BESTTANGSEL.COM,  BOGOR- Bertepatan dengan hari ke-18 Ramadhan 1442 Hijriah, bertempat di Musholla Nurul Huda RT. 001/RW. 09 Desa Cibadung, Kecamatan Gunung Sindur Bogor, melakukan pengukuhan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Cibadung Kecamatan Gunung Sindur Masa Khidmat 2021 -2026.

Acara dimulai dengan pembukaan yang dilanjutkan dengan pembacaan tawasul atau berkirim doa yang dipimpin oleh Ust. Naning dan diikuti oleh jamah yang hadir. Acara berikutnya adalah pengukuhan pengurus yang dipandu oleh Ust. Sasmuri yang sekaligus juga pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC NU) Kecamatan Gunung Sindur.

Dalam pengantarnya Ust. Sasmuri menceritakan bagaimana keberadaan NU di masyarakat. Dia juga menekankan bahwa NU identik dengan pengajian dan kegiatan sosial masyarakat dan tidak berpolitik.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Tanfidziyah, Ust. Dudung Ihwantoro. Dalam sambutannya beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pengurus terpilih karena telah bersedia menjadi pengurus seperti dirinya. Ust. Dudung menyampaikan bahwa dia bersedia menjadi ketua karena dua alasan. Alasan pertama karena tidak ada yang bersedia menjadi ketua, adapun alasan kedua adalah ingin menghidupkan kembali marwah Nahdiyin khususnya di Desa Cibadung agar ciri khas ahlus sunnah waljamah benar-benar hidup dan diamalkan oleh masyarakat.

Pada kegiatan tersebut juga diisi tauziah atau ceramah agama atau dalam istilah NU disebut dengan Mauidzoh Hasanah oleh Ust. Ahmad Ali dari Jampang, Bogor. Penceramah sekaligus pengurus NU di Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Kabupaten Bogor. Ust. Ahmad Ali sangat mengapresiasi dengan terbentuknya pengurus ranting NU Desa Cibadung, Kecamatan Gunung Sindur. Dalam tausyiahnya, beliau menceritakan sedikit sejarah NU yang identik dengan pengajian.

“Dalam kelaziman NU pengajian harus meruntut sesuai sanad atau silsilah sumber ilmu yang disampaikan misalnya KH. Hasim Asyari (Pendiri NU), mendapatkan ilmu dari gurunya Syech Mahfudz At-Termasi, kemudian Syech Mahfudz At-Termasi dari gurunya Muhammad An Nawawi Banten. Urutan sanad selanjutnya adalah Ahmad Khotib Sambas Kalimantan, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Imam Ad Dasuqy, Imam Al Bajury,  Abu Abdillah Muhammad As Sanusi, Abidin Al Izzy, Muhammad bin Umar Fakhrur Raazi, Abdul hamid Assyeikh Irsani, Al Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali, Al Imam Abdul Malik Imam Haromain Al Juwainy, Al Imam Abu Bakar Al Baqilany, Al Imam Abu Abdillah Al Bahily, Al Imam Abu Hasan Alaasyariy,  Al Imam Abu Ali AdzubaI,  Al Imam Abu Hasi AdzubaI,  Al Imam Abu Huzail Al-Alaq, Al Imam Ibrohim Annadhom,  Al Imam Amr bin Ubaid, Al Imam Wasil bin Atho, Muhammad (Putra Sayidina Ali, dari istri kedua Kaulah bin Jafar), Al Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallaahu Wajhahu, Sayyidul Wujud Insanul Kamil Nabi Muhammad Rasulullah SAW.,” papar Ust. Ahmad Ali.

Menurutnya, tujuan memahami sanad agar ilmu yang disampaikan dapat dipertangungjawabkan, karena sekarang ini banyak beberapa orang yang baru bisa belajar agama yang mungkin saja hanya berdasarkan sumber dari google kemudian mengkafir-kafirkan muslim lain yang tidak sesuai dengan amalannya.

Ust. Ahmad Ali juga kemudian melanjutkan tauziahnya dengan memaparkan keistimewaan bulan Ramadhan, di mana terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat penting seperti terjadinya perang Badar, di mana pasukan muslim yang berjumlah 313 orang sanggup memenangkan peperangan melawan 1000 pasukan Quraisy, peristiwa lainnya adalah diturunkannya ayat-ayat Al-Quran pada malam 17 Ramadhan yang dikenal dengan Nuzulul Quran. Kemudian adanya malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang dipercayai oleh umat muslim sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Terkait dengan pengukuhan pengurus ranting NU yang bertepatan dengan Ramadhan, beliau juga mendoakan semoga pertanda dari permulaan yang baik bagi organisasi NU khususnya di desa Cibadung.

Pada bagian penutup penceramah juga mengajak jamaah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan mendahulukan kewajiban daripada ibadah sunah. Karena wajib diibaratkan angka, sedangkan sunah adalah nol-nolnya. Jika nol banyak tanpa adanya angka tentu tidak akan ada nilanya.

Acara dikahiri dengan buka puasa bersama yang dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah.

Adapun Susunan Pengurus terpilih sebagai berikut:
Mustasyar:
Ust. Mad Qosim
Ust. Uci Sanusi
Ust. Saad
Ust. Asep Saefulloh
Ust. Tono
Rois Syuriah:
Kyai Maruf (Ketua)
KH. Ahmad Rosyadi (Wakil Rois)
Ust. Samsuri (Wakil Rois)
Ust. Naning (Wakil Rois)
Ust. Madroji (Wakil Rois)
Katib:
Marji Suherman, S.Pd. (Ketua)
Ust. Riswo, S.M. (Wakil Katib)
Ust. Utin Setiadi (Wakil Katib)
Ust. Tian (Wakil Katib)
Ust. Ihwan (Wakil Katib)
Awan:
H. Ashari
H. Samin
Ust. Ahmad Supriyadi
Ust. Mansyur
Ust. Lomri
Tanfidziyah:
Ust. Dudung Ihwantoro (Ketua)
Ust. Uding (Wakil Ketua)
Ust. Nurrofik (Wakil Ketua)
Ust. Haerudin (Wakil Ketua)
Ust. Salim (Wakil Ketua)
Harjoyo, S.E., M.M. (Sekretaris)
Asep Sopian Hadi, S. Ag. (Sekretaris)
Ust. M. Yusuf (Bendahara)
Ust. Niman (Bendahara

“Semoga kita semua diberikan keberkahan di bulan yang penuh kemuliaan ini, Aamiin,” tutup ust. Ahmad Ali. (Harjoyo, S.E., M.M)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.