

 

Asri/rlls

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.