BESTTANGSEL.COM, SURABAYA- Di tengah tantangan global dan tantangan lokal yang dihadapi Indonesia, seperti perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan pandemi, muncul pertanyaan krusial: bagaimana kita dapat memastikan bahwa semua orang memiliki akses terhadap pangan yang aman dan bergizi? Jawaban yang muncul semakin mengarah pada pemanfaatan teknologi, khususnya Kecerdasan Buatan (AI) dan Internet of Things (IoT), agar rantai pasok pangan lebih fleksibel, efisien, dan tahan terhadap guncangan.
Rantai pasok pangan bukan hanya tentang memindahkan produk dari petani ke konsumen. Ini adalah sistem kompleks yang melibatkan produksi, pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan konsumsi. Kerentanannya dalam menghadapi berbagai faktor risiko menjadikannya salah satu fokus utama dalam diskusi ketahanan pangan. Keberhasilannya, atau kegagalannya, berimplikasi langsung pada kelaparan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, modernisasi dan peningkatan efisiensi rantai pasok pangan melalui teknologi menjadi langkah penting.
Implementasi AI dan IoT dalam rantai pasok pangan di Indonesia mulai berkembang, seperti penggunaan sensor IoT untuk memantau tanah dan cuaca, serta AI untuk analisis pasar dan perkiraan permintaan, yang membantu petani dan distributor merespons lebih akurat dan mengurangi pemborosan (Kementerian Pertanian, 2023). Namun, penerapan belum merata, didorong oleh infrastruktur digital yang belum memadai serta keterampilan teknologi petani yang terbatas.
Di sisi lain, peran perguruan tinggi dalam mendukung inovasi di bidang ini masih perlu ditingkatkan, terutama dalam aspek pengembangan kurikulum, riset terapan, dan pelatihan tenaga ahli yang mampu mendorong adopsi teknologi secara luas. Pemerintah dan swasta aktif menginisiasi pelatihan dan pembangunan infrastruktur agar teknologi ini dapat dimanfaatkan lebih efektif.
Di ASEAN, Singapura menjadi teladan dalam penggunaan teknologi untuk rantai pasok pangan. Meskipun keterbatasan lahan, negara ini berhasil menciptakan ekosistem pangan efisien dan berkelanjutan melalui investasi besar dalam digitalisasi dan inovasi. AI digunakan untuk prediksi permintaan, optimalisasi distribusi, dan peningkatan kualitas produk berbasis sensor IoT.
Menurut laporan Singapore Food Agency (2023), sekitar 80% proses distribusi telah terintegrasi dengan AI dan IoT, sementara 65% perusahaan agritech dan distribusi mengadopsi otomatisasi serta analitik real-time. Hasilnya, pemborosan makanan berkurang hingga 20% dalam lima tahun terakhir, membuktikan bahwa teknologi memperkuat efisiensi dan ketahanan rantai pasok pangan.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu mempercepat implementasi teknologi dalam rantai pasok pangan guna menjaga stabilitas dan ketahanan pangan. Peningkatan kerjasama antara sektor publik dan swasta serta penguatan kebijakan inovasi menjadi kunci utama.
Selain itu, literasi digital di kalangan petani dan pengusaha kecil harus diperkuat agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal (Bappenas, 2023). Untuk itu, implementasi teknologi harus melibatkan tidak hanya pakar digital dan teknologi informasi, tetapi juga ahli pertanian, teknologi pangan, nutrisi, dan statistik, guna menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan.
Menurut World Bank (2022), kolaborasi lintas disiplin ini penting agar inovasi teknologi dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan aspek kesehatan masyarakat, sehingga menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan efisiensi dan keberlanjutan rantai pasok pangan nasional.
Masa depan ketahanan pangan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita untuk bertransformasi dan berinovasi. AI dan IoT adalah alat penting yang harus digunakan dengan bijak untuk menghadirkan solusi berkelanjutan di sektor pangan.
Dengan langkah yang tepat dan kebijakan yang mendukung, kita bisa memperkuat rantai pasok pangan kita dan menjawab tantangan masa depan dengan lebih percaya diri. Di dunia yang semakin terhubung ini, penggunaan teknologi menjadi bukan hanya kemewahan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Dengan menjadikan teknologi sebagai inti dari strategi ketahanan pangan, kita berkomitmen untuk masa depan yang lebih aman bagi semua.
(Penulis : Leenawaty Limantara Ph.D Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Industri UK Petra Surabaya)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.