BESTTANGSEL.COM, DEPOK- Laparoskopi adalah jenis prosedur bedah yang memungkinkan dokter bedah untuk masuk ke bagian dalam tubuh manusia tanpa harus membuat sayatan yang besar di kulit. Prosedur ini juga dikenal sebagai operasi lubang kunci atau operasi minimal invasif (invasive surgery).

“Tindakan laparoskopi dengan menggunakan alat laparoskop, adalah untuk menghindari sayatan besar yang biasa dilakukan pada operasi konvensional. Laparoskop berbentuk seperti sebuang tabung kecil. Alat ini dilengkapi dengan cahaya dan kamera berfungsi untuk menyampaikan gambar bagian dalam perut atau organ tubuh lain ke monitor di luar,” tutur dr Bambang Budiarto, Sp.B, dokter spesialis Bedah dari RS Brawijaya Depok, saat ditemui, Senin (21/3/2022).

Menurut dr Bambang, metode ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. “Tahun 1995 tindakan laparoskopi booming di Indonesia. Cara ini banyak dipilih karena memiliki beberapa keuntungan. Di antaranya adalah waktu pemulihan lebih cepat, mengurangi rasa sakit dan perdarahan setelah operasi, dan mencegah timbulnya jaringan parut.”

“Laparoskopi merupakan tindakan bedah atau operasi yang digunakan untuk mendiagnosis atau merawat berbagai macam penyakit. Dalam operasi laparoskopi, dokter bedah umumnya cukup membuat sayatan kecil dengan panjang sekitar 1 sentimeter. Namanya minimal invasive surgery, jadi operasi invasif yang minimal. Kita tahu operasi itu ada dua, yaitu operasi yang besar (open) sama operasi yang tidak open atau minimal. Disebut minimal karena luka operasinya kecil, masa rawatnya lebih cepat, dan efek dari rusakkan jaringannya lebih rendah,” papar dr Bambang.

Lanjut dr Bambang, “Dari sayatan itu, dokter bedah umumnya memasukkan laparoskopi atau alat berbentuk tabung yang memiliki kamera. Gambar yang ditangkap oleh laparoskop akan ditampilkan pada monitor di ruang bedah yang digunakan dokter untuk menjalani pembedahan atau sekadar pemeriksaan. Pemakaian invasive surgery minimal nggak cuma di bidang bedah umum, tetapi juga di bidang lain-lain, misalnya di bidang ortopedi, tumor, penyumbatan, pendarahan, infeksi usus buntu, batu empedu, fibroid, kista ovarium, endometriosis, dan prolaps panggul.”

“Usus buntu kan secara tradisional itu menggunakan metode operasi open ya, kemudian isi-isinya juga cukup lebar sekitar 5 cm, tapi kalau menggunakan metode invasive surgery ini cuma tiga titik,” ungkapnya.

Menurut dr Bambang, efek samping laparoskopi terbilang minim daripada metode operasi buka (open). Meskipun demikian, metode ini cukup sulit dilakukan apabila pasien memiliki penyakit tertentu, seperti cedera hingga perlukaan pada organ tubuh.

“Efek sampingnya terutama untuk pasien-pasien ada sesuatu yang tidak kita duga. Misalnya, contoh ketika kita operasi batu empedu, terjadi perlukaan pada liver atau terjadi cedera pada bagian saluran empedu yang ke arah liver. Kita agak sulit memperbaikinya dengan menggunakan laparoskopi, pasti kita buka menggunakan metode biasa,” tutur dr Bambang yang mengatakan bahwa tehnik Laparoskopi saat ini telah tersedia di RS Brawijaya Depok. (Red/As)

Leave a Reply