BESTTANGSEL.COM, JAKARTA – Sukses tidak datang dengan sendirinya. Butuh perjuangan dan tekad yang kuat untuk mencapainya, terkadang untuk meraih sukes seseorang harus mengalami kegagalan berulang kali. Seperti yang dialami oleh William, Mahasiswa Master of Strategic Communication di The University of Western Australia di Perth, Australia Barat. Namun, berkat kemauan dan niat yang kuat, William sukses menjadi salah seorang peraih beasiswa S2 di negeri orang dengan indek prestasi akademik sangat memuaskan.

“Saya mencoba menempatkan koleksi kegagalan sebagai sesuatu yang berharga sehingga saya bisa memaknai setiap tahapan dalam kehidupan saya,” kata William pada peluncuran buku berjudul Anak Jakarta Barat di Australia Barat: Tidak Ada yang Namanya Kebetulan di Yayasan Obor Jakarta, Sabtu (16/2/2019).

Pada peluncuran buku tersebut sekaligus digelar sharing session bersama William dan penulis novel remaja Fataya Azzahra bertema Bagaimana Caranya Menjadi Penulis Buku.

Lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH) jurusan Komunikasi tersebut memulai sharing sessionnya dengan kisah ditolak oleh sejumlah penerbit saat menyodorkan buku pertamanya. Buku yang mengupas tentang persoalan pendidikan di Indonesia tersebut ditulis William pada usianya yang ke-17. Buku tentang pengalaman pribadi, fakta-fakta di lapangan terkait sisi lain dari sekolah. Bisa jadi, konten dari buku tersebut tidak dianggap penting oleh penerbit, sebagaimana pandangan dan keyakinan William. Itu sebabnya tak ada penerbit yang melirik buku pertamanya tersebut.

Tak putus asa, Willam terus mencoba dari penerbit satu ke penerbit yang lainnya. Hingga pada ‘kegagalan’ ke-7, William menjumpai keberhasilan. Pemilik penerbitan Yayasan Obor bersedia menerbitkan bukunya tersebut.

“Ibu Kartini, pemilik penerbitan Obor melihat semangat saya, sehingga beliau bersedia menerbitkan buku saya,” kata William. Baginya, sukses tidak ada yang berjalan secara kebetulan. Selalu ada hal-hal yang mungkin itu sangat kecil dan sepele, yang menjadi pemula dari sebuah keberhasilan.

Memilih Obor, Lalu Tepat Sasaran

Berkali-kali ditolak oleh banyak penerbit, tidak membuat William patah semangat. William yang secara tidak sengaja melihat kata obor pada salah satu tumpukan buku, akhirnya mencoba untuk menghubungi Yayasan Obor.

“Waktu itu tahun 2007, saya melihat ada penerbit Obor di salah satu toko buku di Jakarta Barat. Entah mengapa, lalu saya memiliki ide untuk mengubungi Yayasan tersebut, dan mengajukan permohonan kepada Obor untuk menerbitkan buku pertama saya yang berjudul “Pesan dari Murid untuk Guru” yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang siswa,” jelas William, yang kembali meluncurkan buku keduanya Tiga Tahun dari Sekarang (Feliz Books, 2013).

Sukses William yang ditempuh dengan menaiki tangga kegagalan tidak hanya terjadi pada penulisan buku, tetapi juga mewarnai perjuangan memperoleh beasiswa. Jika sekarang ia bisa menempuh studi S2-nya di Australia atas biaya Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), bukan berarti semua berjalan mulus.

“Predikat magna cum laude dan Merit Award dari Rektor UPH tidak lantas memuluskan perjalanan saya mencari beasiswa. Saya berkali-kali ditolak. Tahun kedua, saya akhirnya lolos program beasiswa LPDP dan inilah kisah anak Jakarta Barat di Australia Barat yang kemudian mengilhami buku saya yang ketiga,” tambahnya.

Melalui buku ketiganya ini, William ingin memberikan inspirasi dan spirit kepada generasi milenial, bahwa gagal tidak berarti sudah itu mati. Dibalik kegagalan selalu ada cerita kesuksesan yang tertunda. Dan semua itu terjadi bukan secara kebetulan. William juga mengajak generasi milenial untuk gemar menulis. Sebab menulis itu bagian dari mengabadikan kisah, mengabadikan kenangan dan menciptakan alasan untuk mudah dikenang orang. Menulis tidak harus menunggu mood datang. Menulis juga tidak perlu dimulai dari sesuatu yang sulit dan rumit. Menulis bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, mudah dengan ide-ide yang ada disekitar kita.“Kuncinya mau memulai, siap gagal dan pantang menyerah,” tutupnya.

William lahir di kota kecil di Sumatera Utara. Lahir dari keluarga biasa, sekolah tanpa mobil pribadi, lalu melanjutkan pedidikan di UPH dengan beasiswa. Kurun waktu 6 tahun terakhir, William bekerja dibidang komunikasi dan berkesempatan mengunjungi 19 negara untuk urusan pekerjaan dan wisata.

Dalam perjalanan kariernya sebagai penulis buku, William berkesempatan mengunjungi Frankfurt Book Fair di Jerman bersama Mendikbud Anies Baswedan. Pada even pameran buku kelas dunia tersebut William tercatat menjadi satu dari sekian banyak penulis buku Indonesia yang berkesempatan menawarkan royalti karya tulisnya. Tetapi kali ini pun William harus gagal ketika tak satupun negara yang berminat membeli royalti buku-bukunya. Namun William meyakininya, bahwa suatu saat akan ada negara yang mau membeli royalti pada buku-bukunya.
“Harus tetap semangat dan pantang menyerah,” pungkas William.

 

Asri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.