BESTTANGSEL.COM, PAMULANG- Peringatan Hari Sumpah Pemuda memiliki makna tersendiri bagi sebagian orang. Memahami arti isi kandungan Sumpah Pemuda, salah seorang Dosen di Universitas Pamulang (Unpam), Harjoyo S.E., M.M, mencoba mengulik tentang relevansi Peringatan Hari Sumpah Pemuda dengan Penggunaan Bahasa Indonesia yang sesuai kaidah pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Berikut pandangan Harjoyo yang dikirimkan ke redaksi besttangsel.com.

Semua warga negara Indonesia tentu tidak akan melupakan tanggal 28 Oktober yang diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak dan simbol akan persatuan kita sebagai bangsa, dan menyepakati bahasa yang digunakan yaitu bahasa Indonesia. Sesuai teks Sumpah Pemuda yang asli: “Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”

Penyebutan istilah Sumpah Pemuda baru diberlakukan secara resmi pada tahun 1959 dengan dikeluarkannya Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan Hari Sumpah Pemuda sebagai Hari Nasional. Dalam rumusan Sumpah Pemuda terdapat pernyataan untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Mengulas sedikit kilas balik tentang penggunaan bahasa Indonesia, ternyata selama berlangsungnya Kongres Pemuda penggunaan bahasa Belanda masih mendominasi. Misalnya, Siti Soendari yang turut menyampaikan pidatonya dalam kongres tersebut dalam bahasa Belanda.. Tak hanya pembicara, para notulen rapat pun diketahui menulis catatan menggunakan bahasa Belanda. Meskipun demikian, ada pula yang mahir berbahasa Melayu, yakni sang perumus ikrar Sumpah Pemuda, Mohammad Yamin, maka ditunjuklah beliau sebagai sekretaris kongres dan menuliskan isi Sumpah Pemuda dengan naskah bahasa Indonesia seperti yang kita lihat sampai saat ini.

Bangsa Indonesia terutama para pemuda harus meneruskan tekad pada pemuda-pemuda yang menggagas peristiwa bersejarah ini antara lain menjungjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.

Namun seiring dengan perkembangan budaya dan dampak globalisasi, komitmen kita sebagai bangsa terutama kaum pemuda penggunaan bahasa Indonesia semakin tergerus dan terancam oleh keanekaragaman arus informasi dan bahasa negara lain.

Banyak tayangan di televisi yang seharusnya bukan hanya sekedar menjadi tontonan tetapi juga mempunyai manfaat sebagai tuntunan malah ironis, penggunaan bahasa Indonesia dicampur-campur bahasa asing agar terilihat keren dan terkesan dipaksakan hanya untuk menaikkan rating sebuah acara.

Hal ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama terutama pemerhati bahasa Indonesia. Dengan apa yang terjadi saat ini di mana kita tidak mempunyai kebanggaan terhadap bahasa nasional yang mencerminkan rasa ketidakpercayaan diri kita, dan tentu saja indikator tergradasinya rasa bangga sebagai bangsa.

Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pendidik, khususnya guru bahasa Indonesia yang harus selalu memberikan pengetahuan dan pemahaman bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa Ibu dan juga pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, tidak heran banyak siswa yang menganggap mudah dan tidak mendalami secara serius akan pemahaman bahasa Indonesia. Dampaknya, adalah ketika mereka sudah duduk di perkuliahan dan menyusun karya ilmiah seperti laporan tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi bahkan sampai mereka bekerja di beragam bidang dan posisi baik low, middle atau top management, masih banyak yang menggunakan kosakata baik lisan maupun tulisan tidak sesuai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

Penulis disamping sebagai dosen yang sering kali diberikan tugas untuk membimbing mahasiswa dalam penulisan dan penguji sidang tugas akhir juga merupakan praktisi di industri yang sering menjadi pembimbing lapangan mahasiswa magang. Artinya dari apa yang penulis sampaikan tersebut sering membaca hasil hasil karya ilmiah baik dari mahasiswa kampus sendiri ataupun mahasiswa kampus lainnya. Penulis tidak mengatakan salah atau benar tentang penulisan yang dibuat, tetapi baku atau tidak baku. Hampir sebagian besar mahasiswa dalam menyusun laporan belum sepenuhnya menggunakan kaidah baku seperti penulisan di + kata kerja, dan di + kata tempat/tujuan contohnya diatas, dibawah, di letakkan, di tempatkan. Sedangkan, menurut kaidah baku penulisan yang benar untuk kata tersebut adalah di bawah, di atas, diletakkan, ditempatkan.

Kemudian, terkait penulisan kata tidak baku yang sering ditulis adalah himbauan, silahkan, apapun, siapapun, dimanapun, aktifitas, produktifitas, kwalitas. Ijin, ijasah, karir, minimalisir, jaman. Menurut kaidah baku penulisannya adalah imbauan, silakan, apa pun, siapa pun, di mana pun, aktivitas, produktivitas, kualitas, izin, ijazah, karier, minimalisasi, zaman.

Penulis beruntung diberikan kesempatan mengampu mata kuliah Bahasa Indonesia pada awal-awal mengajar sekitar empat semester sehingga dituntut untuk belajar dan mencari sumber informasi berkaitan dengan Bahasa Indonesia sehingga wawasan dan pengetahuan akan bahasa Indonesia bertambah, walaupun secara jujur sampai saat ini masih terdapat banyak kekurangan.

Kemampuan bahasa secara verbal baik tulisan maupun lisan seseorang seyogianya tidak terlalu timpang perbedaannya misalnya kemampuan lisan 55% dan kemampuan tulis 45% ataupun sebaliknya. Jangan sampai kemampuan lisan 70% sedangkan kemampuan tulisan hanya 30% ataupun sebaliknya.

Pada momen bulan Sumpah Pemuda ini, penulis mengajak semua komponen bangsa terutama generasi muda untuk mulai memperbaiki atas apa yang selama ini menjadi pemahaman dan keyakinan bahwa apa yang sudah ditulis merasa sudah baku tetapi justru sebaliknya. Kita sering disuguhi bacaan atau sumber dari blog dan media sosial yang lebih mengutamakan isi daripada penulisan, tetapi kita jarang membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Bangga berbahasa Indonesia adalah bukti cinta terhadap tanah air.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua. Salam literasi !

Harjoyo S.E., M.M, Dosen Universitas Pamulang Tangsel

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.