BESTTANGSEL.COM, JAKARTA-  Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) bersama dengan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU), dalam rangka memperingati International Youth Day atau Hari Remaja Internasional tahun 2021, menyelenggarakan Indonesian Students Conference (ISC) yang bertajuk “Accelerating SDGs through EduTech” melalui pertemuan yang diadakan secara online, Sabtu (21/08).

Terdapat tiga tema yang diangkat dalam konferensi, yaitu: sikap inklusif, perdamaian, dan pengendalian konsumsi rokok di kalangan remaja, yang sejalan dengan kemajuan teknologi. Melalui deklarasi yang dibacakan oleh peserta konferensi yang dihadiri oleh 155 pelajar di Indonesia, mereka mendorong dan menekankan pemerintah akan pentingnya inklusivitas dan perdamaian yang berkelanjutan, serta pentingnya pengendalian konsumsi rokok di kalangan remaja untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs)/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tahun 2030.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Indonesian Students Conference (ISC) menjadi wadah untuk para pelajar di Indonesia dalam meningkatkan wawasan mereka terhadap SDGs.

Pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi membuat Indonesia semakin mudah dalam memperoleh berbagai macam informasi. Pelajar/remaja harus menjadi lebih cerdas dalam bertindak dan memanfaatkan berbagai macam platform digital.

Sejumlah konflik di Indonesia maupun dunia secara luas yang berlatar belakang agama, ras, suku dan kelompok berbeda yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir tampak semakin mengkhawatirkan. Kenyataan ini menandakan semakin memudarnya semangat perdamaian dalam kehidupan. Hal itu dipicu oleh adanya paham dan ideologi ekstrem-radikal yang mengatasnamakan doktrin keagamaan.

Untuk mewujudkan cita-citanya, mereka menggunakan berbagai macam cara, di antaranya dengan membujuk para pemuda untuk melaksanakan agenda dan tujuan mereka. “Perdamaian bukan sekedar soal ketiadaan kekerasan atau pun situasi yang anti kekerasan. Lebih jauh dari itu, perdamaian seharusnya mengandung pengertian keadilan dan kemajuan. Budaya damai itu menyangkut pola pikir, cara bersikap, perilaku, karakter, mentalitas, keyakinan, pola hubungan dengan pihak lain, tata kehidupan bersama yang ditandai dengan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kesetaraan, demokrasi, dan solidaritas. Oleh karena itu, untuk membangun budaya damai harus dilakukan sejak dini melalui pembentukan karakter generasi muda.” Jelas Judi Wahjudin (Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi).

Kemajemukan di Indonesia seringkali terusik oleh perilaku sejumlah pihak tertentu yang mengatasnamakan perbedaan latar belakang. Indonesia sebagai negara dengan multikulturalisme dan pluralisme, memiliki tantangan untuk keluar dari ekslusivitas dalam berbagai hal. Sebagai syarat membangun kesadaran multikultural di tengah arus globalisasi, perlu adanya proses penyadaran akan pentingnya sikap inklusif/sikap terbuka. Inayah Wahid (Founder Positive Movement) yang turut hadir dalam konferensi ini menjelaskan bahwa sikap inklusif memungkinkan seseorang berdialog dengan orang lain yang berbeda latar belakang agama, etnis, budaya, dan sebagainya. Inklusivisme dilandasi dengan toleransi. Sikap terbuka akan berdampak pada relasi sosial yang bersifat sehat dan harmonis antar sesama warga masyarakat. Dalam hal ini, sikap inklusif juga harus ditanamkan sejak dini, terutama oleh generasi muda sebagai penerus bangsa.

Anak-anak dan remaja adalah generasi penerus bangsa yang harus diperhatikan kesejahteraannya dan dipastikan tumbuh kembangnya berjalan baik untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sehingga dapat membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik dan mampu bersaing secara global.

Risky Kusuma Hartono dari PKJS-UI menjelaskan bahwa salah satu permasalahan yang sedang dihadapai Indonesia adalah meningkatnya prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun, dari 7,2% tahun 2013 menjadi 9,1% tahun 2018 (Riskesdas, 2018). Angka ini jauh dari target RPJMN 2019, yaitu 5,4%. Selanjutnya Pemerintah memiliki target RPJMN tahun 2024 yaitu menurunkan prevalensi perokok anak sebesar 8,7%. Harga rokok yang murah dan pengaruh teman sebaya berkaitan dengan prevalensi perokok anak di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin mahal harga rokok maka semakin kecil peluang anak merokok, serta setiap kenaikan 10% teman sebaya yang merokok dapat meningkatkan peluang seorang anak untuk merokok sebesar 1-2% (PKJS-UI, 2020). Selain itu, para pelajar juga semakin kerap terpapar iklan atau promosi rokok dari berbagai media, yaitu televisi (65,2%), media luar ruang (60,9%), dan internet atau media sosial (36,2%) (Global Youth Tobacco Survey, 2019).

Risky menambahkan bahwa konsumsi rokok sangat penting untuk dikendalikan karena dampaknya yang multidimensi. Menurutnya, menaikkan harga rokok setinggi-tingginya menjadi pengendalian yang efektif agar para remaja tidak mudah dalam menjangkau rokok. Tentu hal ini juga harus diikuti oleh pengendalian konsumsi rokok lainnya, seperti pelarangan penjualan rokok secara batangan.

Setyo Budiantoro dari Sekretariat SDGs menekankan bahwa anak muda memiliki peran yang penting dalam mendorong pengendalian konsumsi rokok di Indonesia untuk mendukung target pencapaian SDGs tahun 2030 mengenai penurunan prevalensi penduduk usia ≤18 tahun yang tertuang dalam indikator tujuan SDGs nomor 3 poin 3.4.1 (a), mengingat prevalensi perokok anak dan remaja yang sangat tinggi. Margianta Surahman dari Indonesian Youth Council for Tobacco Control (IYCTC) mengajak kaum muda untuk kritis terhadap rayuan industri rokok lewat CSR dan filantropinya yang bertujuan menutupi dampak negatifnya terhadap kesehatan publik Indonesia.

Konferensi ini menghasilkan sebuah deklarasi yang mendorong dan menekankan pemerintah akan pentingnya inklusivitas dan perdamaian yang berkelanjutan, serta pentingnya pengendalian konsumsi rokok di kalangan remaja untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs)/ Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tahun 2030. “Dengan adanya pemahaman sejak dini, diharapkan para pelajar memahami dan mampu menanamkan nilai-nilai inklusivitas dan perdamaian. Perbedaan latar belakang tidak boleh menjadi penghalang dalam upaya saling menghormati, menghargai, dan kerjasama dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus menciptakan situasi yang seimbang dan harmoni, yang tidak berat sebelah bagi pihak yang kuat tetapi sama-sama sederajat dan seimbang bagi semua pihak.” Tutur Nurul Hidayatul Ummah, Ketua Umum PP IPPNU.

Terkait dengan pengendalian konsumsi rokok, Nurul Hidayatul Ummah mengatakan bahwa IPPNU senantiasa berperan aktif untuk mendorong pemerintah dalam menerapkan kebijakan pengendalian konsumsi rokok yang kuat dan berdampak untuk melindungi masyarakat, terutama anak dan remaja dari adiksi rokok. “Melalui kegiatan ini, IPPNU, PKJS-UI, dan peserta konferensi merumuskan deklarasi yang ditujukan kepada pemangku kebijakan, diantaranya mendorong kenaikan cukai hasil tembakau setinggi-tingginya agar harga rokok tidak terjangkau, pelarangan iklan, promosi dan sponsorship rokok, penerapan kawasan tanpa rokok di seluruh wilayah kabupaten/kota, dan adanya regulasi yang yang kuat untuk mengatur rokok elektronik. Selain itu pengambil kebijakan juga harus melibatkan suara kaum muda dalam semua proses pembuat kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia. Hal ini selain untuk mendorong pencapaian SDGs, juga mendukung Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul, yang juga dicita-citakan oleh Presiden kita, Bapak Joko Widodo,” tutup Nurul. (Red/*)

Leave a Reply