BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan – Di balik renyahnya camilan tradisional, Sagon Bakar dan Telur Gabus Kata Oma yang telah mendunia, tampak perjuangan dan cinta dua perempuan hebat Indonesia. Adalah, Irma Husnul Hotimah dengan Sagon Bakar Tangsel-nya, dan Furiyanti dengan Telur Gabus Kata Oma. Dua camilan yang berbeda, namun punya benang merah yang sama, yakni warisan rasa, semangat pantang menyerah, dan inovasi yang terus hidup.
Sagon Bakar: Dari Lebaran Keluarga, Menembus Pasar Global
Tak banyak yang tahu, Sagon camilan gurih berbahan sagu dan kelapa bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Irma Husnul Hotimah, warga Pamulang, Tangerang Selatan, membuktikannya. Usaha Sagon Bakarnya dimulai secara sederhana dari momen kumpul keluarga saat Lebaran di tahun 2012. “Di antara semua kue, saya justru tertarik pada sagon bakar buatan ibu. Dari situlah saya mulai mencoba buat sendiri dan menitipkan ke warung-warung,” tutur Irma, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Awal perjalanan yang tak mudah. Sagon mudah hancur dan dikemas dengan plastik sederhana. Rugi jadi hal biasa. Tapi Irma tak menyerah. Kesabarannya terbayar ketika pada 2014, ia bergabung dengan Koperasi UKM Tangsel dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah, termasuk izin usaha, label halal, barcode, dan kemasan menarik.
Tak berhenti di situ, Irma juga bekerja sama dengan mahasiswa ITI Tangerang Selatan yang menciptakan oven otomatis serta mendesain logo khas daerah. Sagon Bakar Tangsel pun naik kelas, menjadi oleh-oleh resmi kota dan dipasarkan secara online. Kini, camilan berbahan kelapa muda ini sudah bisa ditemukan di mall, hotel, dan pusat oleh-oleh seperti Kampung Anggrek Buaran Serpong. Bahkan telah melanglang buana ke Jerman dan Australia.
“Saya jaga kualitas. Kami pakai kelapa muda segar dan sagu tani asli. Tidak disangrai agar tetap putih bersih, tanpa pengawet, tapi tahan 8-12 bulan jika dikemas kedap udara,” jelas Irma yang memproduksi hingga 100 kaleng per hari bersama dua karyawan.
Kata Oma: Resep Cinta yang Jadi Legenda
Berbeda latar, namun semangat yang sama juga menyala di dapur Oma sejak tahun 1980. Telur gabus buatannya awalnya hanya dinikmati keluarga. Namun karena rasanya yang gurih dan bebas pengawet, sang cucu, Furiyanti, melihat potensi lebih besar.
Di tahun 2016, camilan ini mulai dijual dengan nama “Telur Gabus CoooCok”. Dua tahun kemudian, nama itu diubah menjadi “Kata Oma” sebagai bentuk penghormatan terhadap sang nenek. Strategi penjualan lewat sistem reseller pun dimulai awal 2019, dan hanya dalam setahun, 50 reseller berhasil menjual hingga 3.000 karton.
Tak hanya itu, produk ini juga sukses masuk ke supermarket besar melalui unifam dan meraih berbagai penghargaan, seperti “Best UMKM Award” dari BRIlianpreneur 2020. Telur Gabus Kata Oma bahkan masuk dalam jajaran camilan tradisional terlaris di Alfamart dan Indomaret.
Tradisi Bertemu Inovasi
Kisah Irma dan Furiyanti menunjukkan bahwa camilan tradisional tak kalah bersaing di era modern. Dengan cinta, inovasi, dan ketekunan, keduanya berhasil mengangkat cita rasa warisan menjadi ikon kebanggaan lokal yang mendunia.
Sagon dan Telur Gabus bukan lagi sekadar makanan ringan, tetapi simbol dari semangat perempuan Indonesia dalam melestarikan budaya lewat jalur wirausaha. (red/Ash/bbs).

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.