BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan – Sedikitnya 3 orang terluka dan terpapar radiasi nuklir akibat telah terjadinya tabrakan antara mobil pembawa bahan radioaktif di kawasan Puspiptek Serpong Tangerang Selatan, Kamis (6/12). Meski sempat terjadi kepanikan, namun berkat kesiapsiagaan petugas keamanan yang berjaga di Puspiptek, yang dengan segera memanggil tim rescue dari Nuklir Biokimia (Nubika) TNI AD, tim medis Puspiptek, kecelakaan tersebut pun bisa diantisipasi dengan baik.

Itu adalah potret simulasi penanggulangan kedaruratan nuklir yang diadakan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (Bapeten) bekerjasama dan berkoordinasi dengan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek).

Kepala Bagian (Kabag) Humas Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasiobal, Abdul Qohhar Eko Prasetyo menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menguji kemampuan tanggap dari masing-masing unsur yang kita libatkan dalam kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan personil dalam menanggulangi kecelakaan, menyempurnakan prosedur, menguji coba peralatan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendukung, menilai, memberikan umpan balik, dan perbaikan yang mendasar terhadap sistem yang tersedia saat ini khususnya di Kawasan Puspiptek serta mengevaluasi koordinasi dan kerjasama dengan satuan unit terkait, seperti BATAN, BAPETEN, Kompi Nubika TNI AD, maupun unsur unsur perespon lainnya.

Tampak team medis sedang melalukan pertolongan terhadap korban.

“Jadi kita menguji respon tanggap mereka ketika menghadapi suatu kondisi kecelakaan transportasi itu bagaimana, dan menguji SOP dari masing-masing unsur yang terlibat apakah sudah mencukupi atau belum,” tutur Eko.

Ia mengatakan, keandalan kemampuan tanggap darurat nuklir atau radiologi itu sendiri, dibangun dan disiapkan melalui implementasi Program Kesiapsiagaan Nuklir.

“Dalam bidang transportasi, kemampuan kesiapsiagaan dan respon tanggap darurat sendiri telah diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2015 tentang Keselamatan Radiasi dan Pengangkutan Zat Radioaktif. Pasal 69 ayat (3) mewajibkan diadakannya pelatihan dan geladi kedaruratan paling sedikit 1 kali dalam 4 tahun,” pungkasnya.

 

Asri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.