BESTTANGSEL.COM, Jakarta – Para ahli kesehatan jiwa terkemuka dari wilayah Asia Tenggara akan berkumpul bersama dalam Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018 di Jakarta, pada tanggal 30 – 31 Agustus 2018, untuk saling berbagi pembelajaran dan mengembangkan strategi untuk mengatasi kesenjangan dalam manajemen kesehatan mental di negara-negara Asia Tenggara.

Diselenggarakan oleh Johnson & Johnson, lebih dari 150 peserta yang berasal dari kalangan dari bisnis, pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, akademisi dan media akan berpartisipasi dalam forum yang bertemakan – ‘Mewujudkan kepedulian bersama untuk pengobatan Skizofrenia’. Tema ini menyoroti komitmen terhadap kerja sama internasional sebagai upaya dalam memecahkan sejumlah tantangan global yang penting bagi kesehatan jiwa dengan fokus pada manajemen Skizofrenia dan akses pengobatan, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Turut berpartisipasi dalam forum adalah para ahli dari Indonesia dan Asia Tenggara serta wilayah Asia Pasifik termasuk diantaranya: Dr. dr. Trihono, M.Sc, Konsultan Health Policy Unit, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan RI; Prof. Harry Minas, Ketua Global and Cultural Mental Health Unit, Centre for Mental Health, University of Melbourne; Duujian Tsai M.D. & Ph.D, Chair Professor & Director of the Center for Bioethics and Social Medicine, Taiwan; Lakish Hatalkar, Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia; Dr. Eka Viora SpKJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI); dan Dra. Diah Ayu Puspandari, Apt., M. Kes., MBA, Ketua Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (Pusat KP-MAK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lakish Hatalkar, Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia menyatakan bahwa, “Tidak ada negara yang kebal terhadap tantangan kesehatan jiwa (mental). Kondisi fisik dan mental yang sehat adalah elemen utama yang membentuk manusia, baik sebagai individu maupun makhluk sosial dan ekonomi. Forum ini menjelaskan bahwa tidak hanya penting bagi negara-negara Asia Tenggara untuk menerapkan kebijakan dan layanan kesehatan jiwa yang lebih baik, tetapi peran dari semua para pemangku kepentingan yang terkait juga sangat diperlukan untuk mengubah perilaku ‘orang dengan gangguan jiwa’ (ODGJ) dan keluarga mereka.” Kamis, (30/08).

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) di Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa emosional yang ditunjukkan oleh gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan untuk prevalensi gangguan jiwa berat, seperti Skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Sementara itu, menurut data WHO pada tahun 2016, secara global, terdapat sekitar 35 juta orang yang mengalami depresi, 60 juta orang dengan gangguan bipolar, 21 juta orang dengan Skizofrenia, dan 47,5 juta orang dengan demensia.

Secara global, mayoritas dari mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa di seluruh dunia tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental berkualitas tinggi. Stigma, kurangnya sumber daya manusia, model pemberian layanan yang terfragmentasi, dan kurangnya kapasitas penelitian untuk implementasi dan perubahan kebijakan berkontribusi pada kesenjangan perawatan kesehatan jiwa saat ini.

Fakta yang dikeluarkan oleh WHO, Mental Health Gap Action Programme (mhGAP) pada tahun 2008 telah memperkirakan bahwa lebih dari 75% orang dengan gangguan jiwa di negara- negara berkembang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan.

Laporan yang sama menyatakan bahwa setidaknya sepertiga pasien dengan Skizofrenia dan lebih dari setengahnya menderita depresi, mengkonsumsi alkohol dan menyalahgunakan narkoba, tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dalam setahun.

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.