BESTTANGSEL.COM, Tangerang Selatan – Nur Khalik kakek berusia 101 tahun menceritakan kesetiannya kepada istrinya yang kini mengidap diabetes di kampung halaman mereka di Kampung Garon, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dari hasil berjualan abu gosok dan balon karet di sekitar Pisangan, Nur khalik selalu sisihkan uangnya untuk biaya berobat istrinya yang tengah sakit.

“Udah dua tahun istri sakit, di RS Rengas Dengklok enggak diterima katanya enggak sanggup, dibawa ke RS Islam juga, akhirnya ke Purwakarta dirawat tiga hari, harus nyewa mobil satu hari Rp 300.000,” kata Nur Khalik.

Sejak dua tahun lalu, diabetes sudah menggerogoti kesehatan Oni, istri Nur Khalik. Oni kini tak lagi tinggal di rumah dan terpaksa tinggal bersama anak-anaknya agar ada yang merawat.

Nur Khalik menikahi Oni pada 2011 saat berusia 95 tahun. Oni saat ini berusia 60 tahun.

“Kalau kita tua sama tua bukan dari pada cinta, adanya sayang menyayangi, ada yang merawat, pakaian kotor ada yang masih nyuciin,” kata Nur Khalik.

Ketika menikah dengan Oni yang merupakan janda di kampungnya, Nur Khalik sudah memiliki 10 anak dari almarhum istri pertamanya. Adapun Oni memiliki empat orang anak.

Istri pertama Nur Khalik meninggal dunia pada usia 70 tahun. Sejak saat itu, Nur Khalik hidup sendiri, merindukan sosok sang istri.

“Kalau istri enggak meninggal enggak bakal kawin lagi,” kata dia.

Nur Khalik tidak mengingat tepatnya pada tahun berapa menikahi istri pertamanya. Dia hanya ingat saat itu memiliki uang Rp 350 sebagai mas kawin, di masa ketika seekor kerbau seharga Rp 15.000.

Sejak saat itu, kata Nur Khalik, dia hidup bahagia bersama istrinya, saling merawat satu sama lain, dan berhasil menikahkan seluruh anaknya. Nur Khalik bersumpah tidak pernah ribut apalagi selingkuh.

“Bakal apa sih jalan sini jalan sono, itu perempuan mau sama engkong dari susah sampai punya anak 10, itu aja udah yang kita rawat, ngapain yang lain lagi,” ujarnya.

Menjalani dua pernikahan bahagia selama puluhan tahun, kata Nur Khalik, tak pernah sulit. Ia memiliki satu tips kepada para pasangan yang ingin langgeng menjalin hubungan.

“Saya selalu bilang sama istri, kalau saya salah, tolong dimaafin ya. Enggak pernah sekalipun saya menikah ribut-ribut,” ucap dia.

Ketika seorang perempuan dan laki-laki menikah, kata Nur Khalik, hidup, mati, senang, dan susah keduanya menjadi tanggung jawab bersama. Prinsip itu yang membuat Nur Khalik masih gigih menjual abu gosok di usia tuanya.

Dia tidak ingin merepotkan anak-anaknya yang sudah berkeluarga.

“Kalau bapak sama suami elu sakit, yang lu pilih mana? Pasti suami, begitu juga laki-laki, kalau punya rejeki, pasti yang diduluin istrinya,” ucapnya.

Membahagiakan istrinya yang sedang sakit adalah salah satu hal dia pegang kuat dalam hidup. Nur Khalik berencana pulang untuk merawat istrinya sepekan sebelum Lebaran.

Selain ingin membahagiakan istri, dia juga ingin hidup tenang, ingin menolong orang yang kesusahan, ingin menyantuni fakir miskin dan anak yatim piatu, serta ingin mewakafkan masjid.
BR/BS

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.