BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan – Jaman memang berubah tapi ada satu yang tidak berubah, rasa Uli Bakar Ciputat, tetap gurih dan lezat. Sayangnya, kini penikmat kedai Uli Bakar Ciputat Mang Ujang tidak lagi seramai dulu.

“Mungkin karena harganya naik, ya atuh mau bagaimana lagi, harga ketan saja sekarang hampir mencapai 20 ribu per liter. Jadi mau tidak mau harus menaikan harga jual agar bisa bertahan,” ungkap Mang Ujang ketika disambangi, (3/01).

Menurut Ujang, usaha uli bakarnya dimulai sejak tahun 1981 silam. Awal mula berjualan di depan Masjid Al Jihad, sekitar dua ratus meter dari tempat saat ini. Tempat yang dulu pernah diduduki selama puluhan tahun, kini bakal dibangun tugu Ciputat oleh Pemkot. Pada tahun itu, belum ada plaza dan flyover. Terminal dekat pasar masih beroperasi.

Sang ayah yang kini usinya 71 tahun dan sudah tidak berjualan lagi, dan memilih untuk menetap di kampung halaman. “Dulu, selagi ayah berjualan, dalam satu malam bisa menghabiskan 12 liter ketan, 2 dus mie instan dan 5 bantal roti tawar, Suasana saat malam di Ciputat pun sudah berbeda. Dulu puluhan pedagang berjejer di depan masjid sepanjang mata memandang barbagai menu makanan. Namun pemandangan itu kini telah jadi kenangan,” kenang Ujang.

Penghasilan pun cukup banyak. Namun tantangan juga berat, sebab hampir setiap malam, menjelang pagi pukul 03.00 WIB banyak orang datang sambil mabuk lalu memesan makan dan minum lalu pergi tanpa pernah membayar. Berbeda dengan kondisi saat ini, yang demikian sudah tidak ada lagi.

Sesekali  Ujang menerawang sambil mengipas uli di atas tungku bara, rasanya ingin kembali pada masa lalu. Saat mengingat semangat berdagang dengan hasilan cukup baik. Jika dibandingkan saat ini, jelas jauh berbeda. Hari-harinya, hanya mampu menghabiskan ketan 6 literuntuk menjadi 120 potong uli bakar dijual Rp 2 ribu per potong berikut bumbu gula dan serundeng goreng.

“Dulu, 2 dus mie instan per malam, kini hanya satu dus itupun jarang habis. Termasuk roti, yang dulu mencapai 5 bantal roti tawar, kini dua bantal roti pun kadang tidak habis. Entah mengapa perubahan cukup dirasakan belakangan ini,” tutur Ujang suaranya lirih.

Ujang kembali mengingat kembali masa lalu. Paling tidak seingat Ujang, dagang mulai kendor, sejak harga uli bakar naik, dari harga Rp 500 per potong, naik menjadi Rp 1000 lalu Rp 2 ribu. Sejak itulah pelanggan mulai berkurang. Jika tidak dinaikkan, tentu tidak dapat untung sementara harga ketan per liter Rp 20 ribu.

Kini harga ketan per liter paling murah di angka Rp 18 ribu, standarnya Rp 19 ribu perliter. Jika dibandingkan dengan beras harga Rp 8 ribu kualitas super, maka tiga liter beras setara dengan satu liter ketan. Namun apapun itu tetap dijalani. Itulah lika liku usaha. Ditambah lagi saat ada relokasi pedagang oleh Satpol PP ketiga ada pembangunan flyover sekitar tahun 2008 silam.

Pembeli masuk areal parkir, adanya sebelah kanan. Meski tidak ada papan nama, Uli Bakar Ciputat namun sudah banyak orang mengenalnya. Lokasinya tak pernah sepi, baik pagi hingga malam. Usahanya itu buka selama 24 jam dengan cara bergantian, ada yang pagi hingga sore dan malam hingga pagi.

Selain uli bakarnya yang gurih dan lezat, keramahan Ujang dalam melayani pembeli ternyata memikat pelanggan. Tak heran jika pria berhidung mancung dan berkulit putih bersih ini, mampu menjaga usaha warisan sang ayah.

Terkadang Ujang, merasa jenuh ingin kerja di tempat lain. Namun karena usianya sudah tidak memungkinkan, ia pun mengaku pasrah. Setiap dua bulan sekali ia harus pulang kampung dan bergantian dagang dengan mamang atau paman.

“Sudah dua bulan ini saya begadang terus, badan sudah mulai capek. Kami biasa dua bulan gentian dengan mamang kam. Sambil menunggu mamang datang dari kampung, kami nanti pulang. Demikian terus seperti itu,” tuturnya tersenyum.

 

Asri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.